www.arcocrewek.com

Arcocrewek

Jumat, 04 April 2014

Fakta lain tentang Candi Borobudur

Jika selama ini banyak ilmuwan-ilmuwan mengatakan bahwa negeri saba’ yang diceritakan dalam alquran itu berada di daerah yang sekarang adalah Yaman, maka menurut KH Fahmi Basya, negeri saba’ itu sebenarnya berada di Indonesia. Benarkah? Dalam flying book itu KH Fahmi Basya mengungkapkan dengan bukti-bukti ilmiah bahwa candi borobudur bukanlah hasil kebudayaan Budha, sebagaimana kita ketahui selama ini. Candi borobudur sudah ada sejak lama, jauh sebelum Budha ada di nusantara ini. Berdasarkan penelitiannya, candi borobudur itu bahkan di bangun oleh nabi sulaiman dengan bantuan para jin pada jaman ketika nusantara belum berbentuk seperti sekarang, yaitu masih berupa daratan yang luas. Banyak data dan analisis yang dipaparkan dalam flying book itu sebagai bukti terhadap argumen ini. Untuk mengetahui salah satu bukti argumen itu, sebelumnya ada baiknya kita mengetahui simbol lafadz bismillah. Simbol itu bisa dibuat dengan melukis sebuah 7 buah lingkaran sama besar yang salah satu lingkaran berada di tengah dan dikelilingi oleh 6 lingkaran lainnya. Masing-masing lingkaran mewakili satu huruf pada lafadz bismillah yaitu ba, sin, mim, alif, lam, lam, dan ha’ . Jika keenam lingkaran di luar masing-masing titik pusatnya secara berurutan dihubungkan dengan garis kemudian lingkaran-lingakaran yang diluar itu dihapus, jadilah bentuk itu sebagai segi enam dengan lingkaran di tengahnya. Itulah simbol lafadz bismillah. Sekarang mari kita amati salah satu kontur yang banyak terukir di batu-batu candi Borobudur. inilah kontur itu. ternyata bentuk itu banyak sekali kita temukan pada batu-batu di candi Borobudur. Segi enam dengan lingkaran ditengahnya. Apakah arti bentuk itu? Ternyata simbol segi enam dengan lingkaran di bawahnya adalah simbol lafadz bismillah. Demikianlah salah satu bukti analisa yang disampaikan oleh KH Fahmi Basya dalam flying booknya. Selain itu, dalam flying book tersebut juga diungkapkan secara ilmiah bahwa candi borobudur dahulunya bukan di tempat seperti yang sekarang, melainkan sempat mengalami pemindahan dengan kecepatan pemindahan melebihi kecepatan cahaya (60.000 kali). Hal ini mengakibatkan kontur candi borobudur mengalami peluruhan. Pemindahan candi ini sesuai cerita dalam alqur’an : “Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. (QS.An Naml:40) Selama ini yang sering diungkapkan adalah bahwa pemindahan itu dari yaman ke palestina, namun sesungguhnya bukti nyatanya belum pernah ditemukan. Lalu menurut penelitian KH Fahmi Basya, dimana letak candi Borobudur sebelum dipindahkan? Jawabannya adalah di kawasan candi boko yang terletak di kabupaten bantul. Di kawasan itu nampak bekas-bekas adanya candi besar. Namun, candi besar itu hilang, entah bagaimana hilangnya, yang jelas bukan karena hancur atau runtuh. Bahkan di kawasan candi boko ditemukan serpihan-serpihan sisa candi yang konturnya mirip dengan kontur candi borobudur. Hanya saja, kontur yang ada di kawasan candi boko ini tampak lebih jelas dibandingkan dengan kontur yang ada di candi borobudur. Hal ini disebabkan peluruhan yang terjadi akibat pemindahan dengan kecepatan 60.000 kali kecepatan cahaya tadi. (Lihat gambar) Lebih jauh lagi KH Fahmi Basya membahas sisi lain dari candi borobudur, yaitu bahwa desain candi borobudur sangat kompleks dan memiliki makna yang dalam. Misalnya relief yang ada di dinding-dindingnnya, ukuran volume candi yang membentuk balok al quran ( 23x23x12 = 6348 = jumlah ayat dalam alqur’an berserta basmalah), bahkan bukti foto google art yang menunjukkan bahwa puncak candi membentuk sebuah sebuah garis lurus yang menghubungkannya dengan rukun syaam dan hajar aswad ka’bah. Dan banyak lagi fakta-fakta yang dikemukakan dalam flying book itu. Nama saba’ sendiri, di dapat dari Alqur’an, dimana secara singkat Alqur’an (surat An Naml dan surat Saba’) menceritakan bahwa negeri saba’ dahulu merupakan sebuah negeri yang amat makmur, subur tanahnya dan maju bangsanya. Dalam negeri itu pernah hidup Nabi-Nabi terdahulu seperti nabi daud AS, Nabi Sulaiman AS, dan juga seorang ratu perempuan yang amat melegenda yaitu ratu Bilqis. Namun, negeri itu dimusnahkan oleh Allah SWT dengan sebuah banjir yang amat besar karena kemusyrikan bangsa di negeri itu, yaitu kereka melekukan ibadah menyembah matahari. Sementara itu, dalam sebuah legenda yang sangat terkenal di dunia, konon pernah ada sebuah negeri yang karakteristiknya hampir mirip dengan yang diceritakan alqur’an itu. Negeri itu bernama negeri Atlantis. Negeri itu berada di sebuah daratan yang luas dan subur, dan dihuni oleh bangsa maju dan makmur, unggul dalam hal irigasi pertanian. Daratan luas itulah yang disebut sebagai benua Atlantis yang mana benua itu musnah pada jaman es. Seiring tenggelamnya daratan Atlantis, maka musnahlah negeri Atlantis yang begitu makmur itu. Berdasarkan kemiripan kisah dalam Al Qur’an dan legenda yang berkembang di hampir seluruh penjuru dunia itu, bisa jadi, negeri saba’ yang dimaksudkan dalam Al Quran itu tak lain adalah negeri Atlantis yang dulu mendiami daratan Atlantis yang kini sudah musnah akibat banjir besar di jaman es. Benar atau tidaknya memang masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Selama ini hampir kebanyakan ilmuwan mengatakan bahwa negeri saba’ yang disebutkan dalam Alquran itu terletak di daerah Yaman, bahkan dalam banyak tafsir Al Quran pun mengatakan demikian. Namun, melalui ekspedisi dan penelitiannya, yang hasilnya dibuat dalam bentuk flying boook, KH Fahmi Basya menyimpulkan bahwa bukanlah daerah Yaman letak sebenarnya negeri Saba’ itu, melainkan ia berada di sebuah wilayah dengan pusatnya di pulau Jawa, dimana dahulu wilayah itu mencakup wilayah Indonesia dan masih merupakan sebuah daratan yang luas atau berupa sebuah benua. Berikut saya tuliskan 14 bukti yang dikemukakan oleh KH fahmi Basya yang mengungkapkan bahwa negeri saba’ dalam Al Qur’an itu bukan terletak di Yaman melainkan di Indonesia. PERTAMA. Nama saba’ itu sendiri. “..dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.” (QS. 27:22). Di Indonesia ada nama dan tempat bernama saba’ (tempat pertemuan) dan ada tempatnya. sementara di Yaman tidak ada. Yang ada hanya sabuun(prasasti), tapi tidak ada a=nama tempat bernama saba’ KEDUA. Hutan saba’. “Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah hutan (kebun) di sebelah kanan dan di sebelah kiri” (QS.34:14). Disebutkan terdapat hutan sebagai tanda kekuasaan (ayat). Allah menyebut sesuatu sebagai ayat maka berarti sesuatu tersebut tidak akan hilang dan tetap dapat di amati oleh manusia. Sebagaimana dalam QS 54.15 Allah menyebut kapal nabi nuh sebagai ayat dan itu kita temukan. Maka sesuai sebutan “ayat” itu seharusnya hutan itu juga bisa ditemukan atau pastilah hutan saba’ itu masih ditemukan. Kita bisa buka dalam kamus bahasa jawa kawi, HUTAN dalam bahasa jawa adalah WANA, dan SABA’ berarti PERTEMUAN. Jadi hutan saba’ itu ada di pulau jawa yaitu WANASABA=WONOSOBO Ada juga nama sleman yang berasal dari kata sulaiman. Sementara di Yaman tidak diketemukan nama-nama semacam itu. KETIGA. Tempat bersujud (menyembah) kepada matahari. “Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah (bersujud kepada) matahari…”(QS. 27:24). Di Yaman tidak dijumpai tempat semacam itu, sementara di Indonesia tempat semacam itu ada yaitu di kawasan bukit candi Boko. Disana ada tempat yang digunakan untuk menyembah matahari yang berupa bangunan di atas bukit menghadap ketimur, ke arah matahari terbit. KEEMPAT. Bangunan di lembah semut. “Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab[1097]: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku …”(QS. 27:40). Di Yaman tidak ada bangunan semacam ini, tapi di Indonesia ada, yaitu candi Borobudur. candi Borobudur terletak di sebuah lembah, dan itulah lembah semut, lembah terindah di dunia. KELIMA. Fakta pemindahan. Ada bekas stupa di candi Boko (36 km dari candi Borobudur), dimana tekstur bekas stupa itu sangat mirip dengan yang ada di candi borobudur. di Yaman tidak ada. KEENAM. Sidrin qolil. “…sesuatu yang disebut sidrin Qolil”(qs. 34:16). Di indonesia sidrin qolil ini masih ada sampai sekarang, yaitu terdapat di candi Boko, sementara di Yaman tidak ada. KETUJUH. Buah yang rasanya pahit, dan menjadi buah mulut (cerita rakyat). “…dan kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit…”(QS. 34:16). Di Indonesia ada buah yang rasanya pahit yaitu buah MAJAPAHIT, di Yaman tidak ada. KEDELAPAN. Sisa banjir. “… Maka kami datangkan kepada mereka banjir yang besar…”(QS.34:16). Di Yaman disebutkan banjir ini disebabkan runtuhnya bendungan Ma’rib (sebesar bendungan situ gintung) tapi banjir yang semacam ini terlalu kecil untuk memusnahkan sebuah negeri. Tapi di Indonesia banjir itu ada yaitu banjir sangat besar yang menenggelamkan dataran/dangkalan sunda, mengakibatkan Indonesia terbagi menjadi banyak pulau. Fakta sejarah mengungkapkan bahwa dulu nusantara merupakan satu wilayah daratan yang luas sebelum menjadi wilayah kepulauan. KESEMBILAN. Bukti bahwa negeri saba’ telah dihancurkan sehancur-hancurnya. “Maka kami jadikan mereka buah mulut dan kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur.” (QS.34:19). Di Indonesia fakta jelas mengatakan bahwa wilayah nusan tara yang dulunya satu daratan, setelah banjir besar di jaman es terbagi menjadi 17.000 pulau. Dari 1 menjadi 17.000. dalam sejarah dunia belum pernah ada daratan yang karena suatu kejadian kemudian menyebabkannya terbagi menjadi 17.000 bagian. Inilah maksud dari dihancurkan sehancur-hancurnya. Semantara di Yaman tidak ada fakta semacam itu. SEPULUH. “…Kami bataskan padanya perjalanan…”(QS.34:18). Setelah banjir besar, maka perjalana darat menjadi terbatas karena pulau-pulau dibatasi lautan. Sementara di Yaman tidak ditemukakan fakta ini. SEBELAS. Jarak terbang ideal. “Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.”(QS.27:22). “Pergilah dengan (membawa) suratku ini”(QS.27:28) jarak pemindahan istana adalah sejauh jarak terbang burung (36 km). di Indonesia jarak ideal ini ada Yaitu jarak candi Borobudur-candi Boko. Sementara kalo di Yaman, jarak antara Yaman-Palestina terlalu jauh. KEDUABELAS. “Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu.” (QS.34:21). Jadi pastilah Allah memelihara negeri saba’ yang menjadi ayat (tanda kekuasaan) Nya itu. Di Yaman sudah tidak ada, sementara di Indonesia masih ada. KETIGABELAS. Surat dari Nabi Sulaiman untuk ratu Balqis. “Berkata ia (Balqis): “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “bismillahirrahmaanirrahiim” (QS. 27:29-30). Di Indonesia ada bukti yang ditemukan di istana ratu boko berupa lempengan/plat emas bertuliskan bismillahirrahmaanirrahiim. Di Yaman tidak ada. KEEMPATBELAS. Gedung yang tinggi. “Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku).”(QS.34:13). Di Indonesia jelas ada yaitu candi borobudur, sedangkan di Yaman tidak ada. Bagaimana tanggapan para pembaca setelah membaca artikel ini

Kamis, 03 April 2014

Sejarah Gathot Koco

Legenda Gatot Kaca Alkisah dalam pengasingannya selama dua belas tahun Pandawa sempat mengembara sampai di sekitar Pegunungan Dieng. Dua belas tahun bukan waktu yang singkat untuk berputar-putar hanya di sekeliling India. Bhima dapat menaklukkan Raja Raksasa Harimba, penguasa hutan di pusat pulau Jawa. Adik sang raja, Harimbi jatuh cinta kepada Bhima, ksatria tinggi besar kuat berotot layaknya raksasa tetapi gagah penampilannya, tidak seperti raksasa yang rewo-rewo. Harimbi adalah raksasa wanita, akan tetapi hatinya sudah lembut, evolusi jiwanya mendahului penampilannya. Dewi Kunti, ibu Bhima yang waskita memahami wanita yang cocok sebagai pendampingi sang putra, maka dia ‘memoles’ Harimbi dengan ‘operasi plastik zaman kuna’ menjadi wanita yang cantik, sehingga Bhima jatuh cinta. Dewi Kunti mendapatkan banyak ilmu dari Resi Durwasa, termasuk ilmu mendatangkan Dewa dan mempercantik wanita. Dewi Kunti juga ingat nasehat dari keponakannya, Prabu Kresna untuk menggunakan perkawinan sebagai pengikat persaudaraan. Sehingga seluruh Nusantara akan mendukung Koalisi Pandawa dalam berperang melawan Koalisi Korawa. Gatotkaca mempunyai benih bawaan unggul kombinasi dari Bhima dan Harimbi. Sebagai raja muda di Pringgadani, Gatotkaca dalam Wayang Kulit Purwa digambarkan berujud raksasa, lengkap dengan taringnya. Namun sejak Susuhunan Paku Buwana II memerintah Kartasura, penampilan peraga wayang Gatotkaca dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa diubah menjadi ksatria tampan dan gagah, dengan wajah mirip Bima. Penampilan Gatotkaca yang khas adalah kumisnya yang lebat, sehingga di Jawa seseorang yang berkumis lebat dipuji sebagai ‘keren’ bak Gatotkaca. Banyak nama Gatot di Jawa, karena orang tua sang anak berharap puteranya menjadi pahlawan Nusantara. Di tahun enampuluhan seorang anak yang melakukan sunatan sering diberi pakaian Gatotkaca dengan topi wayang, baju kotang bergambar bintang delapan, memakai badong, semacam hiasan punggung dan tentu saja kumis hitam dari bubuk arang.     Konon nama Kali Serayu sendiri berasal dari Sir Ayu, cinta kepada wanita ayu yaitu cintanya Bhima kepada Harimbi. Mata Air Kali Serayu berasal dari daerah sekitar Wonosobo yang bernama Tuk Bimo Lukar, Mata Air Bhima Lepas Pakaian. Arca Kunto Bimo bahkan ditempatkan di Candi Borobudur, Kabupaten Magelang sebagai tanda bahwa Raja pembangun Candi Borobudur yang beragama Buddha pun menghormati Bhima, idola masyarakat setempat. Arca Bimo atau Kunto Bimo menggambarkan Bhima duduk bersila dengan sikap tangan dharmacakramudra. Ini isyarat pergerakan roda dharma. Bhima dalam perjalanan spiritualnya di Samudera Hindia menemukan jati dirinya setelah bertemu Dewa Ruci yang lidahnya berupa Acyntia, Yang Tak Dapat Diserupakan, kemudian dirinya digambarkan berada di dalam stupa dan telah mencapai ke-Buddha-an. Setiap ada kunjungan tamu negara, selalu ada acara merogoh stupa Kunto Bimo. Merogoh Kunto Bimo bahkan dianggap sebagai kepercayaan dalam tradisi setempat. Jika wanita berhasil menyentuh jempol kaki patung Buddha, atau pria menyentuh kelingking patung Buddha, maka keinginannya akan terkabul.   Di dataran tinggi Dieng terdapat Candi Bhima, Candi Arjuna dan Candi Gatotkaca, selain juga ada Candi Semar. Juga terdapat Kawah Candradimuka, konon kawah tempat Gatotkaca digembleng menjadi ksatria perkasa. Terdapat juga legenda masyarakat sekitar Banyumas, bahwa kaum Korawa selalu memata-matai kegiatan Pandawa dalam pengasingannya. Dalam salah satu perkelahian mereka kemudian berlomba membuat kali sudetan ke Samudera Hindia. Bhima dengan kuku pancanakanya yang seakan menjadi kapal keruk berhasil menang menyudet kali dari pusar tanah Jawa ke Samudera Hindia melalui daerah Banyumas dan Cilacap. Sedangkan Korawa salah arah sehingga sungai yang digalinya malah bermuara di kali buatan Pandawa. Oleh Resi Bhisma kali Pandawa di sebut Serayu sedangkan kali Kurawa disebut Klawing. Tempat Bhima melepas pakaian bekerja bakti disebut Tuk Bimo Lukar.   Kelahiran Gatotkaca   Kelahiran Gatotkaca menimbulkan kejadian yang menggemparkan. Tali pusarnya tidak dapat diputus dengan berbagai macam senjata keris dan panah. Alkisah Arjuna dan Karna sedang bertapa di tempat berbeda untuk mendapatkan senjata sakti sebagai persiapan perang di kemudian hari. Bathara Narada pembawa karunia senjata panah Kuntawijayadanu pun sulit membedakan kedua satria putra Dewi Kunthi tersebut. Dewa Surya memberi penerangan kepada tempat Karna bertapa, sehingga Narada memberikan senjata tersebut kepada Karna. Akan tetapi karena dia melihat tersirat semacam ketidak baikan dalam diri Karna, maka dia hanya memberikan Panahnya, sedangkan Sarungnya diberikan kepada Arjuna yang bertapa di tempat lain. Dengan berbekal sarung senjata Kuntawijayadanu tersebut, Arjuna memotong tali pusar Gatotkaca, akan tetapi sarung tersebut hilang masuk ke dalam diri Gatotkaca, sehingga Bayi Gatotkaca menjadi sakti. Setelah dewasa Gatotkaca tidak lupa kepada kebaikan sang paman, Arjuna dan pada hari ke lima belas perang Bharatayuda, dia mengorbankan diri untuk melenyapkan senjata Karna, agar pamannya dapat memenangkan pertarungan.   Setelah tali pusarnya putus, Gatotkaca dibawa Bathara Narada ke kahyangan untuk melawan Raksasa Kala Sakipu dan Kala Pracona. Karena Gatotkaca telah menyatu dengan sarung Kuntawijayadanu, maka Bayi Gatotkaca tidak dapat dibunuh mereka bahkan sempat menggigit mereka sehingga kedua raksasa itu mati. Oleh Bathara Guru, Gatotkaca diberi tiga karunia. Karunia pertama adalah “Kotang Antakusuma” yang membuat Gatotkaca dapat terbang dengan cepat. Karunia kedua adalah topi bernama “Caping Basunanda”, yang mempunyai kesaktian apabila kena panas tidak terasa panas dan apabila kena hujan tidak menjadi basah. Karunia ketiga, berupa sepatu “Pada Kacarma” yang mempunyai kesaktian tidak akan terkena pengaruh dari suatu tempat.   Cinta membuat Gatotkaca lalai   Ketika menginjak dewasa Gatotkaca jatuh cinta pada Dewi Pergiwa, puteri dari Arjuna dan adik dari Abimanyu. Gatotkaca adalah seorang tokoh yang tahu balas budi. Karena Arjuna yang dapat memotong tali pusarnya kala dia masih bayi, maka dia selalu menghormati keluarga Arjuna, pamannya sendiri. Sejak kecil Gatotkaca dirawat Arya Kalabendana, adik ibunya yang paling kecil. Kalabendana yang berwujud raksasa kunthing, cebol mempunyai karakter sangat jujur, setia, suka berterus terang dan tidak bisa menyimpan rahasia. Dia sangat mencintai Gatotkaca keponakannya. Pada suatu hari, Gatotkaca bepergian bersama Abimanyu, sedangkan Dewi Siti Sundari putri Prabu Kresna yang menjadi istri Abimanyu ditinggalkan bersama Arya Kalabendana. Karena perginya berhari-hari tidak kembali, Dewi Siti Sundari meminta Arya Kalabendana mencari mereka. Dengan membaui keringat keponakannya Gatotkaca, Arya Kalabendana dapat menemukan Abimayu dan Gatotkaca yang sedang berada di kerajaan Wirata. Abimanyu sedang berkasih mesra berselingkuh dengan Dewi Utari. Begitu melihat hal tersebut, Arya Kalabendana berteriak, agar Gatotkaca dan Abimanyu cepat pulang, Dewi Siti Sundari di rumah amat cemas karena mereka belum pulang.   Dewi Utari, paham kalau Abimanyu sudah punya istri, dan sangat kecewa karena telah mengelabui dirinya. Dewi Utari memberikan laknat sumpah bahwa besok dalam perang Bharatayuda Abimanyu akan mati mendapatkan luka arang kranjang, banyak luka bersamaan pada tubuhnya. Gatotkaca marah dan menampar Arya Kalabendana, dan tanpa sadar tangan dengan kesaktian Bajramusti, Vajra Shakti, Tangan Geledek nya langsung mematikan pamannya. Sebelum meninggal, mata Arya Kalabendana berair, berkata lirih, “Dalam perang Bharatayuda kamu pun akan terbunuh oleh pamanmu sendiri”. Gatotkaca menyesal, akan tetapi dia menyadari bahwa seserorang yang menanam benih, pada waktunya tentu akan memanen hasilnya. Gatotkaca sadar paman yang dimaksudkan arya Kalabendana adalah Adipati Karna, putera Eyang Putri Dewi Kunti lain kakek.   Alam kembali menorehkan catatannya, tidak ada hal baru di dunia ini. Catatan lama berulang dengan berganti “setting”. Delapan ribuan tahun sebelumnya dalam zaman Prabu Arjuna Sasrabahu, Raden Sumantri tanpa sengaja membunuh adiknya Raden Sukrasana yang amat sayang kepadanya, sehingga dia pun mati di tangan Rahwana. Kali ini, Gatotkaca tanpa sengaja membunuh pamannya yang sangat sayang kepadanya, dan dia pun akan mati dalam perang Bharatayuda oleh Adipati Karna. Bukan secara kebetulan , kalau gambaran Raden Sukrasana dan Arya Kalabendana tidak banyak berbeda, seorang raksasa cebol dengan lidah celat sakti dan penuh kasih sayang. Jangan menyepelekan orang yang berjasa walau bagaimanapun penampilannya.   Pahlawan dalam perang Bharatayuda   Bagi Raden Gatotkaca: “Bagiku dharma-ku adalah sebagai perajurit untuk maju berperang, sangha-ku adalah Pandawa, persaudaraan pembela kebenaran, Kendra-ku, pusat tujuanku adalah Prabu Kresna”.   Dalam perang Baratayuda Gatotkaca diangkat menjadi senapati dan gugur pada hari ke-15 oleh senjata Kuntawijayadanu yang dipanahkan oleh Adipati Karna. Senjata Kunta Wijayadanu itu melesat menembus perut Gatotkaca melalui pusarnya dan masuk ke dalam sarungnya yang menyatu di perut Gatotkaca. Saat berhadapan dengan Adipati Karna sebenarnya Gatotkaca sudah tahu akan bahaya yang akan mengancam jiwanya. Dia ingat hutang nyawanya terhadap pamannya yang akan segera dilunasinya. Ketika Adipati Karna memanahkan senjata Kuntawijayadanu, dia terbang amat tinggi. Namun senjata sakti itu terus saja memburunya, bak peluru kendali, seakan dibantu ruh paman Kalabendana yang pernah dizaliminya, sehingga akhirnya Gatotkaca gugur. Gatotkaca ingat pelajaran dari Kumbakarna yang sebelum matipun perlu memusnahkan musuhnya sebanyak mungkin. Ketika jatuh ke bumi, Gatotkaca berusaha agar jatuh epat pada tubuh Adipati Karna, tetapi senapati Kurawa itu waspada dan cepat melompat menghindar sehingga kereta perangnya hancur berkeping-keping dan semua senjata yang berada di dalam keretanya meledak dan membunuh banyak pasukan Kurawa.   Sebenarnya, sewaktu berhadapan dengan Gatotkaca, Adipati Karna enggan menggunakan senjata Kuntawijayadanu. Ia merencanakan hanya akan menggunakan senjata sakti itu bila berhadapan dengan Arjuna. Namun ketika Raja Duryudana menyaksikan betapa Gatotkaca telah menimbulkan banyak korban dan kerusakan di pihak Kurawa, ia mendesak agar Karna menggunakan senjata pamungkas itu. Hal itu tidak lepas dari strategi Prabu Kresna untuk melenyapkan Senjata Kuntawijayadanu yang hanya dapat digunakan sekali saja, sehingga Arjuna dapat memenangkan pertempuran.   Pada waktu perang Bharatayuda, Gatotkaca sudah mempunyai tingkat spiritual yang tinggi akibat didikan Harimbi dan Bhima serta ajaran dari Prabu Kresna. Gatotkaca sudah sadar bahwa sebagai abdi, sebagai hamba, yang yakin akan keilahian Prabu Kresna, maka dia wajib patuh terhadap apapun perintah Kendra-nya, Prabu Kresna. Di Nusantara, Gatotkaca sudah mendapat pelajaran dari ibunya tentang bagaimana Raden Sumantri melakukan bakti kepada seorang PrabuArjuna Sasrabahu titisan Batara Wisnu. Kini dia akan mengulanginya kepada Prabu Kresna, titisan Batara Wisnu juga. Bagi seorang abdi atau hamba hanya ada one pointedness, eka grata, satu fokus sehingga dia bekerja tanpa pamrih pribadi lagi. Dalam “bahasa musik karawitan”, seluruh niyaga, penabuh gamelan dengan berbagai alat musiknya wajib patuh mengikuti alunan suara Sang Pembawa Vokal dalam irama yang harmoni. Para perwira, para menteri yang patuh dengan komandan sangat diperlukan dalam mempertahankan kewibawaan suatu negara. Gatotkaca ingat nasehat para leluhurnya di Nusantara yang berpesan bahwa setiap warga harus: “Melu handarbeni, melu hangrungkebi, mulat sariro hangroso wani”terhadap negaranya. Nasehat leluhur tersebut dirumuskan secara resmi oleh Sri Mangkunagara I setelah 5.000 tahun kemudian. Setiap warga harus bertanggung jawab: merasa memiliki, membela dengan penuh pengorbanan, serta mengadakan intropeksi terhadap tindakan bangsanya. Bangsa Indonesia dapat dikatakan mempunyai genetik bawaan Gatotkaca yang diwariskan secara turun-temurun.   Dalam Bhagawad Gita Percakapan Ketiga, Karma Yoga, Prabu Kresna bersabda: “Alam ini memberi apa yang kau inginkan sebagai pengganti persembahanmu. Tetapi bagi yang menikmati pemberian alam tanpa mengembalikan sesuatu, akan dipertimbangkan sebagi seorang pencuri. Ia yang berkarya dengan semangat persembahan menikmati hasilnya, dengan cara demikian ia terbebaskan dari semua kejahatan. Mereka yang mementingkan diri sendiri, dengan cara demikian mereka memperoleh ketakmurnian”. Pelajaran Prabu Kresna kepada paman Arjuna tersebut tiba-tiba meresap ke dalam hati Gatotkaca. Aku harus tidak mementingkan diri sendiri, aku putra Bhima dari Pandawa, aku juga harus tahu balas budi kepada Paman Arjuna yang memotong tali pusarku dan aku harus tunduk kepada Prabu Kresna, titisan Wisnu.

Jumat, 28 Maret 2014

Sejarah runtuhing Mojopahit

Ketika pertama Islam masuk ke Tanah Jawa. Tidaklah semulus yang orang sangka. Sebab Tanah Jawa sudah ada manusia. Juga ada bangsa jin yang menganut kepercayaan kuno. Ada yang menduga mereka adalah penganut Hindu dan Budha. Yakni agama yang pada saat itu berkembang. Namun banyak yang menduga mereka adalah penganut kepercayaan Jawa kuno. Mereka ini dipimpin Sabdo Palon.  Karena paham mereka yang berbeda. Maka ketika Islam masuk disambut dengan peperangan. Bukan perang sembarang perang. Namun perang magic. Perang ilmu-ilmu gaib. Sehingga tidak sedikit ulama Islam yang dikirim dari Mesir tewas dalam peperangan magic itu. Dalam wadah kasar mereka tewas karena tersapu gelombang pasang, semacam tsunami dan sebagainya. Perang itu berlanjut dengan banyaknya jatuh korban di kedua pihak. Maka diutuslah Syekh Subakir(baca juga tentang walisongo), ulama asal Persia (Iran) yang dikenal ahli ilmu ghoib dan bisa melihat bangsa jin. Dengan kedatangan Syekh Subakir benteng pertahanan Sabdo Palon yang super ketat dapat ditembus. Dan banyak bangsa jin atau manusia pengikut Sabdo Palon yang binasa. Melihat keadaan yang tidak menguntungkan itu, Sabdo Palon mengadakan gencatan senjata. Dia mengajak Syekh Subakir berunding dan menghentikan perang. Syekh Subakir menerima ajakan tersebut dengan tangan terbuka. Karena dia juga melihat jalan perundingan jauh lebih baik daripada melanjutkan pertempuran yang tidak ada gunanya. Kemudian terjadilah kesepakatan antara Syekh Subakir dengan Sabdo Palon. Isi kesepakatan itu antara lain, Islam boleh berkembang atau disebarkan di Tanah Jawa tetapi tidak boleh dilakukan dengan pemaksaan. Islam harus menghormati dan menghargai budaya, adat istiadat setempat. Islam tidak boleh memaksa orang yang berbeda keyakinan untuk memeluk agama baru tersebut. Dan kalau orang Islam yang memimpin atau jadi pemimpin harus mengayomi semua orang, semua agama, dan semua kepercayaan. Menjunjung tinggi kearifan lokal. Dan sejak itu Sabdo Palon bersama pengikutnya, termasuk Mbah Petruk moksa. Mereka hilang dari pandangan umum dan tidak mudah dilihat oleh manusia biasa. Hanya mereka yang memiliki kelebihan dan paham ilmu ghoib yang dapat melihatnya. Sebelum menghilang Sabdo Palon sempat berpesan kepada Syekh Subakir. Bahwa suatu ketika dia (Sabdo Palon) atau pengikutnya (Mbah Petruk) akan kembali menunjukan jati dirinya, kalau pemimpin negeri ini tidak amanah. Tidak mencintai rakyat. Hanya berbuat untuk kesenangan dirinya dan kelompoknya saja. Sementara membiarkan rakyat dalam kesengsaraan dan penderitaan. Kemunculan Sabdo Palon dan para pengikutnya, Mbah Petruk untuk menagih janji. Sekaligus mengingatkan agar para pemimpin negeri segera sadar, ingat rakyat, dan ingat bangsa. Kalau tidak. Selain akan banyak lagi bencana yang akan melanda negeri ini. Mereka, para pemimpin pada gilirannnya juga akan menerima bencana. Bahkan bencana yang akan menimpa mereka lebih dasyat, lebih mengerikan, dan menakutkan. Silakah Anda boleh percaya kepada cerita babad Tanah Jawa ini atau tidak. Terserah saja.  Inilah Serat Sabdo Palon Penguasa Ghaib Tanah Jawa

  1. Pada sira ngelingana Carita ing nguni-nguni Kang kocap ing serat Babad Babad nagari Mojopahit Nalika duking nguni Sang-a Brawijaya Prabu Pan samya pepanggihan Kaliyan Njeng Sunan Kali Sabda Palon Naya Genggong rencangira.

Ingatlah kalian semua, Akan cerita masa lalu, Yang tercantum didalam Babad ( Sejarah ) Babad Negara Majapahit, Ketika itu, Sang Prabhu Brawijaya, Tengah bertemu, Dengan Kangjeng Sunan Kalijaga, Ditemani oleh Sabdo Palon dan Naya Genggong

. 2. Sang-a Prabu Brawijaya Sabdanira arum manis Nuntun dhateng punakawan Sabda Palon paran karsi Jenengsun sapuniki Wus ngrasuk agama Rasul Heh ta kakang manira Meluwa agama suci Luwih becik iki agama kang mulya.

Sang Prabhu Brawijaya, Bersabda dengan lemah lembut, Mengharapkan kepada kedua punakawan( pengiring dekat )-nya, Tapi Sabdo Palon tetap menolak, Diriku ini sekarang, Sudah memeluk Agama Rasul (Islam), Wahai kalian kakang berdua, Ikutlah memeluk agama suci, Lebih baik karena ini agama yang mulia.

3. Sabda palon matur sugal Yen kawula boten arsi Ngrasuka agama Islam Wit kula puniki yekti Ratuning Dang Hyang Jawi Momong marang anak putu Sagung kang para Nata Kang jumeneng ing tanah Jawi Wus pinasthi sayekti kula pisahan.

Sabdo Palon menghaturkan kata-kata agak keras, Hamba tidak mau, Memeluk agama Islam, Sebab hamba ini sesungguhnya, Raja Dahnyang ( Penguasa Gaib ) tanah Jawa, Memelihara kelestarian anak cucu ( penghuni tanah Jawa ), (Serta) semua Para Raja, Yang memerintah di tanah Jawa, Sudah menjadi suratan karma (wahai Sang Prabhu), kita harus berpisah


. 4. Klawan Paduka sang Nata Wangsul maring sunya ruri Mung kula matur petungna Ing benjang sakpungkur mami Yen wus prapta kang wanci Jangkep gangsal atus taun Wit ing dinten punika Kula gantos agami Gama Budhi kula sebar ing tanah Jawa.

Dengan Paduka Wahai Sang Raja, Kem
bali ke Sunyaruri (Alam kosong tapi ber-'isi'; Alam yang tidak ada tapi ada), Hanya saja saya menghaturkan sebuah pesan agar Paduka menghitung, Kelak sepeninggal hamba, Apabila sudah datang waktunya, Genap lima ratus tahun, Mulai hari ini, Akan saya ganti agama (di Jawa), Agama Buddhi akan saya sebarkan ditanah Jawa.

5. Sinten tan purun nganggeya Yekti kula rusak sami Sun sajakken putu kula Berkasakan rupi-rupi Dereng lega kang ati Yen durung lebur atempur Kula damel pratandha Pratandha tembayan mami Hardi Merapi yen wus njeblug mili lahar.

Siapa saja yang tidak mau memakai, Akan saya hancurkan, Akan saya berikan kepada cucu saya sebagai tumbal, Makhluk halus berwarna-warni, Belum puas hati hamba, Apabila belum hancur lebur, Saya akan membuat pertanda, Pertanda sebagai janji serius saya, Gunung Merapi apabila sudah meletus mengeluarkan lahar

. 6. Ngidul ngilen purugira Nggada banger ingkang warih Nggih punika wedal kula Wus nyebar agama budi Merapi janji mamai Anggereng jagad satuhu Karsanireng Jawata Sadaya gilir gumanti Boten kenging kalamunta kaowahan.


Kearah selatan barat mengalirnya, Berbau busuk air laharnya, Itulah waktunya, Sudah mulai menyebarkan agama Budhi, Merapi janji saya, Menggelegar seluruh jagad, Kehendak Tuhan, (Karena) segalanya (pasti akan) berganti, Tidak mungkin untuk dirubah lagi. Note [Suchamda] : Agama Budhi bukan berarti semata agama Buddha, tetapi adalah AGAMA KESADARAN / ELING / HAKIKAT yang bisa meredam kemurkaan alam..

7. Sanget-sangeting sangsara Kang tuwuh ing tanah Jawi Sinengkalan tahunira Lawon Sapta Ngesthi Aji Upami nyabarang kali Prapteng tengah-tengahipun Kaline banjir bandhang Jeronne ngelebna jalmi Kathah sirna manungsa prapteng pralaya.

Sangat sangat sengsara, Yang hidup ditanah Jawa, Perlambang tahun kedatangannya, LAWON SAPTA NGESTI AJI ( LAWON ; 8, SAPTA ; 7, NGESTHI ; 9, AJI ; 1 = 1978), Seandainya menyeberangi sebuah sungai, Ketika masih berada ditengah-tengah, Banjir bandhang akan datang tiba-tiba, Tingginya air mampu menenggelamkan manusia, Banyak manusia sirna karena mati



. 8. Bebaya ingkang tumeka Warata sa Tanah Jawi Ginawe kang paring gesang Tan kenging dipun singgahi Wit ing donya puniki Wonten ing sakwasanipun Sedaya pra Jawata Kinarya amertandhani Jagad iki yekti ana kang akarya

. Bahaya yang datang, Merata diseluruh tanah Jawa, Diciptakan oleh Yang Memberikan Hidup, Tidak bisa untuk ditolak, Sebab didunia ini, Dibawah kekuasaan, Tuhan dan Para Dewa, Sebagai bukti, Jagad ini ada yang menciptakan.

9. Warna-warna kang bebaya Angrusaken Tanah Jawi Sagung tiyang nambut karya Pamedal boten nyekapi Priyayi keh beranti Sudagar tuna sadarum Wong glidhik ora mingsra Wong tani ora nyukupi Pametune akeh sirna aneng wana

. Bermacam-macam mara bahaya, Merusak tanah Jawa, Semua yang bekerja, Hasilnya tidak mencukupi, Pejabat banyak yang lupa daratan, Pedagang mengalami kerugian, Yang berkelakuan jahat semakin banyak, Yang bertani tidak mengahasilkan apa-apa, Hasilnya banyak terbuang percuma dihutan.

10. Bumi ilang berkatira Ama kathah kang ndhatengi Kayu katahah ingkang ilang Cinolong dening sujanmi Pan risaknya nglangkungi Karana rebut rinebut Risak tataning janma Yen dalu grimis keh maling Yen rina-wa kathah tetiyang ambengal.

Bumi hilang berkahnya, Banyak hama mendatangi, Pepohonan banyakyang hilang, Dicuri manusia, Kerusakannya sangat parah, Sebab saling berebut, Rusak tatanan moral, Apabila malam hujan banyak pencuri, pabila siang banyak perampok


. 11. Heru hara sakeh janma Rebutan ngupaya anggering praja Tan tahan perihing ati Katungka praptaneki Pageblug ingkang linangkung Lelara ngambra-ambara Warading saktanah Jawi Enjing sakit sorenya sampun pralaya

. Huru hara seluruh manusia, Berebut kekuasan kerajaan, Tidak tahan perdihnya hati, Disusul datangnya, Wabah yang sangat mengerikan, Penyakit berjangkit kemana-mana, Merata seluruh tanah Jawa, Pagi sakit sorenya mati

. 12. Kesandhung wohing pralaya Kaselak banjir ngemasi Udan barat salah mangsa Angin gung nggegirisi Kayu gung brasta sami Tinempuhing angin agung Kathah rebah amblasah Lepen-lepen samya banjir Lamun tinon pan kados samodra bena.

Belum selesai wabah kematian, Ditambah banjir bandhang semakin menggenapi, Hujan besar salah waktu, Angin besar mengerikan, Pohon-poho besar bertumbangan, Disapu angin yang besar, Banyak yang roboh berserakan, Sungai-sungai banyak yang banjir, Apabila dilihat bagaikan lautan.

13. Alun minggah ing daratan Karya rusak tepis wiring Kang dumunung kering kanan Kajeng akeh ingkang keli Kang tumuwuh apinggir Samya kentir trusing laut Sela geng sami brasta Kabalebeg katut keli Gumalundhung gumludhug suwaranira.

Ombak naik kedaratan, Membuat rusak pesisir pantai, Yang berada dikiri kanannya, Pohon banyak yang hanyut, Yang tumbuh dipesisir, Hanyut ketengah lautan, Bebatuan besar hancur berantakan, Tersapu ikut hanyut, Bergemuruh nyaring suaranya.

14. Hardi agung-agung samya Huru-hara nggegirisi Gumleger swaranira Lahar wutah kanan kering Ambleber angelebi Nrajang wana lan desagung Manungsanya keh brasta Kebo sapi samya gusis Sirna gempang tan wonten mangga puliha

. Gunung berapi semua, Huru hara mengerikan, Menggelegar suaranya, Lahar tumpah kekanan dan kekirinya, Menenggelamkan, Menerejang hutan dan perkotaan, Manusia banyak yang tewas, Kerbau dan Sapi habis, Sirna hilang tak bisa dipulihkan lagi.

15. Lindhu ping pitu sedina Karya sisahing sujanmi Sitinipun samya nela Brekasakan kang ngelesi Anyeret sagung janmi Manungsa pating galuruh Kathah kang nandhang roga Warna-warna ingkang sakit Awis waras akeh klang prapteng pralaya

. Gempa bumi sehari tujuh kali, Membuat ketakutan manusia, Tanah banyak yang retak-retak, Makhluk halus yang ikut membantu amarah alam, menyeret semua manusia, Manusia menjerit-jerit, Banyak yang terkena penyakit, Bermacam-macam sakitnya, Jarang yang bisa sembuh malahan banyak yang menemui kematian.

16. Sabda Palon nulya mukswa Sakedhap boten kaeksi Wangsul ing jaman limunan Langkung ngungun Sri Bupati Njegreg tan bisa angling Ing manah langkung gegetun Kedhuwung lepatira Mupus karsaning Dewadi Kodrat iku sayekti tan kena owah.

Sabdo Palon kemudian menghilang, Sekejap mata tidak terlihat sudah, Kembali ke alam misteri, Sangat keheranan Sang Prabhu, Terpaku tidak bisa bergerak, Dalam hati merasa menyesal, Merasa telah berbuat salah, Akhirnya hanya bisa berserah kepada Tuhan, Janji yang telah terucapkan itu sesungguhnya tak akan bisa dirubah lagi. (Diterjemahkan oleh : Damar Sashangka)

.  Sabdo Palon dan Naya Genggong adalah 'PENUNTUN GAIB YANG MEWUJUD'. Beliau berdua senantiasa hadir mengiringi Raja-Raja Jawa jaman Hindhu Buddha. Beliau berdua pergi meninggalkan tanah Jawa semenjak Keruntuhan Majapahit pada tahun 1400 Saka, atau 1478 Masehi. Terkenal dengan SURYA SANGKALA (KATA SANDHI PENANDA TAHUN KEJADIAN) yang sangat populer di Jawa, yaitu SIRNA ILANG KERTHANING BHUMI ( SIRNA : 0, ILANG : 0, KERTHA : 4, BHUMI : 1 = 1400 Saka). Kalimat KERTHAning BHUMI, diambil dari nama asli PRABHU BRAWIJAYA PAMUNGKAS (PAMUNGKAS=TERAKHIR), yaitu RADEN KERTHABHUMI. Janji kedatangan Beliau berdua diucapkan di Blambangan, ketika Majapahit hancur diserang oleh pasukan Demak Bintara. Prabhu Brawijaya meloloskan diri ke arah Timur, hendak menyeberang ke Pulau Bali, namun masih bertahan sementara di Blambangan ( Banyuwangi sekarang). Raden Patah, Pemimpin Demak Bintara, merasa bangga telah menghancurkan Majapahit yang dia anggap sebagai negara kafir. Serta merta, setelah mendengar kabar berhasil dikuasainya Majapahit oleh tentara Islam, Raden Patah datang dari Demak, ingin melihat langsung keadaan Majapahit yang berhasil dihancurkan. Setelah itu, dengan bangga beliau meneruskan perjalanannya ke Pesantren Ampeldhenta, hendak mengabarkan keberhasilan itu. Namun ternyata, Nyi Ageng Ampel, istri almarhum Sunan Ampel, malah mempersalahkannya. Nyi Ageng Ampel mengingatkan bahwa dulu semasa Sunan Ampel masih hidup, beliau pernah berpesan bahwsanya jangan sekali-kali murid-murid beliau ikut campur masalah politik, atau malah berani merebut kekuasaan Majapahit. Bahkan Nyi Ageng dengan tegas menambahkan, Raden Patah telah berdosa tiga hal : 1.Kepada Guru, yaitu melanggar wasiat Sunan Ampel. 2.Kepada Ayah, karena Prabhu Brawijaya adalah ayah kandung Raden Patah. 3.Kepada Raja, karena Raja adalah Imam, tidak boleh dilawan tanpa alasan yang benar. Sebab, selama memerintah, Prabhu Brawijaya tidak pernah melarang penyebaran agama Islam, bahkan menghadiahkan tanah Ampeldhenta ( didaerah Surabaya sekarang ), sebagai tanah otonom. Diijinkan untuk dipakai sebagai basis pendidikan agama bagi orang-orang muslim. Dengan sangat menyesal, Raden Patah meminta petunjuk, bagaimanakah cara untuk menghapus kesalahannya. Nyi Ageng menyarankan agar kedudukan Prabhu Brawijaya Pamungkas sebagai Raja harus dikembalikan. Namun yang menjadi masalah, kemanakah Sang Prabhu meloloskan diri? Nyi Ageng memperkirakan, Sang Prabhu pasti menuju ke Pulau Bali.  Raden Patah berniat menyusul sendiri, namun dicegah Nyi Ageng Ampel, karena setelah kejadian penyerangan Majapahit oleh tentara Islam terjadi, maka, tidak akan ada satupun orang Islam yang akan dipercayai oleh Sang Prabhu. Tidak Raden Patah, tidak Nyi Ageng Ampel, tidak pula Para Wali yang lain, yang turut serta membantu penyerangan tersebut. Namun, hanya ada dua Wali yang mungkin masih beliau percayai, pertama Syeh Siti Jenar dan kedua Sunan Kalijaga. Karena kedua Wali ini terang-terangan menentang penyerangan pasukan Islam ke Majapahit. Karena hubungan Raden Patah tidak begitu baik dengan Syeh Siti Jenar, maka dia meminta pertolongan Sunan Kalijaga untuk melacak keberadaan ramanda-nya. Dan jika ditemukan, dimohon dengan segala hormat untuk kembali ke Trowulan, ibukota Majapahit, untuk dikukuhkan lagi sebagai Raja. Sunan Kalijaga bersedia membantu, ditemani beberapa santri beliau langsung melakukan pencarian ke arah Timur. Dan ternyata benar, di Blambangan, banyak umbul-umbul pasukan Majapahit serta para prajurid Majapahit yang siap tempur berkumpul disana. Dan benar pula, Prabhu Brawijaya masih ada disana, belum menyeberang ke Pulau Bali. Agak kesulitan Sunan Kalijaga memohon bertemu dengan Sang Prabhu. Namun karena Sang Prabhu tahu betul, Sunan Kalijaga, yang seringkali beliau panggil Sahid itu, menurut pasukan sandhi (intelejen) Majapahit , Sunan Kalijaga bersama pengikutnya,sama sekali tidak ikut dalam penyerangan ke Majapahit, maka Sunan Kalijaga dipersilahkannya menghadap, walau dengan kawalan ketat. Disinilah dialog SERAT SABDO PALON terjadi. Sang Prabhu Brawijaya, ditemani Sabdo Palon dan Naya Genggong, dihadap oleh Sunan Kalijaga,beserta sesepuh Majapahit yang kebetulan bersama-sama Sang Prabhu hendak menuju Pulau Bali, menyusul beberapa masyarakat Jawa lainnya yang lebih dahulu melarikan diri kesana. Mendengar penuturan Sunan Kalijaga,Sang Prabhu luruh hatinya. Karena sejatinya, Sang Prabhu kini tengah menggalang kekuatan besar untuk merebut kembali tahta dari tentara Islam. Tidak bisa dibayangkan apabila itu terjadi, karena pendukung Sang Prabhu Brawijaya masih banyak tersebar diseluruh Nusantara. Pertumpahan darah yang lebih besar pasti akan terjadi. Putra-putra Prabhu Brawijaya masih banyak yang berkuasa dan mempunyai kekuatan tentara yang besar, seperti Adipati Handayaningrat IV di Pegging, Lembu Peteng di Madura, Bondhan Kejawen di Tarub dan masih banyak lagi. Sunan Kalijaga meminta, agar pertikaian dihentikan, dan sudilah kiranya Sang Prabhu kembali memegang tampuk pemerintahan. Prabhu Brawijaya menolak, karena jikalau itu terjadi, maka beliau akan merasa terhina oleh putra selirnya sediri, Raden Patah, yang lahir dari putri China Eng-Kian dan dibesarkan di Palembang dalam asuhan Adipati Arya Damar atau Swan Liong. Bagaimana tidak, seorang ayah harus menerima tahta dari anaknya sendiri, memalukan. Ketika perundingan menemui jalan buntu, maka Sunan Kalijaga mengusulkan agar beliau dengan kebesaran jiwa, mau memeluk Islam. Dengan demikian, seluruh pendukung beliau pasti akan meninggalkan beliau satu persatu, dan pertumpahan darah yang lebih besar lagi akan terhindar. Mendengar akan hal itu, Prabhu Brawijaya tercenung, untuk menghindari peperangan lebih besar, setidaknya, usulan Sunan Kalijaga memang masuk akal. Demi perdamaian, Sang Prabhu mengesampingkan ego-nya. Maka PENUH dengan kebesaran hati, beliau menyatakan MASUK ISLAM. Terkejut seluruh yang hadir, termasuk Sabdo Palon dan Naya Genggong. Hingga, terlontarlah sebuah janji seperti tercantum pada SERAT SABDO PALON diatas. Sepeninggal Sabdo Palon dan Naya Genggong, Sang Prabhu-pun bersedia kembali ke Trowulan, namun bukan hendak kembali memduduki tahta, akan tetapi mendamaikan seluruh kerabat Majapahit agar merelakan tahta dipegang oleh Raden Patah. Dalam perjalanan pulang inilah, Sunan Kalijaga meminta bukti ketulusan Sang Prabhu dalam memeluk Islam.  Sunan Kalijaga memohon untuk memotong rambut panjang Sang Prabhu. Dengan sebilah keris, setelah diijinkan, Sunan Kalijaga memotong rambut beliau. Tapi ternyata, tidak satu helai-pun terpotong. Sekali lagi, Sunan Kalijaga meminta keikhlasan Sang Prabhu memeluk Islam, dan sekali lagi Sunan Kalijaga memotong rambut beliau. Kali ini, terpotong sudah. Namun, Sunan Kalijaga belum puas, menjelang berangkat kembali ke Trowulan, Sunan Kalijaga mengambil air comberan yang berbau tidak sedap dimasukkan kedalam sebilah bambu. Dihadapan Sang Prabhu, beliau menyatakan, bahwasanya apabila air comberan ini sesampainya di Trowulan airnya berubah tidak berbau busuk, nyata sudahlah Sang Prabhu telah lahr bathin masuk Islam. Berangkatlah rombongan itu ke Trowulan,sesampainya di Trowulan, disambut dengan suka cita oleh masyarakat Trowulan. Air dalam bilah bambu dicurahkan oleh Sunan Kalijaga, dan ternyata, bau busuknya hilang, bahkan airnya berubah jernih. Untuk mengingat kejadian itu, Blambangan diubah namanya menjadi BANYUWANGI hingga sekarang. Tidak berapa lama di Trowulan, Sang Prabhu jatuh sakit. Putra-putranya datang berkumpul, melalui Sunan Kalijaga, beliau mengamanatkan agar menghentikan pertumpahan darah Hindhu-Buddha dengan Islam. Biarkanlah Raden Patah bertahta sebagai Raja di Jawa walau sebenarnya, keturunan dari Pengging-lah yang lebih berhak. Menjelang akhir hayat beliau, beliau berpesan agar diatas pusara makam beliau jangan diberi tanda bahwasanya beliau adalah Prabhu Brawijaya, Raja Majapahit terakhir, namun tandailah dengan nama Putri Champa Anarawati, permaisuri beliau. Sebab beliau merasa diperhinakan sebagaimana wanita oleh putraya sendiri. Dan penghinaan itu didukung oleh permaisurinya sendiri, Dewi Anarawati, putri Champa yang beragama Islam. Dewi Anarawati inilah bibi Sunan Ampel. Dewi Anarawati-lah yang menyarankan agar Sang Prabhu memberikan Ampeldenta kepada Sunan Ampel untuk didirikan sebuah Pesantren Islam. Maka jangan heran, apabila di Trowulan, tidak diketemukan makam Prabhu Brawijaya, melainkan Putri Champa. Padahal makam Putri Champa yang asli berada di Gresik. Begitu Majapahit diserang pasukan Islam, beliau diungsikan ke Gresik hingga beliau wafat

Kitab JOYOBOYO

Kitab Musarar inganggit Duk Sang Prabu Jayabaya Ing Kediri kedhatone Ratu agagah prakosa Tan ana kang malanga Parang muka samya teluk Pan sami ajrih sedaya Milane sinungan sakti Bathara Wisnu punika Anitis ana ing kene Ing Sang Prabu Jayabaya Nalikane mangkana Pan jumeneng Ratu Agung Abala para Narendra Wusnya mangkana winarni Lami-lami apeputra Jalu apekik putrane Apanta sampun diwasa Ingadekan raja Pagedhongan tanahipun Langkung arja kang nagara Maksihe bapa anenggih Langkung suka ingkang rama Sang Prabu Jayabayane Duk samana cinarita Pan arsa katamiyan Raja Pandhita saking Rum Nama Sultan Maolana Ngali Samsujen kang nami Sapraptane sinambrama Kalawan pangabektine Kalangkung sinuba suba Rehning tamiyan raja Lan seje jinis puniku Wenang lamun ngurmatana Wus lengah atata sami Nuli wau angandika Jeng Sultan Ngali Samsujen “Heh Sang Prabu Jayabaya Tatkalane ing sireku Kandhane Kitab Musarar Prakara tingkahe nenggih Kari ping telu lan para Nuli cupet keprabone Dene ta nuli sinelan Liyane teka para” Sang Prabu lajeng andeku Wus wikan titah Bathara Lajeng angguru sayekti Sang-a Prabu Jayabaya Mring Sang raja pandhitane Rasane Kitab Musarar Wus tunumlak sadaya Lan enget wewangenipun Yen kantun nitis ping tiga Benjing pinernahken nenggih Sang-a Prabu Jayabaya Aneng sajroning tekene Ing guru Sang-a Pandhita Tinilar aneng Kabah Imam Supingi kang nggadhuh Kinarya nginggahken kutbah Ecis wesi Udharati Ing tembe ana Molana Pan cucu Rasul jatine Alunga mring Tanah Jawa Nggawa ecis punika Kinarya dhuwung puniku Dadi pundhen bekel Jawa Raja Pandhita apamit Musna saking palenggahan Tan antara ing lamine Pan wus jangkep ing sewulan Kondure Sang Pandhita Kocapa wau Sang Prabu Animbali ingkang putra Tan adangu nulya prapti Apan ta lajeng binekta Mring kang rama ing lampahe Minggah dhateng ardi Padhang Kang putra lan keng rama Sakpraptaning ing gunung Minggah samdyaning arga Wonten ta ajar satunggil Anama Ajar Subrata Pan arsa methuk lampahe Mring Sang Prabu Jayabaya Ratu kang namur lampah Tur titit Bathara Wisnu Njalama Prabu Jayabaya Dadya Sang Jayabaya ji Waspada reh samar-samar Kinawruhan sadurunge Lakune jagad karana Tindhake raja-raja Saturute laku putus Kalawan gaib sasmita Yen Islama kadi nabi Ri Sang aji Jayabaya Cengkrameng ardi wus suwe Apanggih lawan ki Ajar Ajar ing gunung Padhang Awindon tapane guntur Dadi barang kang cinipta Gupuh methuk ngacarani Wus tata denya alenggah Ajar angundang endhange Siji nyunggi kang rampadan Isine warna-warna Sapta warna kang sesuguh Kawolu lawan ni endang Juwadah kehe satakir Lan bawang putih satalam Kembang melathi saconthong Kalawan getih sapitrah Lawan kunir sarimpang Lawan kajar sawit iku Kang saconthong kembang mojar Kawolu endhang sawiji Ki Ajar pan atur sembah “Punika sugataningong Katura dhateng paduka” Sang Prabu Jayabaya Awas denira andulu Sedhet anarik curiga Ginoco ki Ajar mati Endhange tinuweng pejah Dhuwung sinarungken age Cantrike sami lumajar Ajrih dhateng sang nata Sang Rajaputra gegetun Mulat solahe kang rama Arsa matur putra ajrih Lajeng kondur sekaliyan Sapraptanira kedhaton Pinarak lan ingkang putra Sumiwi munggweng ngarsa Angandika Sang-a Prabu Jayabaya mring kang putra “Heh putraningsun ta kaki Sira wruh solahing Ajar Iya kang mati dening ngong Adosa mring guruningwang Jeng Sultan Maolana Ngali Samsujen ta iku Duk maksih sami nom-noman Sinom Pan iku wus winejang Mring guru Pandhita Ngali Rasane kitab Musarar Iya padha lawan mami Nanging anggelak janji Cupet lelakoning ratu Iya ing tanah Jawa Ingsun pan wus den wangeni ari loro kaping telune ta ingwang Yen wis anitis ping tiga Nuli ana jaman maning Liyane panggaweningwang Apan uwus den wangeni Mring pandhita ing nguni Tan kena gingsir ing besuk Apan Maolana Ngali Jaman catur semune segara asat Mapan iku ing Jenggala Lawan iya ing Kediri Ing Singasari Ngurawan Patang ratu iku maksih Bubuhan ingsun kaki Mapan ta durung kaliru Negarane raharja Rahayu kang bumi-bumi Pan wus wenang anggempur kang dora cara Ing nalika satus warsa Rusake negara kaki Kang ratu patang negara Nuli salin alam malih Ingsun nora nduweni Nora kena milu-milu Pan ingsun wus pinisah Lan sedulur bapa kaki Wus ginaib prenahe panggonan ingwang Ana sajroning kekarah Ing tekene guru mami Kang nama raja pandhita Sultan Maolana Ngali Samsujen iku kaki Kawruhana ta ing mbesuk Saturun turunira Nuli ana jaman maning Anderpati arane Kalawisesa Apan sira linambangan Sumilir kang naga kentir Semune liman pepeka Pejajaran kang negari Ilang tingkahing becik Negara kramane suwung Miwah yudanegara Nora ana anglabeti Tan adil satus taun nuli sirna Awit perang padha kadang Dene pametune bumi Wong cilik pajeke emas Sawab ingsun den suguhi Marang si Ajar dhingin Kunir ta ingsun Nuli asalin jaman Majapahit kang nagari Iya iku Sang-a Prabu Brawijaya Jejuluke Sri Narendra Peparab Sang Rajapati Dewanata alam ira Ingaranan Anderpati Samana apan nenggih Lamine sedasa windu Pametuning nagara Wedale arupa picis Sawab ingsun den suguhi mring si Ajar Juwadah satakir iya Sima galak semu nenggih Curiga kethul kang lambang Sirna salin jaman maning Tanah Gelagah wangi Pan ing Demak kithanipun Kono ana agama Tetep ingkang amurwani Ajejuluk Diyati Kalawisaya Swidak gangsal taun sirna Pan jumeneng Ratu adil Para wali lan pandhita Sadaya pan samya asih Pametune wong cilik Ingkang katur marang Ratu Rupa picis lan uwang Sawab ingsun den suguhi Kembang mlathi mring ki Ajar gunung Padhang Kaselak kampuhe bedhah Kekesahan durung kongsi Iku lambange dyan sirna Nuli ana jaman maning Kalajangga kang nami Tanah Pajang kuthanipun Kukume telat Demak Tan tumurun marang siwi Tigang dasa enem taun nuli sirna Semune lambang Cangkrama Putung ingkang watang nenggih Wong ndesa pajege sandhang Picis ingsun den suguhi Iya kajar sauwit Marang si Ajar karuhun Nuli asalin jaman Ing Mataram kang nagari Kalasakti Prabu Anyakrakusumo Kinalulutan ing bala Kuwat prang ratune sugih Keringan ing nungsa Jawa Tur iku dadi gegenti Ajar lan para wali Ngulama lan para nujum Miwah para pandhita Kagelang dadi sawiji Ratu dibya ambeg adil paramarta Sudibya apari krama Alus sabaranging budi Wong cilik wadale reyal Sawab ingsun den suguhi Arupa bawang putih Mring ki Ajar iku mau Jejuluke negara Ratune ingkang miwiti Surakarta semune lintang sinipat Nuli kembang sempol tanpa Modin sreban lambang nenggih Panjenengan kaping papat Ratune ingkang mekasi Apan dipun lambangi Kalpa sru kanaka putung Satus taun pan sirna Wit mungsuh sekutuh sami Nuli ana nakoda dhateng merdagang Iya aneng tanah Jawa Angempek tanah sethithik Lawas-lawas tumut aprang Unggul sasolahe nenggih Kedhep neng tanah Jawi Wus ngalih jamanireku Maksih turun Mataram Jejuluke kang negari Nyakrawati kadhatone tanah Pajang Ratu abala bacingah Keringan ing nuswa Jawi Kang miwiti dadi raja Jejuluke Layon Keli Semu satriya brangti Iya nuli salin ratu Jejuluke sang nata Semune kenyo musoni Nora lawas nuli salin panjenengan Dene jejuluke nata Lung gadhung rara nglingkasi Nuli salin gajah meta Semune tengu lelaki Sewidak warsa nuli Ana dhawuhing bebendu Kelem negaranira Kuwur tataning negari Duk semana pametune wong ing ndesa Dhuwit anggris lawan uwang’ Sawab ingsun den suguhi Rupa getih mung sapitrah Nuli retu kang nagari Ilang barkating bumi Tatane Parentah rusuh Wong cilik kesrakatan Tumpa-tumpa kang bilahi Wus pinesthi nagri tan kena tinambak Bojode ingkang negara Narendra pisah lan abdi Prabupati sowang-sowang Samana nglaih nagari Jaman Kutila genti Kara murka ratunipun Semana linambangan Dene Maolana Ngali Panji loro semune Pajang Mataram Nakodha melu wasesa Kadhuk bandha sugih wani Sarjana sirep sadaya Wong cilik kawelas asih Mah omah bosah-basih Katrajang marga agung Panji loro dyan sirna Nuli Rara ngangsu sami Randha loro nututi pijer tetukar Tan kober paes sarira Sinjang kemben tan tinolih Lajengipun sinung lambang Dene Maolana Ngali Samsujen Sang-a Yogi Tekane jaman Kala Bendu Ing Semarang Tembayat Poma den samya ngrawuhi Sasmitane lambang kang kocap punika Dene pajege wong ndesa Akeh warninira sami Lawan pajeg mundhak-mundhak Yen panen datan maregi Wuwuh suda ing bumi Wong dursila saya ndarung Akeh dadi durjana Wong gedhe atine jail Mundhak taun mundhak bilahining praja Kukum lan yuda nagara Pan nora na kang nglabeti Salin-salin kang parentah Aretu patraping adil Kang bener-bener kontit Kang bandhol-nbandhol pan tulus Kang lurus- lurus rampas Setan mindha wahyu sami Akeh lali mring Gusti miwah wong tuwa Ilang kawiraningdyah Sawab ingsun den suguhi Mring ki Ajar Gunung Padhang Arupa endang sawiji Samana den etangi Jaman pitung atus Pitung puluh pan iya Wiwit prang tan na ngaberi Nuli ana lamate negara rengka Akeh ingkang gara-gara Udan salah mangasa prapti Akeh lindhu lan grahana Dalajate salin-salin Pepati tanpa aji Anutug ing jaman sewu Wolung atus ta iya Tanah Jawa pothar pathir Ratu Kara Murka Kuthila pan sirna Dene besuk nuli ana Tekane kang Tunjung Putih Semune Pudhak kasungsang Bumi Mekah dennya lair Iku kang angratoni Jagad kabeh ingkang mengku Juluk Ratu Amisan Sirep musibating bumi Wong nakoda milu manjing ing samuwan Prabu tusing waliyulah Kadhatone pan kekalih Ing Mekah ingkang satunggal Tanah Jawi kang sawiji Prenahe iku kaki Perak lan gunung Perahu Sakulone tempuran Balane samya jrih sajagad Kono ana pangapura Ajeg kukum lawan adil Wong cilik pajege dinar Sawab ingsun den suguhi Iya kembang saruni Mring ki Ajar iku mau Ing nalika semana Mulya jenenging narpati Tur abagus eseme lir madu puspa Dhandhanggula Langkung arja jamaning narpati Nora nana pan ingkang nanggulang Wong desa iku wadale Kang duwe pajeg sewu Pan sinuda dening Narpati Mung metu satus dinar Mangkana winuwus Jamanira pan pinetang Apan sewu wolungatus anenggih Ratune nuli sirna Ilang tekan kadhatone sami Nuli rusak iya nungsa Jawi Nora karuwan tatane Pra nayaka sadarum Miwah manca negara sami Padha sowang-sowangan Mangkana winuwus Mangka Allahu Tangala Anjenengaken Sang Ratu Asmarakingkin Bagus maksih taruna Iku mulih jeneng Narpati Wadya punggawa sujud sadaya Tur padha rena prentahe Kadhatone winuwus Ing Kediri ingkang satunggil Kang siji tanah Ngarab Karta jamanipun Duk semana pan pinetang Apan sewu luwih sangang atus anenggih Negaranira rengka Wus ndilalah kersaning Hyang Widhi Ratu Perangi anulya prapta Wadya tambuh wilangane Prawirane kalangkung Para ratu kalah ngajurit Tan ana kang nanggulang Tanah Jawa gempur Wus jumeneng tanah Jawa Ratu Prenggi ber budi kras anglangkungi Tetep neng tanah Jawa Enengana Sang Nateng Parenggi Prabu ing Rum ingkang ginupta Lagya siniwi wadyane Kya patih munggweng ngayun Angandika Sri Narapati “Heh patih ingsun myarsa Tanah Jawa iku Ing mangke ratune sirna Iya perang klawan Ratu Prenggi Tan ana kang nanggulangi Iku patih mengkata tumuli Anggawaa ta sabalanira Poma tundhungen den age Yen nora lunga iku Nora ingsun lilani mulih” Ki Patih sigra budhal Saha balanipun Ya ta prapta tanah Jawa Raja Prenggi tinundhung dening ki Patih Sirna sabalanira Nuli rena manahe wong cilik Nora ana kang budi sangsaya Sarwa murah tetukone Tulus ingkang tinandur Jamanira den jujuluki Gandrung-gandrung neng marga Andulu wong gelung Kekendon lukar kawratan Keris parung dolen tukokena nuli Campur bawur mring pasar Sampun tutug kalih ewu warsi Sunya ngegana tanpa tumingal Ya meh tekan dalajate Yen kiamat puniku Ja majuja tabatulihi Anuli larang udan Angin topan rawuh Tumangkeb sabumi alam Saking kidul wetan ingkang andhatengi Ambedhol ponang arga

Rabu, 19 Maret 2014

Sastra Jawa

//Sri Nata Dipeng ngrat Jawa / Jeng Sultan Agung Matawis / kang ngadhaton aneng Karta / ing jaman sakeh pra Mulki / ngrat Jawa Nyakrawati / Sabrang Pasisir syud / Amiril Muminina / Sayidina Panata Gami / kyatireng ngrat wus sineksen saking Ngarab// //Winenang among dirjeng ngrat / Jeng Sultan Agung Matawis / awit jaksuh tranging tingal / lir surya angkara wening / wikan pranateng gaib / sakarsanira Hyang Agung / agung parosanira / Jawa den ulet lan kadis / mardikeng ngrat mustikaning jagad// //Narendra moncol sasama / mrojol ing kerep tan wigih / pinarak ngideri jagad / tyasnya maruta jinaring mumpuni agal rempit / kridhaning ngrat wus kawengku / miguna ing aguna / wujud langgeng datan lali / rasa mulya tinrusken rasa panedya// //Kaluhuring kamulyan / ing Jawa Narendra luwih / linuwih pinrih katrekah / sakeh rinuruh ingkang sih / jumenengnya winarni / Slasa kaping sadasa / mangsane wuku Warigalit / Alip lambing Langkir kang windu Mangkara// //Taun Dal sangkalanira / marga saking tata aji / lamine kraton Narendra / tigang dasa catur warsi / surutira marengi / Jumwah Legi Sapar tengsu /  tanggal kaping dwi dasa / wuku Wukir lambing Langkir / mangsa juga anuju kang windu Tirta// //Taun Be sangkalanira / asta nem margining kang wit / Panjenenganireng Nata / kasusra ambara murti / pinandhita trus suci / mot ing kawisesan luhur / rinilan geng mangunah / linulutan gung maharsi / mestu puja sinukmarjeng gung rasika// //Angglenggahi surya candra / ambeg susanta ber budi / yangyang samodra lukita / adil ber para marta mrik / kasub tinengen bumi / walikal waliyul lahu / dibya gung wikareng ngrat / nguni prasapeng sawuri / mring sangunge pra wayah trahing Mataram// //Yekti tan ingaken darah / yen tan wignya tembang kawi / kang kawrat sandining sastra / akathah logating tulis / kang dhingin basa kawi / tata trepsileng pamuwus / tumrap ing niti praja / kasusilan trus ing ngelmi / lawan kawi kang tumrap sandining sastra// //Kayata caraka basa / dasa nama atanapi / babasan amengku rasa / rasa karep marang pamrih / myat tuduh kang mangka wit / kanga ran kawi puniku / basa kang mengku rasa / wi : lepasireng pamusthi / mungging sastra karem lepasing graita// //Tumrap  sandining puspita / karem lepasing semadi / ngesthi tableh ing pangeran / linang sukma sarira nir / tandya puspita jati / mila sagutrah Mataram / den putus olah raras / sasmita sandining kawi / jakti angger satriya mangolah sastra// //Den eta ingaran tembang / tembang kang tumameng gendhing / anut wileting wirama / manising swara dineling / kang tumrap yuda nagri / raras manising pamuwus / kandel tipising basa / non tuduh manangka kardi / nora kena ninggal rarasing suwara// //Dene kang tumrap ing sastra / renggan wiramaning gendhing / kinarya ngimpuni basa/ memanise den reksani / lamun bubrah kang gendhing / sastra ngalih rahsanipun / kang tumrap ing pradangga / swara rinaras ing rakmi / anrus kongas asmara langening akal// //Kalengkanireng swarendah / serancak pineta ngesthi / kesti wirajeng wirama / tuduh pamudyaning dasih /  sih puji kahananipun / tan lyang kang Murbeng Jagad / kang pinuji swara Aji / nyampleng ingkang gendhing / trus kahanan tunggal// //Pramila gendhing yen bubrah / gugur sembahe mring Widi / batal wisikaning salat tanpa gawe olah gendhing / den eta kang ngran gendhing / swara saking osik jati / mring Hyang Ingkang Masung sih / sih puji kahananipun / osik mulya wentaring cipta surasa// //Surasing ngiskining kajat / kajat baka ingkang kadim / pramila mangolah gendhing / sedene merdanggeng gendhing / de ana rebut manis / swara manis wileting rum / nyang nyamlengireng raras / swara nrus pinnresing ngesthi / lamun bunrah tan kamot pamujining dat// //Marma sagung trah Mataram / kinon wignya tembang kawi / jer wajib ugering gesang / ngawruhi titining ngelmi / kqang tumrap ing praja di / tembang kawi asalipun / tarlen titising sastra / nora nana kang liyan tuduh ing sastra// PUPUH II ASMARADANA //Geng branta mangusweng gendhing / satengah wong parengutan / kang ahli gendhing padudon / lawan wong kang ahli sastra / arebut kaluhuran / iku wong tuna ing ngelmu / tan ada gelem kasoran// //Sejatinya wong ngagesang / apa ingkang binasan / iku kang kinarya luhur / ……………………………. /  yekti kekandangan kibir / rebut luhuring kagunan / dadi luput sakarone// //Luhuring sastra lan gendhing / takokna kang pra ngulama / kang terus dalil kadise / kang ngarani luhur gendhingnya / pinet saking kakekat / ing ngakal witing tuwuh / ananing Hyang saking akal// //Witing osikireng jalmi / gendhing akal ing kang warna / myang swara gangsa  cengklinge / tan kahanan wujudira / muhung kayarseng karna / tumruning swara linuhung / kasampurnaning panunggal// //Mangreh nrus swareng dumadi / myang nyamlenging wirama / tuduh ing katunggalane / de sastra ingaran andap / reh kawengku ing akal / lan kawayang warganipun / sastra gumelaring jagad// //Tambuh kang yakin ing ngelmi / dene wong kang ahli sastra / ingaran luhur sastrane / layak yen mangsi lan kretas / pantes ngran luhur ing akal / ing sastra suraosipun / luhur sejatining sastra// //Padha lair pan wus kari / gamelan tan dadi tandha / kamot ing praja karyane / laying praboting Negara / lumintu prakareng kukum, sanadyanta kanthi akal// //Dudu akal wosing gendhing / akal lelungiting sastra / ngakali gendhing yektine / babaring sandining sastra / kanyataning aksara / sabab alip ingkang tuduh / mengku gaibul hupiyah// //Dat mutlak dipun arani / myang latakyun ingaranan / durung kahanan laire / maksih wang wung kewala/ iku jatining sastra / anane saestu tuduh / dupi alip wus kanyatan// //Katandhan ing roh ilapi / goning alam karajiah / iku wit ana akale / denya wit wruh ing dat mutlak / saking kono kang marga / iku kawruhana sagung / endi ingkang luhur andhap// //Dat lawan sipat upami / sayekti dhingin datira / dupi wus ana sipate / mula jamah kahanannya / awal lan akhirira / kang sipat tansah kawengku / marang dat sjatinira// //Rasa pangrasa upami / yekti dhingin rasa nira / pangrasa ing kahanane / kang cipta kalawan ripta / saestu dhingin cipta / cipta kang gendhing mangapus / kang nembah lang kang sinembah// //Yekti dhing kang pinuji / kahanane ingkang nembah / saking kodrating Hyang Manon / mapan kinarya lantaran / saestuning panembah / wiseseng Dat kang rahayu / amuji mring dhawakira// //Upamane wong nggarbini / rare aneng jro wetengan / yen during prapteng laire / during kababar akalnya / maksih gaib sadaya / tambuh estri tambuh jalu / tambuh pejah tambuh gesang// PUPUH III S A R K A R A //Sinarkara pangawikan gaib / nora liya mung Allah ingkang Sa / dupi lair sing gaibe / panggawe kang rahayu / rahayune pratameng urip / urip tekeng antaka / tangkeping ngaluhur / kaluhuraning kasidan / tan lyan uwit sarengat pranatan bumi / sastra gumelaring jagad// //Mungguh hakekat kawruh ingesthi / ngijen-ijen trusing kasampurnan / hakekat wus nunggalake / makripat trusing kalbu / jalma ingkang ngluhuraken gendhing / pangesthining jro tekad / cangkring tuwuh bendhung / tegese bapa lan anak / dhingin anak bapa ginawe ing siwi / mendah yen mangkonoa// //Sayektine jagad tan dumadi / sabab kadim kadhinginan anyar / kasungsang iku dadine / nadyan kang ngarani luhur / gendhing temah tan dadi bayi / pesthi tetep kewala / nangis ki kayatun / lawan lapal ya bubana / wujud olah amengku dusul ngalamin / tuhu gumelaring jagad// //Pratandhane wujuding Hyang Widi / tuduh kinen puji kang kinarya / sastra lip endi jatine / kadya gigiring punglu / tanpa cucuk tan ngarsa wuri / tan gatra tan satmata / tan arah gon dunung / nora akir nora awal / datan pestha aprak kadya anrambahi / nging wajib ananira// //De kakekat asalireng gendhing / wus kanyatan ngelmuning Pamngeran / mungging pangrasa tuduhe / angler raseng kemumu / kang pramana anersandhani / tuhu tunggal pinangka / kajaten satuhu / saworing rasa pangrasa / pilih kawruhanan inganakken yekti / awimbuh kawimbuhan// //Amemuji tan pegat pinuji / yen tan pegat pinuji / yen ta aja urip aneng dunya / tan mbuh yen luhur gendinge / reh tan ana winuwus / kayun maksih kauban langit / sinangga ing bantala / mijil saking banyu / dadine sawabing bapa / yekti tetep luhur sajatining alip / lawan jatining akal// //Upamine wong jalu lan estri / jroning resmi nikmati samya / pracihna iku jatinbe / tuhu-tuhuning kawruh / ing pawore anyar lan kadim / ya lawan sipatira / sastra gendhingipun / kang rasa lawan pangrasa / estri priya pawore kapurna ing ning / atetep tinetepan// //Mula jamah loro\loro tunggil / tunggal rasa raseng kiwisesan / nging lamun dadi tuwuhe / pan wajib priyanipun / dadi akal kapurba alip / lir warna jro paesan / ya upaminipun / kang ngilo jatining sastra / wewayangan gendhing sirnanireng cermin / manjing jatining sastra// //Lir kemandhang lan swara upami / kang kemandhang gendhing ngibaratnya / sastra upama swarane / angler kemandhang mbarung / wangsul marang swara umanjing / lir mina jro samudra / mina gendingipun / sastra upama hudaya / mina yekti anane saking jaladri / myang kauripanira// //Pejahing mina saking jaladri / jro sagara pasthi isi mina / tan kena pisah karone / malih ngibaratipun / lir niyaga anabuh gendhing / niyaga pama sastra / gendhing gendhingipun/ barang reh purba niyaga / de niyaga amanut purbaning gendhing / panjang yen winursita// PUPUH IV P A N G K U R //Kawuri pangesthining Hyang / tuduhira sastra kalawan gendhing / sokur yen wus sami rujuk / nadyan aksara Jawa / datan kari saking gendhing asalipun / gendhing wit purbaning kala / kadya kang wus kocap ngarsi// //Kadya sastra kalih dasa / wit pangestu tuduh kareping pujhi / puji asaling tumuwuh / merit sing akadiyat / ponang : ha na ca ra ka : pituduhipun : dene kang : da ta saw a la / kagentyan ingkang pinuji// //Wadat jati kang rinasan / ponang : pa dha jay a nya : / angyekteni / kang tuduh lan kang tinuduh / padha santosaniira / wahanane / wachadiyat pambilipun / dene kang ma gab a tha nga / wus kanyatan jatining sir// //Pratandhane Manikmaya / wus kanyatan kawruh arah sayekti / iku wus airing tuduh / Manikmaya antaya / kumpuling tyas alam arwah pambilipun / iku witing ana akal / akire Hyang Maha Manik// //Awal Hyang Manikmaya / gaibe tan kena winoring tulis / tan arah gon tanpa dunung / tan pesthi akir awal / manembahing manuksmeng rasa pandulu / tajem lir hudaya retna / trus wening datanpa tepi// //Iku telenging paningal / suerasane kang sastra kalih desi / lan merit sipat kahananing Dat / ponang akal during ana ananipun / kababaring gendhing akal / Manikmaya wus kang ngelmi// //Awiyar ripta pangrasa / Sang Nurcahya Nurasa wus kawuri / gumantyaning Sang Hyang Guru / nyata ngran caturbudya / winayeng Dat guru retuning tumuwuh / awale Hyang Manimaya / tumulya Kaneka Resei// //Sepuh minangka taruna / kang taruna minangka kang nyepuhi / pranyina cleaning kawruh / kahananing wisesa / pinresing Dat wus kanyata Sang Hyang Wisnu / winenang kamot nugraha / mangreh budyarjeng dumadi// //Dene watak nawasanga / wus kanyatan gumlaring bumi langit / iku kawruhanan agung / endi kang luhur andhap / upamane papan lawan tulisipun / kanyatahaning panembah / kalawan ingkang pinuji// //Papan moting kawisesan / Manikmaya purbane papan wening / tulise mangsi Hyang Guru / sastra upama papan / gending akal upama mangsi wus dhawuh / yen dhingina mangsinira / ngendi nggone tibeng tulis//  //Sayekti dhingin kang papan / kang anebut papan saking ing tulis / lan malih upamanipun / dhalang kalawan wayang / dhalang sastra wayang akal jatinipun / yekti dhingin dhalangira / kang murbeng sakehing ringgit// //Lir patine Resi Bisma / duk pinanah dening Wara Srikandhi / watgatanira tinundhung / mring panah Sang Arjuna / gendhing akal ngibarat Srikandhi kang hru / sastra ngibarat kang capa / Sang Parta  titising lungit// //Kayana Narendra Kresna / lawan Sang Hyang Batara Wisnumurti / iku ngibarat satuhu / karo-karone tunggal / tunggal rasa cipta urip pan wus campur / Sang Wisnu ngibarat sastra / Sri Kresna upama gendhing// //Horeg rug kambah barubah / lir Bathara Kalarsa badhog bumi / Sri Kresna datan kadulu / wus niring kamanungsan / kaprabawan wikramanira Hyang Wisnu / nanging datan saben dina / denyambeg wikrama werdi// //Yekti naggo kala masa / yen manggunga wikrama nora dadi / pasthi brastha tan kawuwus / tan ana ngarcapada / satemahe jagad palastha linebur / dening krodhaning Bathara / tan pedah gumlaring bumi// //Sang Wisnu nuksmeng Sro Lresna gung dumadi / mayu rahayu tumuwuh / anjaga jejeging ngrat / Prabu Kresna sapangreh nuksmeng ngaluhur / wasesa panciptanira / nyipta trus manuksmeng gaib// PUPUH V D U R M A //Durmaning kang ngluhuraken gendhing lan akal / pangesthinireng tokit / Hyang Wisnu lan Kresna / muhung Wisnu lan Kresna / muhung Wisnu Kewala / Sri Kresna datan kaliling / nadyan lebura / kang jagad tan marduliu// //Yen meksiya nyipta loro-loronira / yekti guguring ngesthi / temah tundha bema / araning Hyang Wisesa / sungsun-sungsun kalih-kalih / lan malihira / siyang kahanan yekti// //Wong lumaku wus prapteng gon kang sinedya / ndadak abali maning / temah moro cipta / tau renggeng gupita / tambuh kang yakining ngesthi /sajatinira / ujar den wolak-walik// //Awit dene asamar kahananing Hyang / remit sungil tan sipi / gaib tan wus kena / lamun kinaya ngapa / elok tan kena pinikir / wenanging tingkah / tan lyan harjeng ngesthi// //Esthiningtyas samya awas kawisikan / dene wong kang ngarani / luhur sastranira / tangeh lamun nyiptaa / sungsun-sungsun kalih-kalih / nora mangkana / pangesthinireng tokit// //Ana iku marganira saking ora / ora sing ana yekti / raseng ana ora / mantep Dating Wisesa / iku jatining sastra di / tan lawan-lawan / tan sungsun kalih-kalih// //Dene ingaran mableni mentahing lampah / iku mokal sayekti / tan mangkono lirnya / reh mesthinira ana / amot suksma glaring bumi / tinrus ing puja / mujarja dhiri wening// //Kawenangan manuhara aruming ngrat / trusing ngakal kalingling / nglanguting kalengkan / wali lungiting alam / ngenglenging ngalam / nglela anyar kalingling// //Marma ngelmu mulet patraping sarengat / maharjaning dumadi / dadya trus rumangsa / tinuduh trus utama / tumameng cipta pamuji / lamun meksiha / salah ciptaning ngesti// //Satemahe Sri Kresna pan during mulya / ingaran Harimurti / sarira Bathara / tan kewran salirira / kasumbaganing pamusthi / reh ngari loka / madyapada kalingling// //Pan wus dene pra nabi kang musna lena / tuwin kang para Wali / myang para Suhada / pra Iman kang minulya / kang rorijalla inganhi / kamg tuk nugraha / tan seda saben ari// //Yen sedaa pra Nabi salaminira / tan kocap aneng wuri / nadyan kang triloka / sayekti tan dumadya / dennya umangsah semedi / pan kala-kala / tebir lan aprang sabil// //Saben dina tan pegat racketing sukma / tan kewran denira mrih / pangesthining cipta / kaya lapal kang kocap / iya kayun pidareni / murading lapal / uriping desa kalih// //Desa lair desa batin wus kawangwang / sumbaganing musthi / harjaseng sucipta / trusing kayat wisesa / sarambut datan salisir / lan kawruhana / sagung kang rebut piker// //Eling ingkang samya ngudi nalar / away nganti nemahi / kerojoging tekad / tuduh ugering gesang / sayekti ambebayani / rungsiting gawat / watgateng trang ing urip// //Lawan aja asring padudon ing karsa / iku siriking ngelmi / yen during kaduga / luwung kendel kewala / nanging misilna tumuli / marang ngulama / myang para sujaneng ngelmi// //Salah siji jatining gendhing lan sastra / tuwa nome kang pundi / iku takokena / aywa was kaya-kaya / den trus lan saraking Nabi / dipun pracaya / nglakoni gama suci// //Titi tamat srat Sastrasandipradangga / kawrat esthining galih / puniku klimahnya / alime kang niyaga / wruh gangsa swara lan uning / myang aranira / gumlar sawiji-wiji

Selasa, 18 Maret 2014

Jagad KEJAWEN

Sampun kawiyak warananing jagad Datan maleh hawujud pralampita sakawit Datan saget kadunungaken ing budi pra kawulo Sabab handulu kahanan kamot ing sanepan Pramila kawedar soho kagunggung sampun Sadya kahanan dumadi kawiwitan padjajaran bumi Kasaput bramantyaning Sang hyang hanantobogo Mesu brata sampun badar ing pasepening pratapan Kadulu ing katebihan tindaknyo sang noto hanitih estitama Katemah taksih karsa sesinglon rupa hambawur kawulo Bumi loka taksih kebak ing waspa Tanah djawi kalimput ing prahara Lamun sadya piwulang luhur pra wasis datan kapidangetaken Ajaran suci pra wiku lan ulama datan kaprungu sampun Ujaring si gaplok sabdane pra wiku lan ulama Datan maleh kuwawa hambasuh budi candolo Ambeg angkoro datan saget kagondoli Duh, jagat kuwasaning Gusti Pra dasih kadya selo brakiti hamawur tetangisan Katyoso saget kaprungu ing monco Lumarap ing waspa hanyaput sadya tentreming manah pra dasih Ing wetan brang pernahe Lumarap tapel wates gelang lan kuriphan Bumi blumbangan bakale katrajang ing mayangkara Nusa kembini bakalan hanglangut ing sepi Rinakut dening agni soko yomani Pra taruna gyo rangkut tumandang Gugur gunung gyo sabiyantu Lamun welas adedasar asih tanpa pamrih Tumuju ing prasetyoning karahayoning bawono Pralampita kasebat sampun, tutuping warso gyo kinanti Gunggunging layon datan kapetung Wusana kinaryo tumbal gyo Hyang Batara Kala Sinengker sampun lakuning jagad kadulu Datan sadengah titah gyo purna mratelakaken kang dumugi Lamun datan titah pujangkara kasihing Gusti Mesti bakal katalumpen soho kasiku hamedar sasmitaning alam sunyaluri kasebat sastra jendra hayuningrat Lamun taksih karsa ing pepemut Lamun taksih eling ing pepeling Lamun taksih setyotuhu mring piwulanging werda suci Lamun taksih kadunungan cahyaning Gusti Mrih rahayu ing tindak dumugi Tansah emut sasmitaning kang simandi Tutup babagan hawa sanga mesu budi olah semedi Tansah manuwun pangayoman saking Gusti Tansah waspada mring lakuning tirta ubaling agni angkara Laju kiprahipun bayu bakale Gyo hamikut bebanten dumugi Wadya bala bregasakan gyo kembul bujana handra wina Handulu waspa soho panandaning pra kawulo Wong tua kang kecalan atmojo Kanoman podo  liwung kapengat dening asmara Rerantaning bocah kang katilar wong tuwo dadi kunarpo Eling den eling……. Gelar sepapan barisaning pra lampor hambrakut kidul pernahe Padjajaran bumi pinangko pambukaning pepemut Tutuping warso pinangka madyaning lampah nampi pacobi Lamun taksih kadunungan daya iman sejati bakale adoh ing bilahi Tapel wates gelang, kuriphan lumeret wetan bumi Blumbangan Jinangka Nusa Kembini bakale kapiran ing bilahi Bumi Klungkung manggih rahayu Kalis ing rubedo, kalis ing bebendu Wusananing oncating Sang kala, Katitik ing pucuking Sapta renggo Sang Nata gyo jumangkah, Nungkulaken kyai sidem kayom Pinayungan  songgsong tunggul naga, Kaderekaken sang Ismoyo Gyo luwar sadya panandhang, Oncat kapracondang pra wadya begasaan Gyo sumingkir podo tinggal glanggang Kasoran pamoring sang nata Bumi djawi rahayu kinanti ing dumugi Lamun katumbalan iklhas ing budi Gyo bali minturut dawuh Soho piwulang ing werda suci Sakawit sadya puniko Hamung kinaryo hangunduh wohing pakarti Tansah ngunjuk syukur mring Ilahi Saperlu rahayu awak mami Sabab tanpo rowang sanak kadang bakale ngrewangi Manowo taksih nandang pacobi Hamung Iman soho setyo ing janji Mring dawuhing guru sejati bakale bisa Wujudake manunggaling kawula Gusti Inggih puniko margi ingkang bakale nyentosani

Jagad KEJAWEN

Sampun kawiyak warananing jagad Datan maleh hawujud pralampita sakawit Datan saget kadunungaken ing budi pra kawulo Sabab handulu kahanan kamot ing sanepan Pramila kawedar soho kagunggung sampun Sadya kahanan dumadi kawiwitan padjajaran bumi Kasaput bramantyaning Sang hyang hanantobogo Mesu brata sampun badar ing pasepening pratapan Kadulu ing katebihan tindaknyo sang noto hanitih estitama Katemah taksih karsa sesinglon rupa hambawur kawulo Bumi loka taksih kebak ing waspa Tanah djawi kalimput ing prahara Lamun sadya piwulang luhur pra wasis datan kapidangetaken Ajaran suci pra wiku lan ulama datan kaprungu sampun Ujaring si gaplok sabdane pra wiku lan ulama Datan maleh kuwawa hambasuh budi candolo Ambeg angkoro datan saget kagondoli Duh, jagat kuwasaning Gusti Pra dasih kadya selo brakiti hamawur tetangisan Katyoso saget kaprungu ing monco Lumarap ing waspa hanyaput sadya tentreming manah pra dasih Ing wetan brang pernahe Lumarap tapel wates gelang lan kuriphan Bumi blumbangan bakale katrajang ing mayangkara Nusa kembini bakalan hanglangut ing sepi Rinakut dening agni soko yomani Pra taruna gyo rangkut tumandang Gugur gunung gyo sabiyantu Lamun welas adedasar asih tanpa pamrih Tumuju ing prasetyoning karahayoning bawono Pralampita kasebat sampun, tutuping warso gyo kinanti Gunggunging layon datan kapetung Wusana kinaryo tumbal gyo Hyang Batara Kala Sinengker sampun lakuning jagad kadulu Datan sadengah titah gyo purna mratelakaken kang dumugi Lamun datan titah pujangkara kasihing Gusti Mesti bakal katalumpen soho kasiku hamedar sasmitaning alam sunyaluri kasebat sastra jendra hayuningrat Lamun taksih karsa ing pepemut Lamun taksih eling ing pepeling Lamun taksih setyotuhu mring piwulanging werda suci Lamun taksih kadunungan cahyaning Gusti Mrih rahayu ing tindak dumugi Tansah emut sasmitaning kang simandi Tutup babagan hawa sanga mesu budi olah semedi Tansah manuwun pangayoman saking Gusti Tansah waspada mring lakuning tirta ubaling agni angkara Laju kiprahipun bayu bakale Gyo hamikut bebanten dumugi Wadya bala bregasakan gyo kembul bujana handra wina Handulu waspa soho panandaning pra kawulo Wong tua kang kecalan atmojo Kanoman podo  liwung kapengat dening asmara Rerantaning bocah kang katilar wong tuwo dadi kunarpo Eling den eling……. Gelar sepapan barisaning pra lampor hambrakut kidul pernahe Padjajaran bumi pinangko pambukaning pepemut Tutuping warso pinangka madyaning lampah nampi pacobi Lamun taksih kadunungan daya iman sejati bakale adoh ing bilahi Tapel wates gelang, kuriphan lumeret wetan bumi Blumbangan Jinangka Nusa Kembini bakale kapiran ing bilahi Bumi Klungkung manggih rahayu Kalis ing rubedo, kalis ing bebendu Wusananing oncating Sang kala, Katitik ing pucuking Sapta renggo Sang Nata gyo jumangkah, Nungkulaken kyai sidem kayom Pinayungan  songgsong tunggul naga, Kaderekaken sang Ismoyo Gyo luwar sadya panandhang, Oncat kapracondang pra wadya begasaan Gyo sumingkir podo tinggal glanggang Kasoran pamoring sang nata Bumi djawi rahayu kinanti ing dumugi Lamun katumbalan iklhas ing budi Gyo bali minturut dawuh Soho piwulang ing werda suci Sakawit sadya puniko Hamung kinaryo hangunduh wohing pakarti Tansah ngunjuk syukur mring Ilahi Saperlu rahayu awak mami Sabab tanpo rowang sanak kadang bakale ngrewangi Manowo taksih nandang pacobi Hamung Iman soho setyo ing janji Mring dawuhing guru sejati bakale bisa Wujudake manunggaling kawula Gusti Inggih puniko margi ingkang bakale nyentosani