www.arcocrewek.com

Arcocrewek

Minggu, 27 April 2014

Perang BRONTOYUDO

Beberapa saat sebelum perang Pada hari pertempuran pertama, begitu juga pada hari-hari berikutnya, pasukan para Korawa berbaris menghadap barat sedangkan pasukan para Pandawa berbaris menghadap timur. Pasukan Korawa membentuk formasi seperti burung elang: pasukan penunggang gajah sebagai tubuhnya; pasukan para Raja dan ksatria di barisan depan sebagai kepalanya; dan pasukan penunggang kuda sebagai sayapnya. Dalam urusan perang, Bisma berkonsultasi dengan panglima Drona, Bahlika dan Krepa. Pasukan Pandawa diatur oleh Yudistira dan Arjuna agar membentuk "formasi Bajra". Karena pasukan Pandawa lebih kecil daripada pasukan Korawa, maka strategi berperang dibuat agar memungkinkan pasukan yang kecil untuk menyerang pasukan yang besar. Sesuai strategi Pandawa, pasukan pemanah akan menghujani musuh dengan panah dari belakang pasukan garis depan. Pasukan garis depan menggunakan senjata langsung jarak pendek seperti: gada, pedang, kapak, tombak, dll. Pasukan Korawa terdiri dari sebelas divisi di bawah perintah Bisma. Sepuluh divisi pasukan Korawa membentuk barisan yang sangat hebat, sedangkan divisi kesebelas masih berada di bawah aba-aba langsung dari Bisma, dan sebagian divisi melindunginya dari serangan langsung karena Bisma sangat berguna dan merupakan harapan untuk menang. Setelah sepakat dengan formasi dan strategi masing-masing, pasukan kedua belah pihak berbaris rapi. Duryodana optimis melihat pasukan Korawa memiliki para kesatria tangguh yang setara dengan Bima dan Arjuna. Namun ada tokoh-tokoh lain yang setara dengan mereka seperti Yuyudana (Satyaki), Wirata, dan Drupada yang ia anggap sebagai batu rintangan dalam mencapai kajayaan dalam pertempuran. Ia juga optimis karena ksatria-ksatria yang sangat ahli di bidang militer, yaitu Bisma, Karna, Kertawarma, Wikarna, Burisrawa, dan Krepa, ada di pihaknya. Selain itu Raja agung seperti Yudhamanyu dan Uttamauja yang sangat perkasa juga turut berpartisipasi dalam pertempuran sebagai penghancur bagi musuh-musuhnya. Bisma, dengan diikuti oleh Para Raja dan ksatria dari kedua belah pihak meniup "sangkala" (terompet kerang) mereka tanda pertempuran akan segera dimulai. Patung Kresna yang sedang memberikan wejangan kepada Arjuna menjelang pertempuran. Patung tersebut terdapat di Tirumala, India. Ketika terompet sudah ditiup dan kedua pasukan sudah berhadap-hadapan, bersiap-siap untuk bertempur, Arjuna menyuruh Kresna, guru spiritual sekaligus kusir keretanya, agar mengemudikan keretanya menuju ke tengah medan pertempuran supaya ia bisa melihat, siapa yang siap bertempur dan siapa yang harus ia hadapi. Tiba-tiba Arjuna dilanda perasaan takut akan kemusnahan wangsa Bharata, keturunan Kuru, nenek moyangnya. Arjuna juga dilanda kebimbangan akan melanjutkan pertarungan atau tidak. Ia melihat kakek tercintanya, bersama-sama dengan gurunya, paman, saudara sepupu, ipar, mertua, dan teman bermain semasa kecil, semuanya kini berada di Kurukshetra, harus bertarung dengannya dan saling bunuh. Arjuna merasa lemah dan tidak tega untuk melakukannya. Dilanda oleh pergolakan batin, antara mana yang merupakan ajaran agama, mana yang benar dan mana yang salah, Arjuna bertanya kepada Kresna yang mengetahui dengan baik segala ajaran agama. Kresna, yang memilih menjadi kusir kereta Arjuna, menjelaskan dengan panjang lebar ajaran-ajaran ketuhanan dan kewajiban seorang kesatria, agar dapat membedakan antara yang baik dengan yang salah. Ajaran tersebut kemudian dirangkum menjadi sebuah kitab filsafat yang sangat terkenal yang bernama Bhagawadgita. Dalam Bhagawadgita, Kresna menyuruh Arjuna untuk tidak ragu dalam melakukan kewajibannya sebagai seorang ksatria yang berada di jalur yang benar. Ia juga mengingatkan bahwa kewajiban Arjuna adalah membunuh siapa saja yang ingin mengalahkan kebajikan dengan kejahatan. Kemudian Sri Kresna menunjukkan bentuk semestanya kepada Arjuna, agar Arjuna tahu siapa ia sesungguhnya sehingga segala keraguan dalam hatinya sirna. Dalam wujud semesta tersebut, ia meyakinkan Arjuna bahwa sebagian besar para ksatria perkasa dikedua belah pihak telah dihancurkan, dan yang bertahan hidup hanya beberapa orang saja, maka tanpa ragu Arjuna harus mau bertempur. Sebuah patung di Singapura, yang menggambarkan adegan Kresna menampakkan wujud rohaninya (Wiswarupa) kepada Arjuna. Sebelum pertempuran dimulai, Yudistira melakukan sesuatu yang mengejutkan. Tiba-tiba ia meletakkan senjata, melepaskan baju zirah, turun dari kereta dan berjalan ke arah pasukan Korawa dengan mencakupkan tangan seperti berdoa. Para Pandawa dan para Korawa tidak percaya dengan apa yang dilakukannya, dan mereka berpikir bahwa Yudistira sudah menyerah bahkan sebelum panah sempat melesat. Ternyata Yudistira tidak menyerah. Dengan hati yang suci Yudistira menyembah Bisma dan memohon berkah akan keberhasilan. Bisma, kakek dari para Pandawa dan Korawa, memberkati Yudistira. Setelah itu, Yudistira kembali menaiki keretanya dan pertempuran siap untuk dimulai. Hari pertama Setelah isyarat penyerangan diumumkan, kedua belah pihak maju dengan senjata lengkap. Divisi pasukan Korawa dan divisi pasukan Pandawa saling bantai. Bisma maju menyerang tentara Pandawa dan membinasakan apapun yang menghalangi jalannya. Abimanyu putra Arjuna melihat hal tersebut dan menyuruh para pamannya agar berhati-hati. Ia sendiri mencoba menyerang Bisma dan para pengawalnya, namun usaha para kesatria Pandawa tidak berhasil. Mereka menerima kekalahan. Putra Raja Wirata – Utara – maju menghadapi Salya Raja Madra. Utara yang menaiki gajah perang, mencoba melumpuhkan kereta perang Salya. Setelah keretanya lumpuh, Salya meluncurkan senjata lembingnya ke arah Utara. Senjata tersebut menembus baju zirah Utara. Kemudian, Salya menyerang gajah tunggangan Utara dengan panah-panahnya. Utara dan gajahnya pun gugur seketika. Setelah Utara gugur, Sweta mengamuk. Dengan nafsu membunuh, ia mengejar Salya. Para kesatria Korawa yang menyadari hal itu segera melindungi Salya, namun tidak ada yang mampu mengatasi kemarahan Sweta. Akhirnya Bisma turun tangan. Dengan senjata khusus, ia memanah Sweta sehingga kesatria tersebut gugur seketika. Ketidakmampuan Pandawa melawan Bisma, serta kematian Utara dan Sweta di hari pertama, membuat Yudistira menjadi pesimis. Namun Sri Kresna berkata bahwa kemenangan sesungguhnya akan berada di pihak Pandawa. Hari kedua Pada hari kedua, Arjuna bertekad untuk membalikkan keadaan yang didapat pada hari pertama. Arjuna mencoba untuk menyerang Bisma dan membunuhnya, namun para pasukan Korawa berbaris di sekeliling Bisma dan melindunginya dengan segenap tenaga sehingga meyulitkan Arjuna. Pasukan Korawa menyerang Arjuna yang hendak membunuh Bisma. Kedua belah pihak saling bantai, dan sebagian besar pasukan Korawa gugur di tangan Arjuna. Setelah menyapu seluruh pasukan Korawa, Arjuna dan Bisma terlibat dalam duel sengit. Sementara itu Drona menyerang Drestadyumna bertubi-tubi dan mematahkan panahnya berkali-kali. Bima yang melihat keadaan tersebut menyongsong Drestadyumna dan menyelamatkan nyawanya. Duryodana mengirim pasukan bantuan dari kerajaan Kalinga untuk menyerang Bima, namun serangan dari Duryodana tidak berhasil dan pasukannya gugur semua. Satyaki yang bersekutu dengan Pandawa memanah kusir kereta Bisma sampai meninggal. Tanpa kusir, kuda melarikan kereta Bisma menjauhi medan laga. Di akhir hari kedua, pihak Korawa mendapat kekalahan. Hari ketiga Kesabaran Kresna habis sehingga ia ingin membunuh Bisma dengan tangannya sendiri, namun dicegah oleh Arjuna. Pada hari ketiga, Bisma memberi instruksi agar pasukan Korawa membentuk formasi burung elang dengan dirinya sendiri sebagai panglima berada di garis depan sementara tentara Duryodana melindungi barisan belakang. Bisma ingin agar tidak terjadi kegagalan lagi. Sementara itu para Pandawa mengantisipasinya dengan membentuk formasi bulan sabit dengan Bima dan Arjuna sebagai pemimpin sayap kanan dan kiri. Pasukan Korawa menitikberatkan penyerangannya kepada Arjuna. Kemudian kereta Arjuna diserbu oleh berbagai panah dan tombak. Dengan kemahirannya yang hebat, Arjuna membentengi keretanya dengan arus panah yang tak terhitung jumlahnya. Abimanyu dan Satyaki menggabungkan kekuatan untuk menghancurkan tentara Gandara milik Sangkuni. Bima dan putranya, Gatotkaca, menyerang Duryodana yang berada di barisan belakang. Panah Bima melesat menuju Duryodana yang menukik di atas keretanya. Kusir keretanya segera membawanya menjauhi pertempuran. Tentara Duryodana melihat pemimpinnya menjauhi pertarungan. Bisma melihat hal tersebut lalu menyuruh agar pasukan bersiap siaga dan membentuk kembali formasi, kemudian Duryodana datang kembali dan memimpin tentaranya. Duryodana marah kepada Bisma karena masih segan untuk menyerang para Pandawa. Bisma kemudian sadar dan mengubah perasaannnya kepada para Pandawa. Arjuna dan Kresna mencoba menyerang Bisma. Arjuna dan Bisma sekali lagi terlibat dalam pertarungan yang bengis, meskipun Arjuna masih merasa tega dan segan untuk melawan kakeknya. Kresna menjadi sangat marah dengan keadaan itu dan berkata, "Aku sudah tak bisa bersabar lagi, Aku akan membunuh Bisma dengan tanganku sendiri," lalu ia mengambil sejata cakranya dan berlari ke arah Bisma. Arjuna berlari mengejarnya dan mencegah Kresna untuk melakukannya. Kemudian mereka berdua melanjutkan pertarungan dan membinasakan banyak pasukan Korawa. Hari keempat Hari keempat merupakan hari dimana Bima menunjukkan keberaniannya. Bisma memerintahkan pasukan Korawa untuk bergerak. Abimanyu dikepung oleh para ksatria Korawa lalu diserang. Arjuna melihat hal tersebut lalu menolong Abimanyu. Bima muncul pada saat yang genting tersebut lalu menyerang para kstria Korawa dengan gada. Kemudian Duryodana mengirimkan pasukan gajah untuk menyerang Bima. Ketika Bima melihat pasukan gajah menuju ke arahnya, ia turun dari kereta dan menyerang mereka satu persatu dengan gada baja miliknya. Mereka dilempar dan dibanting ke arah pasukan Korawa. Kemudian Bima menyerang para kesatria Korawa dan membunuh delapan adik Duryodana. Akhirnya ia dipanah dan tersungkur di keretanya. Gatotkaca melihat hal tersebut, lalu merasa sangat marah kepada pasukan Korawa. Bisma menasehati bahwa tidak ada yang mampu melawan Gatotkaca yang sedang marah, lalu menyuruh pasukan agar mundur. Pada hari itu, Duryodana merasa sedih telah kehilangan saudara-saudaranya. Saat pertempuran di hari itu berakhir, Duryodana yang diliputi duka dan kekecewaan datang menemui Bisma untuk menanyakan penyebab Pandawa mampu bertahan dan mengalahkan kekuatan pasukan Korawa yang konon amat dahsyat. Bisma menjawab bahwa Pandawa bertindak di bawah panji kebenaran, sehingga lebih baik mengadakan perjanjian damai dengan mereka. Namun Duryodana yang keras kepala tidak mau menuruti nasihat tersebut. Hari kelima Ilustrasi perang di Kurukshetra dari kitab Mahabharata. Pada hari kelima, pertempuran terus berlanjut. Pasukan Pandawa dengan segenap tenaga membalas serangan Bisma. Bima berada di garis depan bersama Srikandi dan Drestadyumna di sampingnya. Satyaki berhadapan dengan Drona dan kesulitan untuk membalas serangannya. Bima pergi meninggalkan Srikandi yang menyerang Bisma. Karena Srikandi berperan sebagai seorang wanita, Bisma menolak untuk bertarung dan pergi. Sementara itu, Satyaki membinasakan pasukan besar yang dikirim untuk menyerangnya. Pertempuran dilanjutkan dengan pertarungan antara Setyaki melawan Burisrawa dan kemudian Satyaki kesusahan sehingga berada dalam situasi genting. Melihat hal itu, Bima datang melindungi Satyaki dan menyelamatkan nyawanya. Di tempat lain, Arjuna bertempur dan membunuh ribuan tentara yang dikirim Duryodana untuk menyerangnya. Hari keenam Yudistira menyuruh Drestadyumna agar membentuk formasi Makara, dengan Drupada dan Arjuna sebagai pemimpin garis depan. Untuk menandingi kekuatan Yudistira, Bisma menginstruksikan agar pasukan Korawa membentuk formasi burung bangau, dengan Balhika dan angkatan perangnya sebagai pemimpin garis depan. Bima bertarung melawan Drona dengan sengit. Bima memanah kusir kereta Drona sehingga tewas seketika. Drona mengambil alih kedudukan kusirnya, lalu menghancurkan sebagian besar pasukan Pandawa. Serangan Drona dihadapi oleh Drestadyumna. Sementara itu, Bima melancarkan serangan ke garis pertahanan yang terdiri dari putra-putra Dretarastra, yaitu: Dursasana, Durwisaha, Dursaha, Durmada, Jaya, Jayasena, Wikarna, Citrasena, Sudarsana, Carucitra, Duskarna, Karna (Karna adik Duryodana, bukan Karna sahabat Duryodana). Mereka semua mengepung Bima dari segala penjuru. Bima meloncat turun dari keretanya sambil membawa gada. Di tengah pasukan musuh, Bima mengamuk sehingga pasukan Korawa kacau-balau. Melihat Bima dalam bahaya, Drestadyumna segera meninggalkan Drona dengan maksud membantu Bima. Dengan bantuan Drestadyumna, Bima menghancurkan pasukan Korawa dengan lebih mudah. Setelah menyaksikan Bima dalam bahaya, Yudistira mengirim Abimanyu untuk membantu pamannya tersebut. Abimanyu melawan para putra Dretarastra, sementara Duryodana dihadapi oleh lima putra Dropadi, yaitu Pratiwindya, Sutasoma, Srutakarma, Satanika, dan Srutakirti. Menjelang sore hari, Bisma masih mengamuk menghancurkan pasukan Pandawa. Akhirnya, matahari terbenam dan seluruh pasukan ditarik mundur pada malam hari itu. Hari ketujuh Pada hari ketujuh, pasukan Korawa di bawah instruksi Bisma membentuk formasi Mandala. Untuk mengantisipasinya, Yudistira menginstruksikan agar pasukan Pandawa membentuk formasi Bajra. Arjuna berhasil merusak formasi Mandala, sehingga Bisma maju untuk menghadapinya. Sementara itu, Drona bertarung menghadapi Wirata Raja Matsya. Dengan serangan panahnya, Drona membuat kereta perang Wirata lumpuh. Kemudian Wirata meloncat dari keretanya untuk berpindah ke kereta Sangka, putranya. Meskipun Wirata dan Sangka sudah menggabungkan kekuatan, namun Drona masih tak terkalahkan. Sebaliknya, Drona berhasil menembakkan empat batang panah penembus baju zirah ke arah Sangka. Panah tersebut bersarang di dada Sangka, kemudian merenggut nyawanya. Sementara itu, Satyaki bertarung menghadapi raksasa Alambusa, sedangkan Drestadyumna menghadapi Duryodana. Satyaki berhasil mengalahkan raksasa Alambusa, sementara Drestadyumna berhasil melukai tubuh Duryodana dengan tujuh anak panah. Kemudian panah-panah menembus tubuh kuda dan kusir kereta Duryodana sehingga kendaraan tersebut lumpuh. Duryodana meloncat dari keretanya lalu diselamatkan oleh pamannya, Sangkuni dari Gandhara. Di tempat lain, Srikandi maju menghadapi Bisma. Bisma tidak menghiraukan Srikandi karena kesatria tersebut bersifat kewanitaan, sehingga ia lebih memilih menghancurkan pasukan Srinjaya, sekutu Pandawa. Pada hari tersebut, para kesatria Korawa lebih banyak menderita kekalahan dibandingkan pihak Pandawa. Hal tersebut membuat Dretarastra, ayah para Korawa merasa sedih. Sanjaya, penasihat Dretarastra mengatakan bahwa ia tidak perlu bersedih sebab kehancuran putra-putranya disebabkan oleh perbuatan mereka sendiri. Sanjaya menambahkan, bahwa kematian para kesatria yang gugur di medan perang akan membuka jalan surga bagi mereka. Hari kedelapan Pada hari kedelapan, Bima membunuh delapan putera Dretarastra, yaitu: Sunaba, Adityaketu, Wahwasin, Kundadara, Mahodara, Aparajita, Panditaka dan Wisalaksa. Sunaba, Adityaketu, Aparajita dan Wisalaksa gugur dengan kepala terpenggal, sedangkan yang lainnya gugur karena senjata panah yang diluncurkan Bima. Setelah menyaksikan kematian mereka, Duryodana memerintahkan para saudaranya yang masih hidup untuk membunuh Bima. Namun tak satu pun putra Dretarastra yang berani maju menghadapi Bima setelah mereka menyaksikan kematian delapan saudaranya. Sementara itu, Sangkuni putra Subala, dengan didampingi oleh putra Hredika dari kerajaan Satwata, menyerbu pasukan Pandawa. Pasukan penyerbu tersebut merupakan kavaleri gabungan dari berbagai kerajaan di India, seperti Kamboja, Sindhu, Mahi, Aratta, dll. Untuk menandinginya, Irawan putra Arjuna maju ke medan laga sambil membawa pasukan berkuda dalam jumlah besar. Dengan pedang dan panah, Irawan berhasil membunuh para saudara Sangkuni, kecuali Wresaba. Setelah pasukan putra Subala kacau balau, Duryodana mengirim raksasa Alambusa untuk membunuh Irawan. Kemudian, terjadilah pertempuran sengit antara Irawan melawan Alambusa. Keduanya sama-sama menggunakan kekuatan sihir, sama-sama sakti dan saling menghancurkan. Saat Irawan memunculkan seekor naga raksasa, Alambusa menanggapinya dengan menjelma menjadi seekor burung garuda raksasa. Burung siluman tersebut berhasil membunuh naga siluman yang dipanggil Irawan. Hal itu membuat Irawan terpaku menyaksikan kekalahannya. Pada saat itu juga, Alambusa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memenggal leher Irawan. Hari kesembilan Pada hari kesembilan, Abimanyu putra Arjuna menghancurkan laskar Korawa sambil mengamuk. Para kesatria terkemuka di pihak Korawa tidak mampu menghadapinya, karena seolah-olah Abimanyu merupakan Arjuna yang kedua. Melihat prajuritnya tercerai-berai, Duryodana memutuskan untuk mengirim raksasa Alambusa, putra Resyasringga. Raksasa tersebut menuruti perintah Duryodana. Ribuan prajurit Pandawa mati di tangannya, sehingga lima putra Dropadi bertindak. Mereka mencoba menahan serangan raksasa tersebut, namun tidak berhasil. Sebaliknya, justru nyawa mereka yang terancam. Setelah melihat para saudara tirinya sedang terancam, Abimanyu segera datang membantu mereka sekaligus menghadapi raksasa Alambusa. Tak lama kemudian, terjadilah pertempuran sengit antara Abimanyu melawan raksasa Alambusa. Dengan kemahirannya menggunakan senjata panah, Abimanyu berhasil mengalahkan Alambusa sehingga raksasa tersebut turun dari keretanya sambil melarikan diri karena kesakitan. Setelah Alambusa mengalami kekalahan, Bisma segera menghadapi Abimanyu. Dengan dikawal oleh para kesatria tangguh dari pihak Korawa, Bisma maju menerjang Abimanyu. Pada saat itu juga, Arjuna datang membantu Abimanyu. Kemudian Krepa menyerang Arjuna sehingga terjadilah pertarungan sengit di antara mereka. melihat keadaan tersebut, Satyaki datang membantu Arjuna. Aswatama putra Drona, datang membantu Krepa dengan meluncurkan panah-panahnya. Namun ternyata Satyaki mampu bertahan, bahkan membalas serangan Aswatama secara bertubi-tubi. Setelah Aswatama lelah menghadapinya, Drona muncul untuk membantu putranya tersebut. Sedangkan dari pihak Pandawa, Arjuna maju membantu Satyaki. Tak lama kemudian, terjadilah pertempuran sengit antara Arjuna melawan Drona. Meskipun demikian, baik Arjuna maupun Drona mampu bertahan hidup sebab mereka sama-sama sakti. Kemudian, Kresna mengingatkan Arjuna untuk segera membunuh Bisma. Maka dari itu, Arjuna segera memerintahkan Kresna untuk menjalankan keretanya menuju Bisma. Saat menghadapi Bisma, Arjuna masih segan untuk mengerahkan seluruh kemampuannya, sehingga pertarungan terlihat tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh. Melihat keadaan itu, Kresna menjadi marah. Ia turun dari keretanya sambil membawa cemeti dengan tujuan membunuh Bisma. Bisma tidak mengelak saat melihat tindakan Kresna. Sebaliknya, ia ikhlas apabila nyawanya melayang di tangan Kresna. Menanggapi hal tersebut, Arjuna segera meloncat dari keretanya, lalu memeluk kaki Kresna untuk menghentikan gerakan Kresna. Sekali lagi, Arjuna memohon agar Kresna meredam amarahnya. Kresna hanya diam setelah mendengar permohonan Arjuna. Kemudian mereka kembali menaiki kereta untuk melanjutkan peperangan. Hari kesepuluh Lukisan Bisma yang tidur di ranjang panah menjelang kematiannya. Sebuah koleksi dari Institusi Smithsonian. Lukisan Bisma saat sekarat, sedang berbaring dengan tubuh ditancapi ratusan panah. Lukisan diambil dari kitab Razmnama, atau Mahabharata versi Persia. Pada hari kesepuluh, Pandawa yang merasa tidak mungkin untuk mengalahkan Bisma menyusun suatu strategi. Mereka berencana untuk menempatkan Srikandi di depan kereta Arjuna, sementara Arjuna sendiri akan menyerang Bisma dari belakang Srikandi. Srikandi dipilih sebagai tameng Arjuna sebab ia merupakan seorang wanita yang berganti kelamin menjadi pria, dan hal itu membuat Bisma enggan menyerang Srikandi. Disamping itu, Srikandi merupakan reinkarnasi Amba, wanita yang mati karena perasaannya disakiti oleh Bisma, dan bersumpah akan terlahir kembali sebagai pembunuh Bisma yang menjadi penyebab atas penderitaannya. Srikandi menyerang Bisma, namun Bisma tidak menghiraukan serangannya. Sebaliknya, ia malah tertawa, sebab ia tahu bahwa kehadiran Srikandi merupakan pertanda buruk yang mampu mengantarnya menuju takdir kekalahan. Bisma juga tahu bahwa ia ditakdirkan gugur karena Srikandi, maka dari itu ia merasa sia-sia untuk melawan takdirnya. Bisma yang tidak tega untuk menyerang Srikandi, tidak bisa menyerang Arjuna karena tubuh Srikandi menghalanginya. Hal itu dimanfaatkan Arjuna untuk mehujani Bisma dengan ribuan panah yang mampu menembus baju zirahnya. Ratusan panah yang ditembakkan Arjuna menembus tubuh Bisma dan menancap di dagingnya. Bisma terjatuh dari keretanya, namun badannya tidak menyentuh tanah karena ditopang oleh panah-panah yang menancap di tubuhnya. Setelah Bisma jatuh, pasukan Pandawa dan Korawa menghentikan pertarungannya sejenak lalu mengelilingi Bisma. Bisma menyuruh Arjuna untuk meletakkan tiga anak panah di bawah kepalanya sebagai bantal. Kemudian, Bisma meminta dibawakan air. Tanpa ragu, Arjuna menembakkan panahnya ke tanah, lalu menyemburlah air dari tanah ke mulut Bisma. Meskipun tubuhnya ditancapi ratusan panah, Bisma masih mampu bertahan hidup sebab ia diberi anugrah untuk bisa menentukan waktu kematiannya sendiri. Dalam keadaan seperti itu, ia memberi wejangan kepada para cucunya yang melakukan peperangan. Meskipun sudah tak berdaya, Bisma mampu hidup selama beberapa hari sambil menyaksikan kehancuran pasukan Korawa. Hari kesebelas Setelah kekalahan Bisma pada hari kesepuluh, Karna memasuki medan laga dan melegakan hati Duryodana. Ia mengangkat Drona sebagai panglima tertinggi pasukan Korawa. Karna dan Duryodana berencana untuk menangkap Yudistira hidup-hidup. Membunuh Yudistira di medan laga hanya membuat para Pandawa semakin marah, sedangkan dengan adanya Yudistira para Pandawa mendapatkan strategi perang. Drona membantu Karna dan Duryodana untuk menaklukkan Yudistira. Ia memanah busur Yudistira hingga patah. Para Pandawa cemas karena Yudistira akan menjadi tawanan perang. Melihat hal itu, Arjuna turun tangan dan menghujani Drona dengan panah dan menggagalkan rencana Duryodana. Hari kedua belas Setelah menerima kegagalan, Drona yakin bahwa rencana untuk menaklukkan Yudistira sulit diwujudkan selama Arjuna masih ada. Raja Trigarta — Susarma — bersama dengan 3 saudaranya dan 35 putera mereka berada di pihak Korawa dan mencoba untuk membunuh Arjuna atau sebaliknya, gugur di tangan Arjuna. Mereka turun ke medan laga pada hari kedua belas dan langsung menyerbu Arjuna. Namun mereka tidak berhasil sehingga gugur satu persatu. Semakin hari kekuatan para Pandawa semakin bertambah dan memberikan pukulan yang besar kepada pasukan Korawa. Hari ketiga belas Ukiran di Kuil Hoysaleswara (Halebid, India), yang menggambarkan Abimanyu saat terkurung dalam formasi Cakrabyuha. Duryodana memanggil Bhagadatta, Raja Pragjyotisha (di zaman sekarang disebut Assam, sebuah wilayah di India). Bhagadatta merupakan putera dari Narakasura, raja yang dibunuh oleh Kresna beberapa tahun sebelumnya. Bhagadatta memiliki ribuan gajah yang berukuran sangat besar sebagai kekuatan pasukannya, dan ia dianggap sebagai kesatria terkuat di antara seluruh kesatria penunggang gajah pada zamannya. Bhagadatta menyerang Arjuna dengan mengendarai gajah raksasanya yang bernama Supratika. Pertempuran antara Arjuna melawan Bhagadatta terjadi dengan sangat sengit. Saat Arjuna sibuk dalam pertarungan yang sengit, di tempat lain, empat Pandawa sulit mematahkan formasi Cakrabyuha yang disusun Drona. Yudistira melihat hal tersebut dan menyuruh Abimanyu, putera Arjuna, untuk merusak formasi Cakrabyuha, sebab Yudistira tahu bahwa hanya Arjuna dan Abimanyu yang bisa mematahkan formasi tersebut. Saat Abimanyu memasuki formasi tersebut, empat Pandawa melindunginya di belakang. Namun, keempat Pandawa dihadang Jayadrata sehingga Abimanyu memasuki formasuki Cakrabyuha tanpa perlindungan. Akhirnya, Abimanyu dikepung oleh para kesatria Korawa, lalu terbunuh oleh serangan serentak. Menjelang akhir hari kedua belas, setelah melalui pertarungan yang sengit, akhirnya Bhagadatta dan Susarma gugur di tangan Arjuna. Sementara itu, Abimanyu gugur karena terjebak dalam formasi Cakrabyuha. Setelah mengetahui kematian putranya, Arjuna marah pada Jayadrata yang menghalangi usaha para Pandawa untuk melindungi Abimanyu. Ia bersumpah akan membunuh Jayadrata pada hari keempat belas. Ia juga bersumpah bahwa jika ia tidak berhasil melakukannya sampai matahari terbenam, ia akan membakar dirinya sendiri. Hari keempat belas Saat berusaha mencari Jayadrata di medan pertempuran, Arjuna menghancurkan satu aksauhini (109.350 tentara) prajurit Korawa. Pasukan Korawa melindungi Jayadrata dengan baik, untuk mencegah Arjuna menyerangnya. Akhirnya, menjelang sore, Arjuna mendapati bahwa Jayadrata dikawal oleh Karna dan lima kesatria perkasa lainnya. Setelah melihat keadaan temannya, Kresna mengangkat Sudarsana Cakra-nya untuk menutupi matahari, menipu seolah-olah matahari terbenam. Seluruh prajurit menghantikan pertempuran karena merasa bahwa siang hari telah berakhir. Dengan demikian, Jayadrata tanpa perlindungan. Saat matahari menampakkan sinar terakhirnya di hari tersebut, Arjuna menembakkan panah dahsyatnya yang kemudian memenggal kepala Jayadrata. Pertempuran berlanjut setelah matahari terbenam. Saat bulan tampak bersinar, Gatotkaca, putra Bima membunuh banyak kesatria, dan menyerang lewat udara. Karna menghadapinya lalu mereka bertarung dengan sengit, sampai akhirnya Karna mengeluarkan Indrastra, sebuah senjata surgawi yang diberikan kepadanya oleh Dewa Indra. Gatotkaca yang menerima serangan tersebut lalu memperbesar ukuran tubuhnya. Ia gugur seketika kemudian jatuh menimpa ribuan prajurit Korawa. Hari kelima belas Sebuah lukisan dari Himachal Pradesh, India. Di sini digambarkan Arjuna dan pasukannya (kiri) menghadapi Karna dan pasukannya (kanan). Setelah Raja Drupada dan Raja Wirata dibunuh oleh Drona, Bima dan Drestadyumna bertarung dengannya di hari kelima belas. Karena Drona amat kuat dan memiliki brahamastra (senjata ilahi) yang tak terkalahkan, Kresna memberi isyarat pada Yudistira bahwa Drona akan menyerah apabila Aswatama – putranya – gugur dalam perang tersebut. Kemudian Bima membunuh seekor gajah bernama Aswatama, dan berteriak dengan keras bahwa Aswatama gugur. Drona mendekati Yudistira untuk mencari kepastian tentang kematian putranya. Yudistira berkata "Ashwathama Hatha Kunjara", namun dua kata terakhir "Hatha Kunjara" yang menerangkan bahwa seekor gajah telah mati, tidak terdengar karena kegaduhan bunyi genderang dan terompet atas perintah Kresna (versi yang berbeda menyebutkan bahwa Yudistira melafalkan kata-kata terakhir tersebut dengan sangat pelan sehingga Drona tidak mendengar kata "gajah"). Sebelum peristiwa tersebut, kereta perang Yudistira, yang disebut Dharmaraja (Raja Kebenaran), melayang beberapa inci dari tanah. Setelah peristiwa tersebut, keretanya menyentuh tanah. Setelah menduga bahwa putranya telah tiada, Drona merasa berdukacita, dan menjatuhkan senjatanya. Kemudian ia dibunuh oleh Drestadyumna untuk membalaskan dendam ayahnya sekaligus melaksanakan sumpahnya. Setelah perang di hari itu berakhir, Kunti (ibu para Pandawa) secara rahasia pergi menemui Karna, putra yang dibuangnya, dan memintanya untuk mengampuni nyawa para Pandawa, karena mereka adalah adiknya. Karna berjanji pada Kunti bahwa ia akan mengampuni nyawa para Pandawa, kecuali Arjuna. Ilustrasi pertarungan sengit antara Arjuna melawan Karna. Hari keenam belas Pada hari keenam belas, Karna menjadi panglima tertinggi pasukan Korawa. Ia membunuh banyak prajurit pada hari itu. Sebuah pertempuran sengit terjadi antara Arjuna melawan Karna. Bahkan Kresna memuji Karna atas keberaniannya. Akhirnya Karna berhasil memutuskan tali busur Arjuna. Tepat saat Karna akan membunuh Arjuna, matahari terbenam. Karena memperhatikan peraturan peperangan, Karna mengampuni nyawa Arjuna. Ada versi berbeda mengenai akhir hari kedelapan belas. Diceritakan bahwa Karna bertempur dengan gagah berani meski dikelilingi para jendral pasukan Pandawa. Mereka semua tidak mampu melawannya. Karna memberi serangan mematikan pada pasukan Pandawa sehingga mereka melarikan diri. Kemudian Arjuna berhasil mematahkan senjata Karna dengan senjatanya sendiri, dan juga memberikan serangan mematikan pada pasukan Korawa. Tak lama kemudian matahari terbenam, dan karena kegelapan dan debu membuat pertempuran berlangsung dengan sulit, maka pasukan Korawa ditarik mundur, dengan tujuan menghindari pertempuran di malam hari. [4] Hari ketujuh belas Peristiwa ini terjadi sesaat menjelang kematiannya di tangan Arjuna.]] Pada hari ketujuh belas, Karna mengalahkan Bima dan Yudistira dalam pertempuran, namun nyawa mereka diampuni. Kemudian, Karna melanjutkan pertarungannya melawan Arjuna. Saat bertarung, roda kereta Karna terperosok ke dalam lumpur sehingga Karna meminta izin untuk menghentikan pertarungan sejenak. Melihat kesempatan tersebut, Kresna mengingatkan Arjuna tentang sikap Karna yang tidak berbelas kasihan pada Abimanyu saat Abimanyu terbunuh setelah kehilangan senjata dan keretanya. Terungkitnya kenangan pahit tersebut membuat hati Arjuna perih kembali. Kemudian, Arjuna menembakkan panahnya untuk memenggal Karna, pada saat Karna berusaha mengangkat roda keretanya yang terprosok ke dalam lumpur. Pada hari yang sama, Bima menghancurkan kereta Dursasana dengan gadanya. Bima menangkap Dursasana lalu membunuhnya, sehingga terpenuhilah sumpah yang dibuatnya saat Dropadi dipermalukan. Hari kedelapan belas Pada hari kedelapan belas, Salya Raja Madra diangkat sebagai panglima tertinggi pasukan Korawa, menggantikan posisi Karna. Pada hari itu juga, Yudistira membunuh Raja Salya, Sadewa membunuh Sangkuni, dan Bima membunuh para adik Duryodana yang masih bertahan. Setelah sadar bahwa ia telah dikalahkan, Duryodana lari dari medan pertempuran lalu beristirahat di sebuah danau. Ahirnya para Pandawa berhasil menangkapnya. Di bawah pengawasan Baladewa, pertandingan gada berlangsung antara Bima melawan Duryodana, dimana akhirnya Duryodana mengalami kekalahan. Aswatama, Krepa, dan Kertawarma bertemu Duryodana pada saat kesatria tersebut sedang sekarat. Mereka berjanji akan membalaskan dendamnya. Kemudian pada malam hari, mereka menyerang perkemahan para Pandawa, lalu membunuh lima putra Pandawa (Pancawala), Drestadyumna dan Srikandi.

Jumat, 25 April 2014

WEJANGAN PRABU JOYOBOYO

Wedjangan kanggo mangerteni marang kuwasaning Gusti. Nyiptakake ukuming agomo Kedjawen kang ono wolong perkoro, kanggoning bongoso Djowo. ———————————-

1. Kedjawen: among Gusti engkang moho kuwoso, nyiptakake kahuripan sarto ukume kahuripan kanggone bongoso Djowo. Kang uwes katulis deneng: Djoborolo, Mokoholo, Hosoropolo, Hodjorolo. Wekasaning Gusti: Tresnoho marang kahuripan siro, bandjor tresnoho marang sak podho – podhoning urep.

2. Gusti engkang welas asih, lan moho kuwoso. Engkang kuwoso nyiptakake Djoborolo, Mokoholo, Hosoropolo, Hodjorolo kang diutos Gusti, ndjogo kahuripaning bongoso Djowo. Wekasaning Gusti: Ngelingono marang asal usol siro, odjo tumindak olo marang kahuripan siro. Semono ugo marang djalmo manungso.

3. Gusti engkang welas asih, lan moho kuwoso. Engkang kuwoso ngutos Hosoropolo. Kanggo aringi pangelingan marang bongoso Djowo, supoyo biso mangerteni marang udjuting roso. Wekasaning Gusti: tumindakho kang djudjor marang roso siro. Awet roso kuwi tjahyoning Gusti kang moho sutji. Kang manggon ono ing rogo siro, odjo diregetake.

4. Gusti engkang welas asih, lan moho kuwoso. Kang kuwoso nyiptakake sedulor papat. Supoyo bongoso Djowo biso mangerteni marang kuwasane, kang diparengake Gusti naliko iseh ing bumi sutji. Wekasaning Gusti: tumindakho kang betjek marang sedulor papat, kang asmone Djoborolo, Mokoholo, Hosoropolo, Hodjorolo.

5. Gusti engkang welas asih, lan moho kuwoso. Supoyo bongoso Djowo biso nyirnakake sengkalane kahuripan, kang katon ugo kang ora katon, kang tekane soko setan. Ugo marang kasengsarane sukmo yen uwes bali marang kuwasaning Gusti. Wekasaning Gusti: tumindakho kang nastiti, marang. Sengkalane kahuripan. Supoyo yen siro bali ono ing ngarsaning Gusti, sukmo siro biso samporno.

6. Gusti engkang welas asih, lan moho kuwoso. Engkang kuwoso pareng dungo lan bohoso ngawi gaib, marang Djoborolo, Mokoholo, Hosoropolo, Hodjorolo, supoyo bongoso Djowo, biso mangerteni marang kuwasane sedulor papat, lan biso tjedak marang Gusti. Wekasaning Gusti: tumindakho kang sabar yen kahuripan siro ing bebayan. Gunakake kadegdayan siro, bebayan opo wahe bakal sirno soko kahuripan siro.

7. Gusti engkang welas asih, lan moho kuwoso. Engkang kuwoso pareng pangaksumo marang bongoso Djowo. Supoyo yen bongoso Djowo nduweni kesalahan, biso ngakoni, kesalahane marang kahuripane, lan nenuwon marang Gusti. Wekasaning Gusti: Tumindakho kang betjek, odjo nuruti angkoro murko, kang tekane soko setan. Awet kasengsaran kang teko kanggo kahuripaning siro. Kang bakal nyonggo, anak lan putu siro.

8. Gusti engkang welas asih, lan moho kuwoso. Engkang kuwoso nyempurnakake sak isine rogo kang ono ing kahuripaning bongoso Djowo, bali sempurno marang kahananing Gusti, kang moho kuwoso. Wekasaning Gusti: Tumindakho kang sempurno marang udjuting kahuripan. Budi, roso, pikiran, lan angen – angen. Awet Djoborolo, Mokoholo, Hosoropolo, Hodjorolo, kang bakal. mbarengi lan nyaksekake marang pisahe sukmo, lan gone side

. Wedjangan kanggo mangerteni marang kuwasaning Gusti. Nyiptakake kahuripan kang ono ing djagat iki. ——————————————————

- 1. Sak durunge langet lan bumi ono kang manggoni. Gusti kang luweh disek nyiptakake isinelanget kang disebut: Mbulan, lintang, lan srengenge, kang dadi panunggune langet

. 2. Bandjor Gusti nyiptakake kahuripan kang disebut: Tetanduran, kang dadi panunggune, bumimulyo.

3. Wedjangan kanggo mangerteni marang kuwasaning Gusti. Nyiptakake kahuripan marang sedulor papat —————————————————

– Sak uwise Gusti nyiptakake kahuripan kang dadi panunggune bumi mulyo, kang disebut tetanduran. Bandjor Gusti nyiptakake kahuripan kang tekane soko angin, kang disebut molekat, kang dadi utusaning Gusti. Ndjogo kahuripan kang ono ing djagat iki. Semono ugo asmoning molekat kang tjatjahe ono papat.

1. Nduweni asmo: Djoborolo

. 2. Nduweni asmo: Mokoholo

. 3. Nduweni asmo: Hosoropolo

. 4. Nduweni asmo: Hodjorolo.

4. Wedjangan kanggo mangerteni marang kuwasaning Gusti. Nyiptakake bumi sentoso. ——————————

Sak uwise Gusti nyiptakake kahuripan, kanggone molekat kang tjatjahe ono papat. Bandjor Gusti nyiptakake bumi sentoso, ugo kang biso disebut suwargo. Kanggone kahuripaning molekat. Ugo kanggo kahuripaning Midodari kang dadi utusaning molekat, kang manggon ono ing bumi sentosane Gusti. Ugo kanggo kahuripane djalmo mengkone, yen sabdhoning Gusti kuwi uwes temurun kanggoning djalmo manungso. Kang bakal disampekake; Djoborolo, Mokoholo, Hosoropolo, Hodjorolo

. 5. Wedjangan kanggo mangerteni marang kuwasaning Gusti. Nyiptakake setan kang disebut somoro bumi ugo anak lan putune. —————————— Sak uwise Gusti nyiptakake bumi sentoso kang dadi panggonane Djoborolo, Mokoholo, Hosoropolo, Hodjorolo ugo poro Midodari. Bandjur Gusti nyiptakake kahuripan kang asale soko geni yo kuwi rojone setan kang disebut; Somoro Bumi. Lan iki ugo biso disebut kahuripane djalmo setan kang wiwitan. Kang teko ndjogo kahuripan ono ing bumi mulyo kene, soko perintahing Gusti.

6. Wedjangan kanggo mangerteni marang kuwasaning Somoro Bumi. Nyiptakake bumi sentoso, ugo kang biso disebut neroko. ———————————–

Sak uwise Gusti nyiptakake setan kang asmone Somoro Bumi. Kang nduweni kuwoso sak uwise Djoborolo, Mokoholo, Hosoropolo, Hodjorolo. Bandjur Somoro Bumi ngetokake kuwasane nyiptakake bumi sentoso kanggo kahuripane djalmo, kang melu marang dalane Somoro Bumi ono ing bumi mulyo kene. Bandjor Gusti, nyiptakake djolomo kewan.

7. Wedjangan kanggo mangerteni ma rang kuwasaning Gusti. Nyiptakake djolomo monongoso djowo, kang wiwitan teko ngidak bumi mulyo kene. ———————————————–

Sam uwise Gusti, nyiptakake langet lan bumi sarto isine. Bandjor teko sabdhoning Gusti kang keri dewe. Nyiptakake kahuripan kanggone djolomo monongoso djowo.

1. Budine kahuripan kang nunggu, Djoborolo.

2. Rosone kahuripan kang nunggu, Mokoholo.

3. Pikirane kahuripan kang nunggu, Hosoropolo.

4. Sukmane kahuripan kang nunggu, Hodjorolo. Bandjor metu sabdhoning Gusti, kanggoning Djoborolo, Mokoholo, Hosoropolo, Hodjorolo, kanggo nulis sabdhoning Gusti, ono ing layang Djojobojo.

8. Wedjangan kanggo mangerteni marang kuwasaning Gusti. Nyiptakake kahuripan lan sak isine kang ono ing djagat iki. ———————————————————————–

1. Langet lan bumi.

2. Mbulan lintang srengenge.

3. Tetanduran.

4. Suwargo.

5. Molekat. Djoborolo,

6. Mokoholo,

7. Hosoropolo,

8. Hodjorolo.

9. Setan Somoro Bumi.

10. Somoro Bumi nyiptakake neroko.

11. Djolomo Kewan.

12. Djolomo monongoso djowo

Selasa, 15 April 2014

MANEMBAH

Kang kudu dingerteni barang-barang apa wae kang wis kita silih, yaiku urip. Urip iki asale saka Kang Gawe Urip, utawa Gusti Kang Murbeng Dumadi mau. Kaya kang tinulis ing Al-Qur’an surat Al Haj (surat 22) ayat 5: “He para manungsa. Menawa sira mamang perkara bakal tangine wong kang wis mati, sira mikira. Ingsun wis gawe leluhurira Nabi Adam saka lemah, saiki Ingsun nitahake awakira saka mani. Banjur dadi getih kenthel, banjur Ingsun dadekake daging ganep wujud bayi lan ora ganep (lengkap). Supaya sira terangake kasampurnan kuwasa-Ningsun. Lesan mau kang Ingsun kersakake lestari dadi manungsa. Ingsun lerenake ing guwagarba tekan mangsane lair. Sira banjur Ingsun wetokake dadi bayi, nuli Ingsun paringi urip nganti tekan wayah mempeng. Saweneh manungsa ana kang mati sadurunge dewasa, lan ana kang dawa umure nganti pikun, (iku Kersaningsun) nganti si pikun mau lali barang kang maune disumurupi. Lan maneh sira andeleng bumi iku ngenthak-enthak tanpa thethukulan. Bareng wis Ingsun turuni banyu udan, banjur ngarejet (obah) thukul thethukulan warna-warna kang mbungahake para manungsa (kang becik-becik).” Sejatine manungsa urip iku kadunungan telung perkara, yaiku badan wadhag kang asale saka manine bapa lan sel telure biyung, kaloro badan alus (roh) kang asale saka alam arwah, lan katelu urip kang asale saka paringane Gusti Kang Murbeng Dumadi. Katelune kaiket utawa ditaleni dening taline urip yaiku nafas, dadi wadhag-roh-lan urip dadi sawiji, iki diarani wong urip. Yen roh karo uripe ucul saka badan wadhag, amarga taline urip pedhot, ragane ditinggal, mati kaku dadi bathang. Iki uga dialami kabeh sagung barang kang urip. Kayata: wit-witan, kabeh kewan, yen ditinggal roh/badan aluse, badan wadhag mesthi mati dadi bathang, awake kaku. Lha saiki roh/badan alus karouripe menyang endi? Kudune roh lan uripe mlebu alam barzah/alam kubur. Ing kene bakal nampa siksa kubur apa nikmat kubur, salaras karo amale neng donya nalika urip dhisik. Lha lawase sepira? Gumantung “vonise” Kang Murbeng Dumadi. Yen wis entek vonise, arwah/roh lan uripe mlebu ana alam arwah. Ing kene antri ngenteni dina kiyamat. Yaiku dina bakale wong mati ditangekake dadi urip maneh. Mangkono sateruse (maosa Al-Qur’an, surat Al Baqarah, ayat 28). Nganti akhire bali marang ngarsane Gusti kang Murbeng Dumadi. Lha saiki yen awake dhewe kepengin bisa bali marang Pangeran (Allah SWT), ya wiwit saiki kudu kenal karo Gusti Allah SWT. Lan maneh awake dhewe kudu sregep ngadhep utawa madhep marang Gusti kaya tuntunan agamane dhewe-dhewe. Agama Islam menehi tuntunan kanggo ngadhep marang Allah SWT kudu shalat. Lan agama Islam milah tataran ilmu iku dadi patang tataran. Tingkatan ilmu cacah papat iki marakake panembah utawa shalat kaperang dadi papat, yaiku: shalat sarengat, shalat tarekat, shalat hakekat, lan shalat ma’rifat. Shalat sarengat iku manembahing raga, sesucine mawa toya (banyu). Yen katrima mahanani makrifating sarengat. Tegese weruhe panca indera. Kayata mripat ndeleng gumelare donya nyebabake percaya manawa kabeh mau mesthi ana kang nitahake, yaiku kang sinebut Pangeran utawa Gusti Allah. Kapercayan kang mangkene iki disebut wajibul yakin. Shalat tarekat iku manembahing cipta (ati), sesucine merangi hawa nafsu, sesirik. Yen katrima mahanani makrifating tarekat. Tegese weruhe sipangerti, lire kapercayane kanthi pangerti marang sejatine kang sinebut Pangeran iku, ora mung tiru-tiru wong akeh wae. Kapercayan ngene iki dirani ainul yakin. Shalat hakekat iku manembahing jiwa (roh) kang mawa piranti “rasa jati”, sesucine sarana eneng, ening, awas, lan eling. Yen katrima mahanani makrifating hakekat. Tegese weruhe si-rasa jati. Lire kapercayan ora kandheg ing pangerti bae. Kapercayan ngene iki diarani haqqul yakin. Ing tataran/tingkatan iki wis wiwit kebuka werna-werna hijab (warana) kang ngaling-alingi antarane titah karo kang nitahake. Nanging ya tingkatan iki kang banget gawate, karana akeh begalane. Shalat makrifat. Iku panembahing sukma. Yaiku jiwa kang kuwasa tanpa piranti (sang alus/urip). Sesucine sarana wairagya, yaiku ngipatake sawernaning gegayuhan apa wae, kajaba mung tumuju marang Pangeran (Allah SWT), yen katrima mahanani makrifating makrifat utawa sejatining makrifat. Lire percaya tanpa piranti, sarta tan kena kinaya ngapa. Iya ing kene tingkatan iki kasebut leburing papan kalawan tulis, cep tan kena kinecap, diarani isbatul yakin, yaiku teteping kapercayan. Utamane nindakake kaya mangkono kaping lima jroning sedina-sewengi kaya wektu shalat wajib. Ora-orane sepisan dalem sedina-sewengi. Ora-orane maneh iya sepisan ing dalem seminggu. Ora-orane maneh ya sepisan ing dalem sesasi. Ora-orane maneh ya sepisan ing dalem setaun. Ora-orane maneh ya sepisan dalem….selawse urip. Iki ana uran-uran/tembang (embuh karangane sapa) kang nggambarake wong kang lagi sepisan ngicipi kahanan tan kena kinaya ngapa iku, mangkene unine: “Damar kurung binekta ing kemit, tintingana salira priyangga, den rumangsa sisipa. Rohing kacang puniku, angelayung rasaning ati. Sela panglawet ganda, sepisan ketemu, kalabang sinandhung cuncar, norarena kepanggih sepisan ping kalih, kumudu saben dina. Pancen kanggo cecedhakan karo Gusti kita kudu ngundhakake iman lan pangerten kita marang Allah SWT. Jalaran supaya bisa “sesambungan” karo Pangeran kita kudu ningkatake shalat kita sa-ora-orane tekan tingkat shalat hakekat. Sokur bisa tekan shalat makrifat. Saengga besuk yen kita wis mati, kita bisa marak ngarsane Pangeran Kang Akarya Gesang. Iya iki tujuan akhir urip kita: marak ing Ngarsane Gusti

Jumat, 11 April 2014

SERAT DHARMOGANDUL

GĂȘnti kang cinarita, tindake Sunan kalijaga ĂȘnggone ngupaya Sang Prabu Brawijaya, mung didherekake sakabat loro lakune kĂȘlunta-lunta, sabĂȘn desa diampiri, saka ĂȘnggone ngupaya warta. Lampahe Sunan Kalijaga turut pasisir wetan, sing kalangkungan tindake Sang Prabu Brawijaya. Lampahe Sang Prabu Brawijaya wis tĂȘkan ing Blambangan, sarehne wis kraos sayah banjur kendĂȘl ana sapinggiring beji. Ing wĂȘktu iku panggalihe Sang Prabu pĂȘtĂȘng bangĂȘt, dene sing marak ana ngarsane mung kĂȘkasih loro, iya iku Nayagenggong lan Sabdapalon, abdi loro mau tansah gĂȘguyon, lan padha mikir kahaning lĂȘlakon kang mĂȘntas dilakoni, ora antara suwe kĂȘsaru sowanne Sunan Kalijaga, banjur ngabĂȘkti sumungkĂȘm padane Sang Prabu. Sang Prabu banjur ndangu marang Sunan Kalijaga: “Sahid! kowe tĂȘka ana apa? Apa prĂȘlune nututi aku?” Sunan Kalijaga matur: “Sowan kula punika kautus putra paduka, madosi panjĂȘnĂȘngan paduka, kapanggiha wontĂȘn ing pundi-pundi, sĂȘmbah sungkĂȘmipun konjuka ing pada paduka Aji, nuwun pangaksama sadaya kasisipanipun, dene ngantos kamipurun ngrĂȘbat kaprabon paduka Nata, awit saking kalimputing manah mudha punggung, botĂȘn sumĂȘrĂȘp tata krami, sangĂȘt kapenginipun mĂȘngku praja angreh wadyabala, sineba ing para bupati. Samangke putra paduka rumaos ing kalĂȘpatanipun, dene darbe bapa Ratu Agung ingkang anyĂȘngkakakĂȘn saking ngandhap aparing darajat Adipati ing DĂȘmak, tangeh malĂȘsa ing sih paduka Nata, ing mangke putra paduka emut, bilih panjĂȘnĂȘngan paduka linggar saking praja botĂȘn kantĂȘnan dunungipun, punika putra paduka rumaos yen mĂȘsthi manggih dĂȘdukaning Pangeran. Mila kawula dinuta madosi panjĂȘnĂȘngan paduka, kapanggiha wontĂȘn ing pundi-pundi ingaturan kondur rawuh ing Majapahit, tĂȘtĂȘpa kados ingkang wau-wau, mĂȘngku wadya sineba para punggawa, aweta dados jĂȘjimat pinundhi-pundhi para putra wayah buyut miwah para santana, kinurmatan sinuwunan idi wilujĂȘngipun wontĂȘn ing bumi. Manawi paduka kondur, putra paduka pasrah kaprabon paduka Nata, putra paduka nyaosakĂȘn pĂȘjah gĂȘsang, yen kaparĂȘng saking karsa paduka, namung nyuwun pangaksama paduka, sadayaning kalĂȘpatanipun, lan nyuwun pangkatipun lami dados Adipati ing DĂȘmak, tĂȘtĂȘpa kados ingkang sampun. Dene yen panjĂȘnĂȘngan paduka botĂȘn karsa ngasta kaprabon Nata, sinaosan kadhaton wontĂȘn ing rĂȘdi, ing pundi sasĂȘnĂȘnging panggalih paduka, ing rĂȘdi ingkang karsakakĂȘn badhe dipundhĂȘpoki, putra paduka nyaosi busana lan dhahar paduka, nanging nyuwun pusaka Karaton ing tanah Jawa, dipunsuwun ingkang rila tĂȘrusing panggalih”. Sang Prabu Brawijaya ngandika: “Ingsun-rungu aturira, Sahid! nanging ora ingsun-gatekake, karana ingsun wis kapok rĂȘmbugan karo santri padha nganggo mata pitu, padha mata lapisan kabeh, mula blero pandulune, mawas ing ngarĂȘp nanging jĂȘbul anjĂȘnggung ing buri, rĂȘmbuge mung manis ana ing lambe, batine angandhut pasir kinapyukake ing mata, murih picĂȘka mataku siji. Sakawit ingsun bĂȘciki, walĂȘse kaya kĂȘnyung buntut, apa ta salah-ingsun, tĂȘka rinusak tanpa prakara, tinggal tata adat caraning manusa, mukul pĂȘrang tanpa panantang, iku apa nganggo tataning babi, dadi dudu tataning manusa kang utama”. Sunan Kalijaga barĂȘng ngrungu pangandikane Sang Prabu rumasa ing kaluputane ĂȘnggone melu mbĂȘdhah karaton Majapahit, ing batin bangĂȘt panalangsane, dene kadudon kang wis kĂȘbanjur, mula banjur ngrĂȘrĂȘpa, ature: “Inggih saduka-duka paduka ingkang dhumawa dhatĂȘng putra wayah, mugi dadosa jimat paripih, kacancang pucuking rema, kapĂȘtĂȘk wontĂȘn ing ĂȘmbun, mandar amĂȘwahana cahya nurbuwat ingkang wĂȘning, rahayunipun para putra wayah sadaya. Sarehning sampun kalĂȘpatan, punapa malih ingkang sinuwun malih, kajawi namung pangapuntĂȘn paduka. wangsul karsa paduka karsa tindak dhatĂȘng pundi?” Sang Prabu Brawijaya ngandika: “Saiki karsaningsun arsa tindak mĂȘnyang Bali, kĂȘtĂȘmu karo yayi Prabu Dewa agung ing KĂȘlungkung, arsa ingsun-wartani pratingkahe si Patah, sikara wong tuwa kang tanpa dosa, lan arsa ingsun-kon nimbali para Raja kanan kering tanah jawa, samĂȘkta sakapraboning pĂȘrang, lan Adipati Palembang sun-wehi wĂȘruh, yen anake karo pisan satĂȘkane tanah Jawa sun-angkat dadi Bupati, nanging ora wĂȘruh ing dalan, banjur wani mungsuh bapa Ratu, sun-jaluk lilane anake arĂȘp ingsun pateni, sabab murtat wani ing bapa kapindhone Ratu, lan ingsun arsa angsung wikan marang Hongte ing Cina, yen putrane wis patutan karo ingsun mĂȘtu lanang siji, ananging ora wĂȘruh ing dalan, wani mungsuh bapa ratu, iya ingsun-jaluk lilane, yen putune arsa ingsun-pateni, ingsun njaluk biyantu prajurit Cina, samĂȘkta sakapraboning pĂȘrang, njujuga nagari Bali. Yen wis samĂȘkta sawadya prajurit, sarta padha eling marang lĂȘlabĂȘtan kabĂȘcikaningsun, lan duwe wĂȘlas marang wong wungkuk kaki-kaki, yĂȘkti padha tĂȘka ing Bali sagĂȘgamaning pĂȘrang, sun-jak marang tanah Jawa angrĂȘbut kapraboningsun, iya sanadyan pĂȘrang gĂȘdhe gĂȘgĂȘmpuran amungsuh anak, ingsun ora isin, awit ingsun ora ngawiti ala, aninggal carane wong agung.” Sunan Kalijaga ngrungu dhawuhe Sang Prabu kang mangkono iku ing sanalika mung dhĂȘlĂȘg-dhĂȘlĂȘg, ngandika sajroning ati: “Tan cidra karo dhawuhe Nyai AgĂȘng Ngampelgadhing, yen eyang wungkuk isih mbrĂȘgagah nggagahi nagara, ora nyawang wujuding dhiri, kulit kisut gĂȘgĂȘr wungkuk. Lamun iki ngantiya nyabrang marang Bali, ora wurung bakal ana pĂȘrang gĂȘdhe tur wadya ing DĂȘmak masa mĂȘnanga, amarga katindhihan luput, mungsuh ratu pindho bapa, kaping tĂȘlune kang mbĂȘciki, wis mĂȘsthi bae wong Jawa kang durung Islam yĂȘkti asih marang Ratu tuwa, angantĂȘp tangkĂȘping jurit, mĂȘsthi asor wong Islam tumpĂȘs ing pĂȘpĂȘrangan.” Wusana Sunan Kalijaga matur alon: “Dhuh pukulun JĂȘng Sang Prabu! saupami paduka lajĂȘngna rawuh ing bali, nimbali para Raja, saestu badhe pĂȘrang gĂȘgĂȘmpuran, punapa botĂȘn ngeman risakipun nagari Jawi, sampun tamtu putra paduka ingkang badhe nĂȘmahi kasoran, panjĂȘnĂȘngan paduka jumĂȘnĂȘng Nata botĂȘn lami lajĂȘng surud, kaprabon Jawi kaliya ing sanes darah paduka Nata, saupami kados dene sĂȘgawon rĂȘbatan bathang, ingkang kĂȘrah tulus kĂȘrah tĂȘtumpĂȘsan sami pĂȘjah sadaya daging lan manah kathĂȘda ing sĂȘgawon sanesipun”. Sang prabu Brawijaya ngandika: “Mungguh kang mangkono iki luwih-luwih karsane Dewa Kang Linuwih, ingsun iki Ratu Binathara, nĂȘtĂȘpi mripat siji, ora nganggo mata loro, mung siji marang bĂȘnĂȘr paningalku, kang miturut adat pranatane para lĂȘluhur. Saupama si Patah ngrasa duwe bapa ingsun, kĂȘpengin dadi Ratu, disuwun krananing bĂȘcik, karaton ing tanah Jawa, iya sun-paringake krana bĂȘcik, ingsun wis kaki-kaki, wis warĂȘg jumĂȘnĂȘng Ratu, nrima dadi pandhita, pitĂȘkur ana ing gunung. Balik samĂȘngko si Patah siya mring sun, mĂȘsthine-ingsun iya ora lila ing tanah Jawa diratoni, luwih karsaning Jawata Gung, pamintane marang para titah ing wuri.” Sunan Kalijaga barĂȘng mirĂȘng pangandikane Sang Prabu, rumasa ora kaconggah ngaturi, mula banjur nyungkĂȘmi pada, sarta banjur nyaosake cundrike karo matur, yen Sang Prabu ora karsa nglampahi kaya ature Sunan Kalijaga, Sunan Kalijaga nyuwun supaya dipateni bae, amarga lingsĂȘm manawa mĂȘruhi lĂȘlakon kang saru. Sang Prabu nguningani patrape Sunan kalijaga kang mangkono mau, panggalihe kanggĂȘg, mula nganti suwe ora ngandika tansah tĂȘbah jaja karo nĂȘnggak waspa, sĂȘrĂȘt pangandikane: “Sahid! linggiha dhisik, tak-pikire sing bĂȘcik, tak-timbange aturmu, bĂȘnĂȘr lan lupute, tĂȘmĂȘn lan gorohe, amarga aku kuwatir yen aturmu iku goroh kabeh. Sumurupa Sahid! saupama aku kondur marang Majapahit, si Patah seba mĂȘnyang aku, gĂȘthinge ora bisa mari, amarga duwe bapa Buddha kawak kapir kupur, liya dina lali, aku banjur dicĂȘkĂȘl dibiri, dikon tunggu lawang pungkuran, esuk sore diprĂȘdi sĂȘmbahyang, yen ora ngrĂȘti banjur diguyang ana ing blumbang dikosoki alang-alang garing.” Sang Prabu mbanjurake pangandikane marang Sunan Kalijaga: “Mara pikirĂȘn, Sahid! saiba susahing atiku, wong wis tuwa, nyĂȘkrukuk, kok dikum ing banyu”. Sunan Kalijaga gumujĂȘng karo matur: “Mokal manawi makatĂȘn, benjing kula ingkang tanggĂȘl, botĂȘn-botĂȘnipun manawi putra paduka badhe siya-siya dhatĂȘng panjĂȘnĂȘngan paduka, dene bab agami namung kasarah sakarsa paduka, namung langkung utami manawi panjĂȘnĂȘngan paduka karsa gantos sarak rasul, lajĂȘng nyĂȘbut asmaning Allah, manawi botĂȘn karsa punika botĂȘn dados punapa, tiyang namung bab agami, pikĂȘkahipun tiyang Islam punika sahadat, sanadyan salat dhingklak-dhingkluk manawi dereng mangrĂȘtos sahadat punika inggih tĂȘtĂȘp nama kapir”. Sang Prabu ngandika: “Sahadat iku kaya apa, aku kok durung ngrĂȘti, coba ucapna tak-rungokne”. Sunan kalijaga banjur ngucapake sahadat: ashadu ala ilaha ila’llah, wa ashadu anna Mukhammadar-Rasulu’llah, tĂȘgĂȘsipun: Ingsung anĂȘkseni, ora ana Pangeran kang sajati, amung Allah, lan anĂȘkseni, KangjĂȘng Nabi Mukhammad iku utusane Allah”. Ature Sunan Kalijaga marang Sang Prabu: “Tiyang nĂȘmbah dhatĂȘng arah kemawon, botĂȘn sumĂȘrĂȘp wujud tĂȘgĂȘsipun, punika tĂȘtĂȘp kapiripun, lan malih sintĂȘn tiyang ingkang nĂȘmbah puji ingkang sipat wujud warni, punika nĂȘmbah brahala namanipun, mila tiyang punika prĂȘlu mangrĂȘtos dhatĂȘng lair lan batosipun. Tiyang ngucap punika kĂȘdah sumĂȘrĂȘp dhatĂȘng ingkang dipunucapakĂȘn, dene tĂȘgĂȘsipun Nabi Mukhammad Rasula’llah: Mukhammad punika makam kuburan, dados badanipun tiyang punika kuburipun rasa sakalir, muji badanipun piyambak, botĂȘn muji Mukhammad ing ‘Arab, raganipun manusa punika wĂȘwayanganing Dzating Pangeran, wujud makam kubur rasa, Rasul rasa kang nusuli, rasa pangan manjing lesan, Rasule minggah swarga, lu’llah, luluh dados ĂȘndhut, kasĂȘbut Rasulu’llah punika rasa ala ganda salah, riningkĂȘs dados satunggal Mukhammad Rasula’llah, kang dhingin wĂȘruh badan, kaping kalih wĂȘruh ing tĂȘdhi, wajibipun manusa mangeran rasa, rasa lan tĂȘdhi dados nyĂȘbut Mukhammad rasulu’llah, mila sĂȘmbahyang mungĂȘl “uzali” punika tĂȘgĂȘsipun nyumĂȘrĂȘpi asalipun. Dene raganipun manusa punika asalipun saking roh idlafi, rohipun Mukhammad Rasul, tĂȘgĂȘsipun Rasul rasa, wijile rasaning urip, mĂȘdal saking badan kang mĂȘnga, lantaran ashadualla, manawi botĂȘn mĂȘngrĂȘtos tĂȘgĂȘsipun sahadat, botĂȘn sumĂȘrĂȘp rukun Islam, botĂȘn mangrĂȘtos purwaning dumados”. Sunan kalijaga ature akeh-akeh, nganti Prabu Brawijaya karsa santun agama Islam, sawise banjur mundhut paras marang Sunan Kalijaga nanging remane ora tĂȘdhas digunting, mulane Sunan Kalijaga banjur matur, Sang Prabu diaturi Islam lair batos, amarga yen mung lair bae, remane ora tĂȘdhas digunting. Sang Prabu banjur ngandika yen wis lair batos, mulane kĂȘna diparasi. Sang Prabu sawise paras banjur ngandika marang Sabdapalon lan Nayagenggong: “Kowe karo pisan tak-tuturi, wiwit dina iki aku ninggal agama Buddha, ngrasuk agama Islam, banjur nyĂȘbut asmaning Allah Kang Sajati. Saka karsaku, kowe sakarone tak-ajak salin agama Rasul tinggal agama Buddha”. Sabdapalon ature sĂȘndhu: “Kula niki Ratu Dhang Hyang sing rumĂȘksa tanah Jawa. SintĂȘn ingkang jumĂȘnĂȘng Nata, dados momongan kula. Wiwit saking lĂȘluhur paduka rumiyin, Sang Wiku Manumanasa, SakutrĂȘm lan Bambang Sakri, run-tumurun ngantos dumugi sapriki, kula momong pikukuh lajĂȘr Jawi, kula manawi tilĂȘm ngantos 200 taun, sadangunipun kula tilĂȘm tamtu wontĂȘn pĂȘpĂȘrangan sadherek mĂȘngsah sami sadherek, ingkang nakal sami nĂȘdha jalma, sami nĂȘdha bangsanipun piyambak, dumugi sapriki umur-kula sampun 2000 langkung 3 taun, momong lajĂȘr Jawi, botĂȘn wontĂȘn ingkang ewah agamanipun, nĂȘtĂȘpi wiwit sapisan ngestokakĂȘn agami Buddha. SawĂȘg paduka ingkang karsa nilar pikukuh luhur Jawi. Jawi tĂȘgĂȘsipun ngrĂȘti, tĂȘka narimah nama Jawan, rĂȘmĂȘn manut nunut-nunut, pamrihipun damĂȘl kapiran muksa paduka mbenjing.” Sabdane Wiku tama sinauran gĂȘtĂȘr-patĂȘr. Sang Prabu Brawijaya sinĂȘmonan dening Jawata, ĂȘnggone karsa mlĂȘbĂȘt agama Rasul, iya iku rĂȘrupan kahanan ing dunya ditambahi warna tĂȘlu: 1: aran sukĂȘt Jawan, 2: pari Randanunut, lan 3: pari Mriyi. Sang Prabu andangu maneh: “Kapriye kang padha dadi kĂȘkĂȘncĂȘnganmu, apa gĂȘlĂȘm apa ora ninggal agama Buddha, salin agama Rasul, nyĂȘbut Nabi Mukhammad Rasula’llah panutaning para Nabi, lan nyĂȘbut asmaning Allah Kang Sajati?” Sabdapalon ature sĂȘndhu: “Paduka mlĂȘbĂȘt piyambak, kula botĂȘn tĂȘgĂȘl ningali watak siya, kados tiyang ‘Arab. Siya punika tĂȘgĂȘsipun ngukum, tur siya dhatĂȘng raga, manawi kula santun agami, saestu damĂȘl kapiran kamuksan-kula, ing benjing, dene ingkang mastani mulya punika rak tiyang ‘Arab sarta tiyang Islam sadaya, anggenipun ngalĂȘm badanipun piyambak. Manawi kula, mastani botĂȘn urus, ngalĂȘm saening tangga, ngapĂȘsakĂȘn badanipun piyambak, kula rĂȘmĂȘn agami lami, nyĂȘbut Dewa Ingkang Linangkung. Jagad punika raganipun Dewa ingkang asipat budi lan hawa, sampun dados wajibipun manusa punika manut dhatĂȘng eling budi karĂȘpan, dados botĂȘn ngapirani, manawi nyĂȘbut Nabi Mukhammad Rasulu’llah, tĂȘgĂȘse Mukhammad niku makaman kubur, kubure rasa kang salah, namung mangeran rasa wadhag wadhahing ĂȘndhut, namung tansah nĂȘdha eca, botĂȘn ngengĂȘti bilahinipun ing wingking, mila nami Mukhammad inggih makaman kuburan sakalir, roh idlafi tĂȘgĂȘsipun lapisan, manawi sampun risak wangsul dhatĂȘng asalipun malih. Wangsul Prabu Brawijaya lajĂȘng manggen wontĂȘn pundi. Adam punika muntĂȘl kaliyan Hyang Brahim, tĂȘgĂȘsipun kĂȘbrahen nalika gĂȘsangipun, botĂȘn manggih raos ingkang saestu, nanging tangining raos wujud badan, dipunwastani Mukhammadun, makaman kuburing rasa, jasanipun budi, dados sipatipun tiyang lan raos. Manawi dipunpundhut ingkang Mahakuwasa, sarira paduka sipate tiyang wujud dados, punika dadosipun piyambak, lantaranipun ngabĂȘn awon, bapa biyung botĂȘn damĂȘl, mila dipunwastani anak, wontĂȘnipun wujud piyambak, dadosipun saking gaib samar, saking karsaning Latawalhujwa, ingkang nglimputi wujud, wujudipun piyambak, risak-risakipun piyambak, manawi dipunpundhut dening Ingkang Maha Kuwasa, namung kantun rumaos lan pangraos ingkang paduka-bĂȘkta dhatĂȘng pundi kemawon, manawi dados dhĂȘmit ingkang tĂȘngga siti, makatĂȘn punika ingkang nistha, namung prĂȘlu nĂȘnggani daging bacin ingkang sampun luluh dados siti, makatĂȘn wau tĂȘtĂȘp botĂȘn wontĂȘn prĂȘlunipun. Ingkang makatĂȘn punika amargi namung saking kirang budi kawruhipun, kala gĂȘsangipun dereng nĂȘdha woh wit kawruh lan woh wit budi, nrimah pĂȘjah dados setan, nĂȘdha siti ngajĂȘng-ajĂȘng tiyang ngirim sajen tuwin slamĂȘtanipun, ing tĂȘmbe tilar mujijat rakhmat nyukani kiyamat dhatĂȘng anak putunipun ingkang kantun. Tiyang pĂȘjah botĂȘn kĂȘbawah pranataning Ratu ing lair, sampun mĂȘsthi sukma pisah kaliyan budi, manawi tekadipun sae inggih nampeni kamulyan, nanging manawi tekadipun awon inggih nampeni siksanipun. Cobi paduka-jawab atur-kula punika”. Sang Prabu ngandika: “Mulih marang asale, asal Nur bali marang Nur”. Sabdapalon matur maneh: “Inggih punika kawruhipun tiyang bingung gĂȘsangipun rugi, botĂȘn gadhah kawruh kaengĂȘtan, dereng nĂȘdha woh kawruh lan budi, asal siji mantuk satunggal, punika sanes pĂȘjah ingkang utami, dene pĂȘjah ingkang utami punika sewu satus tĂȘlung puluh. TĂȘgĂȘsipun satus punika putus, tĂȘlu punika tilas, puluh punika pulih, wujud malih, wujudipun risak, nanging ingkang risak namung ingkang asal saking roh idlafi. Uripipun langgĂȘng namung raga pisah kaliyan sukma, inggih punika sahadat ingkang botĂȘn mawi ashadu, gantos roh idlafi lapisan: sasi surup mĂȘsthi saking pundi asalipun wiwit dados jalmi. Surup tĂȘgĂȘsipun: sumurup purwa madya wasananipun, nĂȘtĂȘpana namane tiyang lumampah, sampun ebah saking prĂȘnahipun mlĂȘbĂȘt mbĂȘkta sir cipta lami”. Sang Prabu ngandika: “Ciptaku nempel wong kang luwih”. Sabdapalon matur: “Punika tiyang kĂȘsasar, kados dene kĂȘmladeyan tumemplek wit-witan agĂȘng, botĂȘn bawa piyambak, kamuktenipun namung nĂȘmpil. Punika botĂȘn pĂȘjah utami, pĂȘjahipun tiyang nistha, rĂȘmĂȘnipun namung nempel, nunut-nunut, botĂȘn bawa piyambak, manawi dipuntundhung, lajĂȘng klambrangan, dados brĂȘkasakan, lajĂȘng nempel dhatĂȘng sanesipun malih”. Sang Prabu ngandika maneh: “Asal suwung aku bali, mĂȘnyang suwung, nalika aku durung maujud iya durung ana apa-apa, dadi patiku iya mangkono”. Sabdapalon: “Punika pĂȘjahipun tiyang kalap nglawong, botĂȘn iman ‘ilmi, nalika gĂȘsangipun kados kewan, namung nĂȘdha ngombe lan tilĂȘm, makatĂȘn punika namung sagĂȘd lĂȘma sugih daging, dados nama sampun narimah ngombe uyuh kemawon, ical gĂȘsangipun salĂȘbĂȘtipun pĂȘjah”. Sang Prabu: “Aku nunggoni makaman kubur, yen wis luluh dadi lĂȘbu”. Sabdapalon: “Inggih punika pĂȘjahipun tiyang cubluk, dados setan kuburan, nĂȘnggani daging wontĂȘn kuburan, daging ingkang sampun luluh dados siti, botĂȘn mangrĂȘtos santun roh hidlafi enggal. Inggih punika tiyang bodho mangrĂȘtosa. Nun!” Sang Prabu ngandika: “Aku arĂȘp muksa saragaku”. Sabdapalon gumuyu: “Yen tiyang agami Rasul tĂȘrang botĂȘn sagĂȘd muksa, botĂȘn kuwawi ngringkĂȘs nguntal raganipun, lĂȘma kakathahĂȘn daging. Tiyang pĂȘjah muksa punika cĂȘlaka, amargi nami pĂȘjah, nanging botĂȘn tilar jisim, namanipun botĂȘn sahadat, botĂȘn pĂȘjah, botĂȘn gĂȘsang, botĂȘn sagĂȘd dados roh idlafi enggal, namung dados gunungan dhĂȘmit”. Pangandikane Sang Prabu: “Aku ora duwe cipta apa-apa, ora ikhtiar nampik milih, sakarsane Kang Maha Kuwasa”. Sabdapalon: “Paduka nilar sipat, botĂȘn ngrumaosi yen tinitah linangkung, nilar wajibing manusa, manusa dipunwĂȘnangakĂȘn nampik milih, manawi sampun narimah dados sela, sampun botĂȘn prĂȘlu pados ‘ilmi kamulyaning seda”. Sang Prabu: “Ciptaku arĂȘp mulih mĂȘnyang akhirat, munggah swarga seba Kang maha Kuwasa”. Sabdapalon matur: “Akhirat, swarga, sampun paduka-bĂȘkta ngaler ngidul, jagadipun manusa punika sampun mĂȘngku ‘alam sahir kabir, nalika tapĂȘl Adam, sampun pĂȘpak: akhirat, swarga, naraka ‘arasy kursi. Paduka badhe tindak dhatĂȘng akhirat pundi, mangke manawi kĂȘsasar lo, mangka ĂȘnggene akhirat punika tĂȘgĂȘse mlarat, saĂȘnggen- ĂȘnggen wontĂȘn akhirat, manawi kenging kula-singkiri, sampun ngantos kula mantuk dhatĂȘng kamlaratan sarta minggah dhatĂȘng akhirat adil nagari, manawi lĂȘpat jawabipun tamtu dipunukum, dipunbanda, dipunpaksa nyambut damĂȘl awrat tur botĂȘn tampa arta. KlĂȘbĂȘt akhirat nusa SrĂȘnggi, nusa tĂȘgĂȘsipun manusa, SrĂȘng tĂȘgĂȘsipun padamĂȘlan ingkang awrat sangĂȘt. Ênggi tĂȘgĂȘsipun gawe. Dados tĂȘgĂȘsipun jalma pinĂȘksa nyambut damĂȘl dhatĂȘng Ratu Nusa SrĂȘnggi namanipun, punapa botĂȘn cilaka, tiyang gĂȘsang wontĂȘn ing dunya kados makatĂȘn wau, sakulawargane mung nadhah bĂȘras sapithi, tanpa ulam, sambĂȘl, jangan punika akhirat ingkang katingal tata lair, manawi akhiratipun tiyang pĂȘjah malah langkung saking punika, paduka sampun ngantos kondur dhatĂȘng akhirat, sampun ngantos minggah dhatĂȘng swarga, mindhak kĂȘsasar, kathah rajakaya ingkang wontĂȘn ing ngriku, sadaya sami trima tilĂȘm kĂȘmul siti, gĂȘsangipun nyambut damĂȘl kanthi paksan, botĂȘn salah dipunpragat, paduka sampun ngantos sowan Gusti Allah, amargi Gusti Allah punika botĂȘn kantha botĂȘn warna, wujudipun amung asma, nglimputi wontĂȘn ing dunya tuwin ing akhirat, paduka dereng tĂȘpang, tĂȘpangipun amung tĂȘpang kados cahyanipun lintang lan rĂȘmbulan, kapanggihe cahya murub dados satunggal, botĂȘn pisah botĂȘn kumpul, tĂȘbihipun botĂȘn mawi wangĂȘnan, cĂȘlak botĂȘn panggihan, kula botĂȘn kuwawi cĂȘlak, punapa malih paduka, KangjĂȘng Nabi Musa toh botĂȘn kuwawi mandĂȘng dhatĂȘng Gusti Allah, mila Allah botĂȘn katingal, namung Dzatipun ingkang nglimputi sadaya wujud, paduka wiji rohani, sanes bangsanipun malaekat, manusa raganipun asal saking nutfah, sowan Hyang Latawalhujwa, manawi panggenanipun sampun sĂȘpuh, nyuwun ingkang enggal, dados botĂȘn wongsal-wangsul, ingkang dipunwastani pĂȘjah gĂȘsang, ingkang gĂȘsang napasipun taksih lumampah, tĂȘgĂȘsipun urip, ingkang tĂȘtĂȘp langgĂȘng, botĂȘn ewah botĂȘn gingsir, ingkang pĂȘjah namung raganipun, botĂȘn ngraosakĂȘn kanikmatan, pramila tumrap tiyang agami Buddha, manawi raganipun sampun sĂȘpuh, suksmanipun mĂȘdal nyuwun gantos ingkang sae, nglangkungi ingkang sampun sĂȘpuh, nutfah sampun ngantos ebah saking jagadipun, jagadipun manusa punika langgĂȘng, botĂȘn ewah gingsir, ingkang ewah punika makaming raos, raga wadhag ingkang asal roh idlafi. Prabu Brawijaya botĂȘn anem botĂȘn sĂȘpuh, nanging langgĂȘng manggen wontĂȘn satĂȘngahipun jagadipun, lumampah botĂȘn ebah saking panggenanipun, wontĂȘn salĂȘbĂȘting guwa sir cipta kang ĂȘning. GawanĂȘn gĂȘgawanmu, ngGĂȘgawa nĂȘdha raga. Tulis ical, etangan gunggunge: kumpul, plĂȘsatipun wĂȘtaha. Ningali jantung kĂȘtĂȘg kiwa: surut marga sire cipta, jujugipun ingkang cĂȘtha cĂȘthik cĂȘthak. Punika pungkasanipun kawruh, kawruhipun tiyang Buddha. LĂȘbĂȘtipun roh saking cĂȘthak marginipun, kendĂȘl malih wontĂȘn cĂȘthik, mĂȘdal wontĂȘn kalamwadi, kentir sagara rahmat lajĂȘng lumĂȘbĂȘt ing guwa indra-kilaning estri, tibaning nikmat ing dhasaring bumi rahmat, wontĂȘn ing ngriku ki budi jasa kadhaton baitu’llah ingkang mulya, dadosipun saking sabda kun, dados wontĂȘn tĂȘngahing jagad swarganing tiyang sĂȘpuh estri, mila jalma keblatipun wontĂȘn tĂȘngahing jagad, jagading tiyang punika guwa sir cipta namanipun, dipunbĂȘkta dhatĂȘng pundi- pundi botĂȘn ewah, umuripun sampun dipunpasthekakĂȘn, botĂȘn sagĂȘd ewah gingsir, sampun dipunsĂȘrat wontĂȘn lokhil-makful, bĂȘgja cilakanipun gumantung wontĂȘn ing budi nalar lan kawruhipun, ingkang ical utawi kirang ikhtiaripun inggih badhe ical utawi kirang bĂȘgjanipun. Wiwitanipun keblat sakawan, inggih punika wetan kilen kidul ler : tĂȘgĂȘsipun wetan : wiwitan manusa maujud; tĂȘgĂȘsipun kulon : bapa kĂȘlonan; tĂȘgĂȘsipun kidul : estri didudul wĂȘtĂȘnge ing tĂȘngah; tĂȘgĂȘsipun lor : laire jabang bayi, tanggal sapisan kapurnaman, sĂȘnteg sapisan tĂȘnunan sampun nigasi. TĂȘgĂȘsipun pur: jumbuh, na; ana wujud, ma; madhĂȘp dhatĂȘng wujud; jumbuh punika tĂȘgĂȘsipun pĂȘpak, sarwa wontĂȘn, mĂȘngku alam sahir kabir, tanggalipun manusa, lairipun saking tiyang sĂȘpuhipun estri, sarĂȘng tanggalipun kaliyan sadherekipun kakang mbarĂȘp adhi ragil, kakang mbarĂȘp punika kawah, adhi punika ari-ari, sadherek ingkang sarĂȘng tanggal gaibipun, rumĂȘksa gĂȘsangipun elingipun panjanmaning surya, lĂȘnggah rupa cahya, kontĂȘning eling sadayanipun, siyang dalu sampun sumĂȘlang dhatĂȘng sadaya rĂȘrupen, ingkang engĂȘt sadayanipun, surup lan tanggalipun sampun samar : kala rumiyin, sapunika lan benjing, punika kawruhipun tiyang Jawi ingkang agami Buddha. Raga punika dipunibaratakĂȘn baita, dene suksmanipun inggih punika tiyang ingkang wontĂȘn ing baita wau, ingkang nĂȘdahakĂȘn pandomipun, manawi baitanipun lumampah mangka salah pandomipun, tamtu manggih cilaka, baita pĂȘcah, tiyangipun rĂȘbah. Pramila kĂȘdah ingkang mapan, mumpung baitanipun taksih lumampah, manawi botĂȘn mapan gĂȘsangipun, pĂȘjah malih sagĂȘda mapan, nĂȘtĂȘpi kamanusanipun, manawi baitanipun bibrah, inggih pisah kaliyan tiyangipun; tĂȘgĂȘsipun suksma ugi pisah kaliyan budi, punika namanipun sahadat, pisahipun kawula kaliyan Gusti, sah tĂȘgĂȘsipun pisah, dat punika Dzating Gusti, manawi sampun pisah raga suksma, budinipun lajĂȘng santun baitu’llah, napas tali, muji dhatĂȘng Gusti, manawi pisaha raga suksma lan budi, mrĂȘtitis ingkang botĂȘn-botĂȘn, yen tunggal, kabĂȘsaran, tanggalipun botĂȘn surup salaminipun, punika kĂȘdah ingkang waspada, ngengĂȘtana dhatĂȘng asaling kawula, kawula ugi wajib utawi wĂȘnang matur dhatĂȘng Gusti, nyuwun baitu’llah ingkang enggal, ngungkulana ingkang lami. Raganing manusa punika namanipun baitu’llah, inggih prau gaweyaning Allah, dadosipun saking sabda kun, manawi baitanipun tiyang Jawi sagĂȘd mapan santun baitu’llah malih ingkang sae, baitanipun tiyang Islam gĂȘsangipun kantun pangrasa, praunipun sampun rĂȘmuk, manawi suksma punika pĂȘjah ing ‘alam dunya suwung, botĂȘn wontĂȘn tiyang, manawi tiyang punika tĂȘrus gĂȘsang, ing dunya kĂȘbak manusa, lampahipun saking ĂȘnem urut sĂȘpuh, ngantos roh lapisan, sanadyan suksmanipun tiyang, nanging manawi tekadipun nasar, pĂȘjahipun manjalma dados kuwuk, sanadyan suksmanipun kewan, nanging sagĂȘd manjalma dados tiyang (kajĂȘngipun, adiling Kawasa tiyang punika pinasthi ngundhuh wohing panggawene piyambak-piyambak). Nalika panjĂȘnĂȘnganipun Bathara Wisnu jumĂȘnĂȘng Nata wontĂȘn ing MĂȘndhang Kasapta, sato wana tuwin lĂȘlĂȘmbut dipuncipta dados manusa, dados wadya-balanipun Sang Nata. Nalika eyang paduka Prabu Palasara iyasa kadhaton wontĂȘn ing Gajahoya, sato wana tuwin lĂȘlĂȘmbut inggih dipuncipta dados tiyang, pramila gandanipun tiyang satunggal-satunggalipun beda-beda, gandanipun kadosdene nalika taksih dados sato kewan. SĂȘrat tapak Hyang, ingkang dipunwastani Sastrajendrayuningrat, dados saking sabda kun, ingkang dipunwastani jithok tĂȘgĂȘsipun namung puji thok. Dewa ingkang damĂȘl cahya murub nyrambahi badan, tĂȘgĂȘsipun incĂȘngĂȘn aneng cĂȘngĂȘlmu. Jiling punika puji eling marang Gusti. Punuk tĂȘgĂȘsipun panakna. Timbangan tĂȘgĂȘsipun salang. Pundhak punika panduk, urip wontĂȘn ing ‘alam dunya pados kawruh kaliyan woh kuldi, manawi angsal woh kuldi kathah, untungipun sugih daging, yen angsal woh kawruh kathah, kenging kangge sangu gĂȘsang, gĂȘsang langgĂȘng ingkang botĂȘn sagĂȘd pĂȘjah. TĂȘpak tĂȘgĂȘsipun tĂȘpa-tapanira. Walikat: walikane gĂȘsang. Ula-ula: ulatana, lalarĂȘn gĂȘgĂȘrmu sing nggligir. Sungsum tĂȘgĂȘsipun sungsungĂȘn. Lambung: waktu Dewa nyambung umur, alamipun jalma sambungan, lali eling urip mati. LĂȘmpeng kiwa tĂȘngĂȘn tĂȘgĂȘsipun tekadmu sing lĂȘmpĂȘng lair batin, purwa bĂȘnĂȘr lawan luput, bĂȘcik lawan ala. Mata tĂȘgĂȘsipun tingalana batin siji, sing bĂȘnĂȘr keblatira, keblat lor bĂȘnĂȘr siji. TĂȘngĂȘn tĂȘgĂȘsipun tĂȘngĂȘnĂȘn ingkang tĂȘrang, wontĂȘn ing dunya amung sadarmi ngangge raga, botĂȘn damĂȘl botĂȘn tumbas. Kiwa tĂȘgĂȘsipun: raga iki isi hawa kĂȘkajĂȘngan, botĂȘn wĂȘnang ngĂȘkahi pĂȘjah. MakatĂȘn punika ungĂȘling sĂȘrat. Manawi paduka maibĂȘn, sintĂȘn ingkang damĂȘl raga? SintĂȘn ingkang paring nama? inggih namung Latawalhujwa, manawi paduka maibĂȘn, paduka tĂȘtĂȘp kapir, kapiran seda paduka, botĂȘn pitados dhatĂȘng sĂȘratipun Gusti, sarta murtat dhatĂȘng lĂȘluhur Jawi sadaya, nempel tosan, kajĂȘng sela, dados dhĂȘmit tĂȘngga siti, manawi paduka botĂȘn sagĂȘd maos sastra ingkang wontĂȘn ing badanipun manusa, saseda paduka manjalma dhatĂȘng kuwuk, dene manawi sagĂȘd sagĂȘd maos sastra ingkang wontĂȘn ing raga wau, saking tiyang inggih dados tiyang, kasĂȘbut ing sĂȘrat Anbiya, KanjĂȘng Nabi Musa kala rumiyin tiyang ingkang pĂȘjah wontĂȘn ing kubur, lajĂȘng tangi malih, gĂȘsangipun gantos roh lapis enggal, gantos makam enggal. Manawi paduka ngrasuk agami Islam, tiyang Jawi tamtu lajĂȘng Islam sadaya. Manawi kula, wadhag alus-kula sampun kula-cakup lan kula-carub, sampun jumbuh dados satunggal, inggih nglĂȘbĂȘt inggih jawi, dados kantun sasĂȘdya-kula kemawon, ngadam utawi wujud sagĂȘd sami sanalika, manawi kula kĂȘpengin badhe wujud, inggih punika wujud-kula, sĂȘdya ngadam, inggih sagĂȘd ical sami sanalika, yen sĂȘdya maujud sagĂȘd katingal sanalika. Raga-kawula punika sipating Dewa, badan-kawula sakojur gadhah nama piyambak-piyambak. Cobi paduka-dumuk: pundi wujudipun Sabdapalon, sampun kalingan pajar, saking pajaripun ngantos sampun botĂȘn katingal wujudipun Sabdapalon, kantun asma nglimputi badan, botĂȘn ĂȘnem botĂȘn sĂȘpuh, botĂȘn pĂȘjah botĂȘn gĂȘsang, gĂȘsangipun nglimputi salĂȘbĂȘting pĂȘjahipun, dene pĂȘjahipun nglimputi salĂȘbĂȘting gĂȘsangipun, langgĂȘng salaminipun”. Sang Prabu ndangu: “Ana ing ngĂȘndi Pangeran Kang Sajati?” Sabdapalon matur: “BotĂȘn tĂȘbih botĂȘn cĂȘlak, paduka wayangipun wujud sipating suksma, dipunanggĂȘp sarira tunggal, budi hawa badan, tiga-tiga punika tumindakipun; botĂȘn pisah, nanging inggih botĂȘn kumpul. Paduka punika sampun Ratu linuhung tamtu botĂȘn badhe kĂȘkilapan dhatĂȘng atur-kula punika”. Sang Prabu ngandika maneh: “Apa kowe ora manut agama?” Sabdapalon ature sĂȘndhu: “Manut agami lami, dhatĂȘng agami enggal botĂȘn manut! Kenging punapa paduka gantos agami tĂȘka botĂȘn nantun kula, paduka punapa kĂȘkilapan dhatĂȘng nama kula Sabdapalon? Sabda tĂȘgĂȘsipun pamuwus, Palon: pikukuh kandhang. Naya tĂȘgĂȘsipun ulat, Genggong: langgĂȘng botĂȘn ewah. Dados wicantĂȘn-kula punika, kenging kangge pikĂȘkah ulat pasĂȘmoning tanah Jawi, langgĂȘng salaminipun.” Sang Prabu ngandika: “Kapriye iki, aku wis kĂȘbacut mlĂȘbu agama Islam, wis disĂȘkseni Sahid, aku ora kĂȘna bali agama Buddha maneh, aku wirang yen digĂȘguyu bumi langit.” Sabdapalon matur maneh: “Inggih sampun, lakar paduka-lampahi piyambak, kula botĂȘn tumut-tumut.” Sunan Kalijaga banjur matur marang Sang Prabu, kang surasane ora prĂȘlu manggalih kang akeh-akeh, amarga agama Islam iku mulya bangĂȘt, sarta matur yen arĂȘp nyipta banyu kang ana ing beji, prĂȘlu kanggo tandha yĂȘkti, kapriye mungguh ing gandane. Yen banyu dicipta bisa ngganda wangi, iku tandha yen Sang Prabu wis mantĂȘp marang agama Rasul, nanging yen gandane ora wangi, iku anandhakake: yen Sang Prabu isih panggalih Buddha. Sunan Kalijaga banjur nyipta, padha sanalika banyu sĂȘndhang banjur dadi wangi gandane, ing kono Sunan kalijaga matur marang Sang Prabu, kaya kang wis kathandha, yen Sang Prabu nyata wis mantĂȘp marang agama Rasul, amarga banyu sĂȘndhang gandane wangi. (11) Ature Sabdapalon marang Sang Prabu: Punika kasĂȘkten punapa? kasĂȘktening uyuh kula wingi sontĂȘn, dipunpamerakĂȘn dhatĂȘng kula. Manawi kula timbangana nama kapilare, mĂȘngsah uyuh-kula piyambak, ingkang kula rĂȘbat punika? Paduka sampun kĂȘlajĂȘng kĂȘlorob, karsa dados jawan, irib-iriban, rĂȘmĂȘn manut nunut-nunut, tanpa guna kula ĂȘmong, kula wirang dhatĂȘng bumi langit, wirang momong tiyang cabluk, kula badhe pados momongan ingkang mripat satunggal, botĂȘn rĂȘmĂȘn momong paduka. Manawi kula sumĂȘdya ngĂȘdalakĂȘn kaprawiran, toya kula-ĂȘntut sĂȘpisan kemawon, sampun dados wangi. Manawi paduka botĂȘn pitados, kang kasĂȘbut ing pikĂȘkah Jawi, nama Manik Maya, punika kula, ingkang jasa kawah wedang sanginggiling rĂȘdi rĂȘdi Mahmeru punika sadaya kula, adi Guru namung ngideni kemawon, ing wĂȘkdal samantĂȘn tanah Jawi sitinipun gonjang-ganjing, saking agĂȘnging latu ingkang wontĂȘn ing ngandhap siti, rĂȘdi-rĂȘdi sami kula ĂȘntuti, pucakipun lajĂȘng anjĂȘmblong, latunipun kathah ingkang mĂȘdal, mila tanah Jawi lajĂȘng botĂȘn goyang, mila rĂȘdi-rĂȘdi ingkang inggil pucakipun, sami mĂȘdal latunipun sarta lajĂȘng wontĂȘn kawahipun, isi wedang lan toya tawa, punika inggih kula ingkang damĂȘl, sadaya wau atas karsanipun Latawalhujwa, ingkang damĂȘl bumi lan langit. Punapa cacadipun agami Buddha, tiyang sagĂȘd matur piyambak dhatĂȘng Ingkang Maha Kuwasa. Paduka yĂȘktos, manawi sampun santun agami Islam, nilar agami Buddha, turun paduka tamtu apĂȘs, Jawi kantun jawan, Jawinipun ical, rĂȘmĂȘn nunut bangsa sanes. Benjing tamtu dipunprentah dening tiyang Jawi ingkang mangrĂȘti. Cobi paduka-yĂȘktosi, benjing: sasi murub botĂȘn tanggal, wiji bungkĂȘr botĂȘn thukul, dipuntampik dening Dewa, tinanĂȘma thukul mriyi, namung kangge tĂȘdha pĂȘksi, mriyi punika pantun kados kĂȘtos, amargi paduka ingkang lĂȘpat, rĂȘmĂȘn nĂȘmbah sela. Paduka-yĂȘktosi, benjing tanah Jawa ewah hawanipun, wĂȘwah bĂȘnter awis jawah, suda asilipun siti, kathah tiyang rĂȘmĂȘn dora, kĂȘndĂȘl tindak nistha tuwin rĂȘmĂȘn supata, jawah salah masa, damĂȘl bingungipun kanca tani. Wiwit dintĂȘn punika jawahipun sampun suda, amargi kukuminipun manusa anggenipun sami gantos agami. Benjing yen sampun mrĂȘtobat, sami engĂȘt dhatĂȘng agami Buddha malih, lan sami purun nĂȘdha woh kawruh, Dewa lajĂȘng paring pangapura, sagĂȘd wangsul kados jaman Buddha jawahipun”. Sang Prabu mirĂȘng ature Sabdapalon, ing batos rumaos kaduwung bangĂȘt dene ngrasuk agama Islam, nilar agama Buddha. Nganti suwe ora ngandika, wasana banjur ngandika, amratelakake yen ĂȘnggone mlĂȘbĂȘt agama Islam iku, amarga kĂȘpencut ature putri CĂȘmpa, kang ngaturake yen wong agama Islam iku, jarene besuk yen mati, antuk swarga kang ngungkuli swargane wong kapir. Sabdapalon matur, angaturake lĂȘpiyan, yen wiwit jaman kuna mula, yen wong lanang manut wong wadon, mĂȘsthi nĂȘmu sangsara, amarga wong wadon iku utamane kanggo wadhah, ora wĂȘnang miwiti karĂȘp, Sabdapalon akeh-akeh ĂȘnggone nutuh marang Sang Prabu. Sang Prabu ngandika: “Kok-tutuha iya tanpa gawe, amarga barang wis kĂȘbacut, saiki mung kowe kang tak-tari, kapriye kang dadi kĂȘkĂȘncĂȘnganing tekadmu? Yen aku mono ĂȘnggonku mlĂȘbu agama Islam, wis disĂȘkseni dening si Sahid, wis ora bisa bali mĂȘnyang Buddha mĂȘneh”. Sabdapalon matur yen arĂȘp misah, barĂȘng didangu lungane mĂȘnyang ngĂȘndi, ature ora lunga, nanging ora manggon ing kono, mung nĂȘtĂȘpi jĂȘnĂȘnge SĂȘmar, nglimputi salire wujud, anglela kalingan padhang. Sang Prabu diaturi ngyĂȘktosi, ing besuk yen ana wong Jawa ajĂȘnĂȘng tuwa, agĂȘgaman kawruh, iya iku sing diĂȘmong Sabdapalon, wong jawan arĂȘp diwulang wĂȘruha marang bĂȘnĂȘr luput. Sang Prabu karsane arĂȘp ngrangkul Sabdapalon lan Nayagenggong, nanging wong loro mau banjur musna. Sang Prabu ngungun sarta nĂȘnggak waspa, wusana banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Ing besuk nagara Blambangan salina jĂȘnĂȘng nagara Banyuwangi, dadiya tĂȘngĂȘr Sabdapalon ĂȘnggone bali marang tanah Jawa anggawa momongane. Dene samĂȘngko Sabdapalon isih nglimput aneng tanah sabrang”. Sunan Kalijaga banjur didhawuhi nĂȘngĂȘri banyu sĂȘndhang, yen gandane mari wangi, besuk wong Jawa padha ninggal agama Islam ganti agama Kawruh. Sunan Kalijaga banjur jasa bumbung loro kang siji diiseni banyu tawa, sijine diiseni banyu sĂȘndhang. Banyu sĂȘndhang mau kanggo tandha, yen gandane mari wangi, wong tanah Jawa padha salin agama kawruh. Bumbung sawise diiseni banyu, banjur disumpĂȘli godhong pandan-sili, sabanjure digawa sakabate loro. Sang Prabu Brawijaya banjur tindak didherekake Sunan Kalijaga lan sakabate loro, tindake kawĂȘngen ana ing dalan, nyare ana ing SumbĂȘrwaru, esuke bumbunge dibukak, banyune diambu isih wangi, nuli mbanjurake tindake, wayah surup srĂȘngenge, wis tĂȘkan ing Panarukan. Sang Prabu nyare ana ing kono, ing wayah esuk, banyu ing bumbu diganda isih wangi, Sang Prabu mbanjurake tindake. BarĂȘng wis wayah surup srĂȘngenge, tĂȘkan ing BĂȘsuki, Sang Prabu uga nyare ana ing kono, esuke banyu ing bumbung diganda mundhak wangine, Sang Prabu banjur nĂȘrusake tindake nganti wayah surup srĂȘngenge, tĂȘkan ing Prabalingga, ana ing kono uga nyare sawĂȘngi, esuke banyune ditiliki, banyune tawa isih enak, nanging munthuk, unthuke gandane arum, nanging mung kari sathithik, amarga kĂȘrĂȘp diunjuk ana ing dalan, dene banyune sĂȘndhang barĂȘng ditiliki gandane dadi bangĂȘr, tumuli dibuwang. Sang Prabu banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Prabalingga ing besuk jĂȘnĂȘnge loro, Prabalingga karo BangĂȘrwarih 12 ing kene besuk dadi panggonan kanggo pakumpulane wong-wong kang padha ngudi kawruh kapintĂȘran lan kabatinan, Prabalingga tĂȘgĂȘse prabawane wong Jawa kalingan prabawane tangga”. Sang Prabu mbanjurake tindake, ing pitung dinane, wis tĂȘkan ing Ampelgadhing. Nyai AgĂȘng Ampelgadhing tumuli mĂȘthukake banjur ngabĂȘkti marang Sang Prabu karo muwun, sarta akeh-akeh sĂȘsambate. Sang Prabu banjur ngandika: “Wis aja nangis ĂȘngger, mupusa yen kabeh mau wis dadi karsane Kang Maha Kuwasa, kudu mangkene. Aku lan kowe mung sadarma nglakoni, kabeh lĂȘlakon wis ditulis aneng lokhilmakful. BĂȘgja cilaka ora kĂȘna disinggahi, nanging wajibe wong urip kudu kĂȘpengin mĂȘnyang ilmu”. Nyai AgĂȘng Ampel banjur matur marang Sang Prabu, ngaturake patrape ingkang wayah Prabu Jimbun, kaya kang wis kasĂȘbut ing ngarĂȘp. Sang Prabu banjur dhawuh nimbali Prabu Jimbun. Nyai Ampel nuli utusan mĂȘnyang DĂȘmak nggawa layang, satĂȘkane ing DĂȘmak, layang wis katur marang Sang Prabu Jimbun, ora antara suwe Prabu Jimbun budhal sowan mĂȘnyang Ampel. Kacarita putra Nata ing Majapahit, kang aran Raden Bondhankajawan ing Tarub, mirĂȘng pawarta yen nagara Majapahit dibĂȘdhah Adipati DĂȘmak, malah Sang Prabu lolos saka jroning pura, ora karuhan mĂȘnyang ngĂȘndi tindake, rumasa ora kapenak panggalihe, banjur tindak marang Majapahit, tindake Raden Bondhankajawan namur kula, nungsung warta ing ngĂȘndi dununge ingkang rama, satĂȘkane Surabaya, mirĂȘng warta yen ingkang rama Sang Prabu tĂȘdhak ing Ampel, nanging banjur gĂȘrah, Raden Bondhankajawan nuli sowan ngabĂȘkti. Sang Prabu ndangu: “Sing ngabĂȘkti iki sapa?” Raden Bondhankajawan matur yen panjĂȘnĂȘngane kang ngabĂȘkti. Sang Prabu banjur ngrangkul ingkang putra, gĂȘrahe Sang Prabu sangsaya mbatĂȘk, ngrumaosi yen wis arĂȘp kondur marang jaman kalanggĂȘngan, pangandikane marang Sunan Kalijaga mangkene: Sahid, nyĂȘdhaka mrene, aku wis arĂȘp mulih marang jaman kalanggĂȘngan, kowe gaweya layang mĂȘnyang PĂȘngging lan Pranaraga, mĂȘngko tak-wenehane tandha asta, wis padha narima rusake MajalĂȘngka, aja padha ngrĂȘbut kapraboningsun, kabeh mau wis karsane Kang Maha Suci, aja padha pĂȘrang, mundhak gawe rudahing jagad, balik padha ngemana rusaking wadya-bala, sebaa marang DĂȘmak, sapungkurku sing padha rukun, sapa sing miwiti ala, tak-suwun marang Kang maha Kuwasa, yudane apĂȘsa.” Sunan Kalijaga banjur nyĂȘrat, sawise rampung banjur ditapak-astani dening sang Prabu, sabanjure diparingake marang PĂȘngging lan Pranaraga. Sang Prabu banjur ngandika: “Sahid, sapungkurku kowe sing bisa momong marang anak putuku, aku titip bocah iki, saturun-turune ĂȘmongĂȘn, manawa ana bĂȘgjane, besuk bocah iki kang bisa nurunake lajĂȘre tanah Jawa, lan maneh wĂȘkasku marang kowe, yen aku wis kondur marang jaman kalanggĂȘngan, sarekna ing Majapahit sa-lor-wetane sagaran, dene pasareyaningsun bakal sun-paringi jĂȘnĂȘng Sastrawulan, lan suwurna kang sumare ana ing kono yayi Raja Putri CĂȘmpa, lan maneh wĂȘlingku, besuk anak-putuku aja nganti entuk liya bangsa, aja gawe senapati pĂȘrang wong kang seje bangsa.” Sunan Kalijaga sawise dipangandikani banjur matur: “Punapa Sang Prabu botĂȘn paring idi dhatĂȘng ingkang putra Prabu Jimbun jumĂȘnĂȘngipun Nata wontĂȘn ing tanah Jawi?” Sang Prabu ngandika: “Sun-paringi idi, nanging mung mandhĂȘg tĂȘlung turunan.” Sunan kalijaga nyuwun sumurup mungguh tĂȘgĂȘse araning bakal pasareyane Sang Prabu. Sang Prabu ngandika: “Sastra tĂȘgĂȘse tulis, Wulan tĂȘgĂȘse damaring jagad, tulise kuburku mung kaya gĂȘbyaring wulan, yen isih ana gĂȘbyaring wulan, ing tĂȘmbe buri, wong Jawa padha wĂȘruh yen sedaku wis ngrasuk agama Islam, mula tak-suwurake Putri CĂȘmpa, amarga aku wis diwadonake si Patah, sarta wis ora dianggĂȘp priya, nganti kaya mangkene siya-siyane marang aku, mulane ĂȘnggonku mangĂȘni madĂȘge Ratu mung tĂȘlung turunan, amarga si Patah iku wiji tĂȘlu, Jawa, Cina lan raksasa, mula kolu marang bapa sarta rusuh tindake, mula wĂȘkasku, anak-putuku aja entuk seje bangsa, amarga sajroning sihsinihan di seje bangsa mau nganggo ngobahake agamane, bisaa ngapĂȘsake urip, mula aku paring piwĂȘling aja gawe senapati pĂȘrang wong kang seje jinis, mundhak ngenthengake Gustine, ing sajroning mangun yuda, banjur mangro tingal, wis Sahid, kabeh pitungkasku, tulisĂȘn.” Sang Prabu sawise paring pangandika mangkono, astane banjur sidhakĂȘp, tĂȘrus seda, layone banjur disarekake ana ing astana Sastrawulan ing Majapahit, katĂȘlah nganti saprene kocape kang sumare ana ing kono iku Sang Putri CĂȘmpa, dene mungguh satĂȘmĂȘne Putri CĂȘmpa iku sedane ana ing Tuban, dununing pasareyan ana ing Karang Kumuning. BarĂȘng wis tĂȘlung dina saka sedane Sang Prabu Brawijaya, kacarita Sultan Bintara lagi rawuh ing Ampelgadhing sarta kapanggih Nyai AgĂȘng.

DHARMOGANDUL

GĂȘnti kang cinarita, tindake Sunan kalijaga ĂȘnggone ngupaya Sang Prabu Brawijaya, mung didherekake sakabat loro lakune kĂȘlunta-lunta, sabĂȘn desa diampiri, saka ĂȘnggone ngupaya warta. Lampahe Sunan Kalijaga turut pasisir wetan, sing kalangkungan tindake Sang Prabu Brawijaya. Lampahe Sang Prabu Brawijaya wis tĂȘkan ing Blambangan, sarehne wis kraos sayah banjur kendĂȘl ana sapinggiring beji. Ing wĂȘktu iku panggalihe Sang Prabu pĂȘtĂȘng bangĂȘt, dene sing marak ana ngarsane mung kĂȘkasih loro, iya iku Nayagenggong lan Sabdapalon, abdi loro mau tansah gĂȘguyon, lan padha mikir kahaning lĂȘlakon kang mĂȘntas dilakoni, ora antara suwe kĂȘsaru sowanne Sunan Kalijaga, banjur ngabĂȘkti sumungkĂȘm padane Sang Prabu. Sang Prabu banjur ndangu marang Sunan Kalijaga: “Sahid! kowe tĂȘka ana apa? Apa prĂȘlune nututi aku?” Sunan Kalijaga matur: “Sowan kula punika kautus putra paduka, madosi panjĂȘnĂȘngan paduka, kapanggiha wontĂȘn ing pundi-pundi, sĂȘmbah sungkĂȘmipun konjuka ing pada paduka Aji, nuwun pangaksama sadaya kasisipanipun, dene ngantos kamipurun ngrĂȘbat kaprabon paduka Nata, awit saking kalimputing manah mudha punggung, botĂȘn sumĂȘrĂȘp tata krami, sangĂȘt kapenginipun mĂȘngku praja angreh wadyabala, sineba ing para bupati. Samangke putra paduka rumaos ing kalĂȘpatanipun, dene darbe bapa Ratu Agung ingkang anyĂȘngkakakĂȘn saking ngandhap aparing darajat Adipati ing DĂȘmak, tangeh malĂȘsa ing sih paduka Nata, ing mangke putra paduka emut, bilih panjĂȘnĂȘngan paduka linggar saking praja botĂȘn kantĂȘnan dunungipun, punika putra paduka rumaos yen mĂȘsthi manggih dĂȘdukaning Pangeran. Mila kawula dinuta madosi panjĂȘnĂȘngan paduka, kapanggiha wontĂȘn ing pundi-pundi ingaturan kondur rawuh ing Majapahit, tĂȘtĂȘpa kados ingkang wau-wau, mĂȘngku wadya sineba para punggawa, aweta dados jĂȘjimat pinundhi-pundhi para putra wayah buyut miwah para santana, kinurmatan sinuwunan idi wilujĂȘngipun wontĂȘn ing bumi. Manawi paduka kondur, putra paduka pasrah kaprabon paduka Nata, putra paduka nyaosakĂȘn pĂȘjah gĂȘsang, yen kaparĂȘng saking karsa paduka, namung nyuwun pangaksama paduka, sadayaning kalĂȘpatanipun, lan nyuwun pangkatipun lami dados Adipati ing DĂȘmak, tĂȘtĂȘpa kados ingkang sampun. Dene yen panjĂȘnĂȘngan paduka botĂȘn karsa ngasta kaprabon Nata, sinaosan kadhaton wontĂȘn ing rĂȘdi, ing pundi sasĂȘnĂȘnging panggalih paduka, ing rĂȘdi ingkang karsakakĂȘn badhe dipundhĂȘpoki, putra paduka nyaosi busana lan dhahar paduka, nanging nyuwun pusaka Karaton ing tanah Jawa, dipunsuwun ingkang rila tĂȘrusing panggalih”. Sang Prabu Brawijaya ngandika: “Ingsun-rungu aturira, Sahid! nanging ora ingsun-gatekake, karana ingsun wis kapok rĂȘmbugan karo santri padha nganggo mata pitu, padha mata lapisan kabeh, mula blero pandulune, mawas ing ngarĂȘp nanging jĂȘbul anjĂȘnggung ing buri, rĂȘmbuge mung manis ana ing lambe, batine angandhut pasir kinapyukake ing mata, murih picĂȘka mataku siji. Sakawit ingsun bĂȘciki, walĂȘse kaya kĂȘnyung buntut, apa ta salah-ingsun, tĂȘka rinusak tanpa prakara, tinggal tata adat caraning manusa, mukul pĂȘrang tanpa panantang, iku apa nganggo tataning babi, dadi dudu tataning manusa kang utama”. Sunan Kalijaga barĂȘng ngrungu pangandikane Sang Prabu rumasa ing kaluputane ĂȘnggone melu mbĂȘdhah karaton Majapahit, ing batin bangĂȘt panalangsane, dene kadudon kang wis kĂȘbanjur, mula banjur ngrĂȘrĂȘpa, ature: “Inggih saduka-duka paduka ingkang dhumawa dhatĂȘng putra wayah, mugi dadosa jimat paripih, kacancang pucuking rema, kapĂȘtĂȘk wontĂȘn ing ĂȘmbun, mandar amĂȘwahana cahya nurbuwat ingkang wĂȘning, rahayunipun para putra wayah sadaya. Sarehning sampun kalĂȘpatan, punapa malih ingkang sinuwun malih, kajawi namung pangapuntĂȘn paduka. wangsul karsa paduka karsa tindak dhatĂȘng pundi?” Sang Prabu Brawijaya ngandika: “Saiki karsaningsun arsa tindak mĂȘnyang Bali, kĂȘtĂȘmu karo yayi Prabu Dewa agung ing KĂȘlungkung, arsa ingsun-wartani pratingkahe si Patah, sikara wong tuwa kang tanpa dosa, lan arsa ingsun-kon nimbali para Raja kanan kering tanah jawa, samĂȘkta sakapraboning pĂȘrang, lan Adipati Palembang sun-wehi wĂȘruh, yen anake karo pisan satĂȘkane tanah Jawa sun-angkat dadi Bupati, nanging ora wĂȘruh ing dalan, banjur wani mungsuh bapa Ratu, sun-jaluk lilane anake arĂȘp ingsun pateni, sabab murtat wani ing bapa kapindhone Ratu, lan ingsun arsa angsung wikan marang Hongte ing Cina, yen putrane wis patutan karo ingsun mĂȘtu lanang siji, ananging ora wĂȘruh ing dalan, wani mungsuh bapa ratu, iya ingsun-jaluk lilane, yen putune arsa ingsun-pateni, ingsun njaluk biyantu prajurit Cina, samĂȘkta sakapraboning pĂȘrang, njujuga nagari Bali. Yen wis samĂȘkta sawadya prajurit, sarta padha eling marang lĂȘlabĂȘtan kabĂȘcikaningsun, lan duwe wĂȘlas marang wong wungkuk kaki-kaki, yĂȘkti padha tĂȘka ing Bali sagĂȘgamaning pĂȘrang, sun-jak marang tanah Jawa angrĂȘbut kapraboningsun, iya sanadyan pĂȘrang gĂȘdhe gĂȘgĂȘmpuran amungsuh anak, ingsun ora isin, awit ingsun ora ngawiti ala, aninggal carane wong agung.” Sunan Kalijaga ngrungu dhawuhe Sang Prabu kang mangkono iku ing sanalika mung dhĂȘlĂȘg-dhĂȘlĂȘg, ngandika sajroning ati: “Tan cidra karo dhawuhe Nyai AgĂȘng Ngampelgadhing, yen eyang wungkuk isih mbrĂȘgagah nggagahi nagara, ora nyawang wujuding dhiri, kulit kisut gĂȘgĂȘr wungkuk. Lamun iki ngantiya nyabrang marang Bali, ora wurung bakal ana pĂȘrang gĂȘdhe tur wadya ing DĂȘmak masa mĂȘnanga, amarga katindhihan luput, mungsuh ratu pindho bapa, kaping tĂȘlune kang mbĂȘciki, wis mĂȘsthi bae wong Jawa kang durung Islam yĂȘkti asih marang Ratu tuwa, angantĂȘp tangkĂȘping jurit, mĂȘsthi asor wong Islam tumpĂȘs ing pĂȘpĂȘrangan.” Wusana Sunan Kalijaga matur alon: “Dhuh pukulun JĂȘng Sang Prabu! saupami paduka lajĂȘngna rawuh ing bali, nimbali para Raja, saestu badhe pĂȘrang gĂȘgĂȘmpuran, punapa botĂȘn ngeman risakipun nagari Jawi, sampun tamtu putra paduka ingkang badhe nĂȘmahi kasoran, panjĂȘnĂȘngan paduka jumĂȘnĂȘng Nata botĂȘn lami lajĂȘng surud, kaprabon Jawi kaliya ing sanes darah paduka Nata, saupami kados dene sĂȘgawon rĂȘbatan bathang, ingkang kĂȘrah tulus kĂȘrah tĂȘtumpĂȘsan sami pĂȘjah sadaya daging lan manah kathĂȘda ing sĂȘgawon sanesipun”. Sang prabu Brawijaya ngandika: “Mungguh kang mangkono iki luwih-luwih karsane Dewa Kang Linuwih, ingsun iki Ratu Binathara, nĂȘtĂȘpi mripat siji, ora nganggo mata loro, mung siji marang bĂȘnĂȘr paningalku, kang miturut adat pranatane para lĂȘluhur. Saupama si Patah ngrasa duwe bapa ingsun, kĂȘpengin dadi Ratu, disuwun krananing bĂȘcik, karaton ing tanah Jawa, iya sun-paringake krana bĂȘcik, ingsun wis kaki-kaki, wis warĂȘg jumĂȘnĂȘng Ratu, nrima dadi pandhita, pitĂȘkur ana ing gunung. Balik samĂȘngko si Patah siya mring sun, mĂȘsthine-ingsun iya ora lila ing tanah Jawa diratoni, luwih karsaning Jawata Gung, pamintane marang para titah ing wuri.” Sunan Kalijaga barĂȘng mirĂȘng pangandikane Sang Prabu, rumasa ora kaconggah ngaturi, mula banjur nyungkĂȘmi pada, sarta banjur nyaosake cundrike karo matur, yen Sang Prabu ora karsa nglampahi kaya ature Sunan Kalijaga, Sunan Kalijaga nyuwun supaya dipateni bae, amarga lingsĂȘm manawa mĂȘruhi lĂȘlakon kang saru. Sang Prabu nguningani patrape Sunan kalijaga kang mangkono mau, panggalihe kanggĂȘg, mula nganti suwe ora ngandika tansah tĂȘbah jaja karo nĂȘnggak waspa, sĂȘrĂȘt pangandikane: “Sahid! linggiha dhisik, tak-pikire sing bĂȘcik, tak-timbange aturmu, bĂȘnĂȘr lan lupute, tĂȘmĂȘn lan gorohe, amarga aku kuwatir yen aturmu iku goroh kabeh. Sumurupa Sahid! saupama aku kondur marang Majapahit, si Patah seba mĂȘnyang aku, gĂȘthinge ora bisa mari, amarga duwe bapa Buddha kawak kapir kupur, liya dina lali, aku banjur dicĂȘkĂȘl dibiri, dikon tunggu lawang pungkuran, esuk sore diprĂȘdi sĂȘmbahyang, yen ora ngrĂȘti banjur diguyang ana ing blumbang dikosoki alang-alang garing.” Sang Prabu mbanjurake pangandikane marang Sunan Kalijaga: “Mara pikirĂȘn, Sahid! saiba susahing atiku, wong wis tuwa, nyĂȘkrukuk, kok dikum ing banyu”. Sunan Kalijaga gumujĂȘng karo matur: “Mokal manawi makatĂȘn, benjing kula ingkang tanggĂȘl, botĂȘn-botĂȘnipun manawi putra paduka badhe siya-siya dhatĂȘng panjĂȘnĂȘngan paduka, dene bab agami namung kasarah sakarsa paduka, namung langkung utami manawi panjĂȘnĂȘngan paduka karsa gantos sarak rasul, lajĂȘng nyĂȘbut asmaning Allah, manawi botĂȘn karsa punika botĂȘn dados punapa, tiyang namung bab agami, pikĂȘkahipun tiyang Islam punika sahadat, sanadyan salat dhingklak-dhingkluk manawi dereng mangrĂȘtos sahadat punika inggih tĂȘtĂȘp nama kapir”. Sang Prabu ngandika: “Sahadat iku kaya apa, aku kok durung ngrĂȘti, coba ucapna tak-rungokne”. Sunan kalijaga banjur ngucapake sahadat: ashadu ala ilaha ila’llah, wa ashadu anna Mukhammadar-Rasulu’llah, tĂȘgĂȘsipun: Ingsung anĂȘkseni, ora ana Pangeran kang sajati, amung Allah, lan anĂȘkseni, KangjĂȘng Nabi Mukhammad iku utusane Allah”. Ature Sunan Kalijaga marang Sang Prabu: “Tiyang nĂȘmbah dhatĂȘng arah kemawon, botĂȘn sumĂȘrĂȘp wujud tĂȘgĂȘsipun, punika tĂȘtĂȘp kapiripun, lan malih sintĂȘn tiyang ingkang nĂȘmbah puji ingkang sipat wujud warni, punika nĂȘmbah brahala namanipun, mila tiyang punika prĂȘlu mangrĂȘtos dhatĂȘng lair lan batosipun. Tiyang ngucap punika kĂȘdah sumĂȘrĂȘp dhatĂȘng ingkang dipunucapakĂȘn, dene tĂȘgĂȘsipun Nabi Mukhammad Rasula’llah: Mukhammad punika makam kuburan, dados badanipun tiyang punika kuburipun rasa sakalir, muji badanipun piyambak, botĂȘn muji Mukhammad ing ‘Arab, raganipun manusa punika wĂȘwayanganing Dzating Pangeran, wujud makam kubur rasa, Rasul rasa kang nusuli, rasa pangan manjing lesan, Rasule minggah swarga, lu’llah, luluh dados ĂȘndhut, kasĂȘbut Rasulu’llah punika rasa ala ganda salah, riningkĂȘs dados satunggal Mukhammad Rasula’llah, kang dhingin wĂȘruh badan, kaping kalih wĂȘruh ing tĂȘdhi, wajibipun manusa mangeran rasa, rasa lan tĂȘdhi dados nyĂȘbut Mukhammad rasulu’llah, mila sĂȘmbahyang mungĂȘl “uzali” punika tĂȘgĂȘsipun nyumĂȘrĂȘpi asalipun. Dene raganipun manusa punika asalipun saking roh idlafi, rohipun Mukhammad Rasul, tĂȘgĂȘsipun Rasul rasa, wijile rasaning urip, mĂȘdal saking badan kang mĂȘnga, lantaran ashadualla, manawi botĂȘn mĂȘngrĂȘtos tĂȘgĂȘsipun sahadat, botĂȘn sumĂȘrĂȘp rukun Islam, botĂȘn mangrĂȘtos purwaning dumados”. Sunan kalijaga ature akeh-akeh, nganti Prabu Brawijaya karsa santun agama Islam, sawise banjur mundhut paras marang Sunan Kalijaga nanging remane ora tĂȘdhas digunting, mulane Sunan Kalijaga banjur matur, Sang Prabu diaturi Islam lair batos, amarga yen mung lair bae, remane ora tĂȘdhas digunting. Sang Prabu banjur ngandika yen wis lair batos, mulane kĂȘna diparasi. Sang Prabu sawise paras banjur ngandika marang Sabdapalon lan Nayagenggong: “Kowe karo pisan tak-tuturi, wiwit dina iki aku ninggal agama Buddha, ngrasuk agama Islam, banjur nyĂȘbut asmaning Allah Kang Sajati. Saka karsaku, kowe sakarone tak-ajak salin agama Rasul tinggal agama Buddha”. Sabdapalon ature sĂȘndhu: “Kula niki Ratu Dhang Hyang sing rumĂȘksa tanah Jawa. SintĂȘn ingkang jumĂȘnĂȘng Nata, dados momongan kula. Wiwit saking lĂȘluhur paduka rumiyin, Sang Wiku Manumanasa, SakutrĂȘm lan Bambang Sakri, run-tumurun ngantos dumugi sapriki, kula momong pikukuh lajĂȘr Jawi, kula manawi tilĂȘm ngantos 200 taun, sadangunipun kula tilĂȘm tamtu wontĂȘn pĂȘpĂȘrangan sadherek mĂȘngsah sami sadherek, ingkang nakal sami nĂȘdha jalma, sami nĂȘdha bangsanipun piyambak, dumugi sapriki umur-kula sampun 2000 langkung 3 taun, momong lajĂȘr Jawi, botĂȘn wontĂȘn ingkang ewah agamanipun, nĂȘtĂȘpi wiwit sapisan ngestokakĂȘn agami Buddha. SawĂȘg paduka ingkang karsa nilar pikukuh luhur Jawi. Jawi tĂȘgĂȘsipun ngrĂȘti, tĂȘka narimah nama Jawan, rĂȘmĂȘn manut nunut-nunut, pamrihipun damĂȘl kapiran muksa paduka mbenjing.” Sabdane Wiku tama sinauran gĂȘtĂȘr-patĂȘr. Sang Prabu Brawijaya sinĂȘmonan dening Jawata, ĂȘnggone karsa mlĂȘbĂȘt agama Rasul, iya iku rĂȘrupan kahanan ing dunya ditambahi warna tĂȘlu: 1: aran sukĂȘt Jawan, 2: pari Randanunut, lan 3: pari Mriyi. Sang Prabu andangu maneh: “Kapriye kang padha dadi kĂȘkĂȘncĂȘnganmu, apa gĂȘlĂȘm apa ora ninggal agama Buddha, salin agama Rasul, nyĂȘbut Nabi Mukhammad Rasula’llah panutaning para Nabi, lan nyĂȘbut asmaning Allah Kang Sajati?” Sabdapalon ature sĂȘndhu: “Paduka mlĂȘbĂȘt piyambak, kula botĂȘn tĂȘgĂȘl ningali watak siya, kados tiyang ‘Arab. Siya punika tĂȘgĂȘsipun ngukum, tur siya dhatĂȘng raga, manawi kula santun agami, saestu damĂȘl kapiran kamuksan-kula, ing benjing, dene ingkang mastani mulya punika rak tiyang ‘Arab sarta tiyang Islam sadaya, anggenipun ngalĂȘm badanipun piyambak. Manawi kula, mastani botĂȘn urus, ngalĂȘm saening tangga, ngapĂȘsakĂȘn badanipun piyambak, kula rĂȘmĂȘn agami lami, nyĂȘbut Dewa Ingkang Linangkung. Jagad punika raganipun Dewa ingkang asipat budi lan hawa, sampun dados wajibipun manusa punika manut dhatĂȘng eling budi karĂȘpan, dados botĂȘn ngapirani, manawi nyĂȘbut Nabi Mukhammad Rasulu’llah, tĂȘgĂȘse Mukhammad niku makaman kubur, kubure rasa kang salah, namung mangeran rasa wadhag wadhahing ĂȘndhut, namung tansah nĂȘdha eca, botĂȘn ngengĂȘti bilahinipun ing wingking, mila nami Mukhammad inggih makaman kuburan sakalir, roh idlafi tĂȘgĂȘsipun lapisan, manawi sampun risak wangsul dhatĂȘng asalipun malih. Wangsul Prabu Brawijaya lajĂȘng manggen wontĂȘn pundi. Adam punika muntĂȘl kaliyan Hyang Brahim, tĂȘgĂȘsipun kĂȘbrahen nalika gĂȘsangipun, botĂȘn manggih raos ingkang saestu, nanging tangining raos wujud badan, dipunwastani Mukhammadun, makaman kuburing rasa, jasanipun budi, dados sipatipun tiyang lan raos. Manawi dipunpundhut ingkang Mahakuwasa, sarira paduka sipate tiyang wujud dados, punika dadosipun piyambak, lantaranipun ngabĂȘn awon, bapa biyung botĂȘn damĂȘl, mila dipunwastani anak, wontĂȘnipun wujud piyambak, dadosipun saking gaib samar, saking karsaning Latawalhujwa, ingkang nglimputi wujud, wujudipun piyambak, risak-risakipun piyambak, manawi dipunpundhut dening Ingkang Maha Kuwasa, namung kantun rumaos lan pangraos ingkang paduka-bĂȘkta dhatĂȘng pundi kemawon, manawi dados dhĂȘmit ingkang tĂȘngga siti, makatĂȘn punika ingkang nistha, namung prĂȘlu nĂȘnggani daging bacin ingkang sampun luluh dados siti, makatĂȘn wau tĂȘtĂȘp botĂȘn wontĂȘn prĂȘlunipun. Ingkang makatĂȘn punika amargi namung saking kirang budi kawruhipun, kala gĂȘsangipun dereng nĂȘdha woh wit kawruh lan woh wit budi, nrimah pĂȘjah dados setan, nĂȘdha siti ngajĂȘng-ajĂȘng tiyang ngirim sajen tuwin slamĂȘtanipun, ing tĂȘmbe tilar mujijat rakhmat nyukani kiyamat dhatĂȘng anak putunipun ingkang kantun. Tiyang pĂȘjah botĂȘn kĂȘbawah pranataning Ratu ing lair, sampun mĂȘsthi sukma pisah kaliyan budi, manawi tekadipun sae inggih nampeni kamulyan, nanging manawi tekadipun awon inggih nampeni siksanipun. Cobi paduka-jawab atur-kula punika”. Sang Prabu ngandika: “Mulih marang asale, asal Nur bali marang Nur”. Sabdapalon matur maneh: “Inggih punika kawruhipun tiyang bingung gĂȘsangipun rugi, botĂȘn gadhah kawruh kaengĂȘtan, dereng nĂȘdha woh kawruh lan budi, asal siji mantuk satunggal, punika sanes pĂȘjah ingkang utami, dene pĂȘjah ingkang utami punika sewu satus tĂȘlung puluh. TĂȘgĂȘsipun satus punika putus, tĂȘlu punika tilas, puluh punika pulih, wujud malih, wujudipun risak, nanging ingkang risak namung ingkang asal saking roh idlafi. Uripipun langgĂȘng namung raga pisah kaliyan sukma, inggih punika sahadat ingkang botĂȘn mawi ashadu, gantos roh idlafi lapisan: sasi surup mĂȘsthi saking pundi asalipun wiwit dados jalmi. Surup tĂȘgĂȘsipun: sumurup purwa madya wasananipun, nĂȘtĂȘpana namane tiyang lumampah, sampun ebah saking prĂȘnahipun mlĂȘbĂȘt mbĂȘkta sir cipta lami”. Sang Prabu ngandika: “Ciptaku nempel wong kang luwih”. Sabdapalon matur: “Punika tiyang kĂȘsasar, kados dene kĂȘmladeyan tumemplek wit-witan agĂȘng, botĂȘn bawa piyambak, kamuktenipun namung nĂȘmpil. Punika botĂȘn pĂȘjah utami, pĂȘjahipun tiyang nistha, rĂȘmĂȘnipun namung nempel, nunut-nunut, botĂȘn bawa piyambak, manawi dipuntundhung, lajĂȘng klambrangan, dados brĂȘkasakan, lajĂȘng nempel dhatĂȘng sanesipun malih”. Sang Prabu ngandika maneh: “Asal suwung aku bali, mĂȘnyang suwung, nalika aku durung maujud iya durung ana apa-apa, dadi patiku iya mangkono”. Sabdapalon: “Punika pĂȘjahipun tiyang kalap nglawong, botĂȘn iman ‘ilmi, nalika gĂȘsangipun kados kewan, namung nĂȘdha ngombe lan tilĂȘm, makatĂȘn punika namung sagĂȘd lĂȘma sugih daging, dados nama sampun narimah ngombe uyuh kemawon, ical gĂȘsangipun salĂȘbĂȘtipun pĂȘjah”. Sang Prabu: “Aku nunggoni makaman kubur, yen wis luluh dadi lĂȘbu”. Sabdapalon: “Inggih punika pĂȘjahipun tiyang cubluk, dados setan kuburan, nĂȘnggani daging wontĂȘn kuburan, daging ingkang sampun luluh dados siti, botĂȘn mangrĂȘtos santun roh hidlafi enggal. Inggih punika tiyang bodho mangrĂȘtosa. Nun!” Sang Prabu ngandika: “Aku arĂȘp muksa saragaku”. Sabdapalon gumuyu: “Yen tiyang agami Rasul tĂȘrang botĂȘn sagĂȘd muksa, botĂȘn kuwawi ngringkĂȘs nguntal raganipun, lĂȘma kakathahĂȘn daging. Tiyang pĂȘjah muksa punika cĂȘlaka, amargi nami pĂȘjah, nanging botĂȘn tilar jisim, namanipun botĂȘn sahadat, botĂȘn pĂȘjah, botĂȘn gĂȘsang, botĂȘn sagĂȘd dados roh idlafi enggal, namung dados gunungan dhĂȘmit”. Pangandikane Sang Prabu: “Aku ora duwe cipta apa-apa, ora ikhtiar nampik milih, sakarsane Kang Maha Kuwasa”. Sabdapalon: “Paduka nilar sipat, botĂȘn ngrumaosi yen tinitah linangkung, nilar wajibing manusa, manusa dipunwĂȘnangakĂȘn nampik milih, manawi sampun narimah dados sela, sampun botĂȘn prĂȘlu pados ‘ilmi kamulyaning seda”. Sang Prabu: “Ciptaku arĂȘp mulih mĂȘnyang akhirat, munggah swarga seba Kang maha Kuwasa”. Sabdapalon matur: “Akhirat, swarga, sampun paduka-bĂȘkta ngaler ngidul, jagadipun manusa punika sampun mĂȘngku ‘alam sahir kabir, nalika tapĂȘl Adam, sampun pĂȘpak: akhirat, swarga, naraka ‘arasy kursi. Paduka badhe tindak dhatĂȘng akhirat pundi, mangke manawi kĂȘsasar lo, mangka ĂȘnggene akhirat punika tĂȘgĂȘse mlarat, saĂȘnggen- ĂȘnggen wontĂȘn akhirat, manawi kenging kula-singkiri, sampun ngantos kula mantuk dhatĂȘng kamlaratan sarta minggah dhatĂȘng akhirat adil nagari, manawi lĂȘpat jawabipun tamtu dipunukum, dipunbanda, dipunpaksa nyambut damĂȘl awrat tur botĂȘn tampa arta. KlĂȘbĂȘt akhirat nusa SrĂȘnggi, nusa tĂȘgĂȘsipun manusa, SrĂȘng tĂȘgĂȘsipun padamĂȘlan ingkang awrat sangĂȘt. Ênggi tĂȘgĂȘsipun gawe. Dados tĂȘgĂȘsipun jalma pinĂȘksa nyambut damĂȘl dhatĂȘng Ratu Nusa SrĂȘnggi namanipun, punapa botĂȘn cilaka, tiyang gĂȘsang wontĂȘn ing dunya kados makatĂȘn wau, sakulawargane mung nadhah bĂȘras sapithi, tanpa ulam, sambĂȘl, jangan punika akhirat ingkang katingal tata lair, manawi akhiratipun tiyang pĂȘjah malah langkung saking punika, paduka sampun ngantos kondur dhatĂȘng akhirat, sampun ngantos minggah dhatĂȘng swarga, mindhak kĂȘsasar, kathah rajakaya ingkang wontĂȘn ing ngriku, sadaya sami trima tilĂȘm kĂȘmul siti, gĂȘsangipun nyambut damĂȘl kanthi paksan, botĂȘn salah dipunpragat, paduka sampun ngantos sowan Gusti Allah, amargi Gusti Allah punika botĂȘn kantha botĂȘn warna, wujudipun amung asma, nglimputi wontĂȘn ing dunya tuwin ing akhirat, paduka dereng tĂȘpang, tĂȘpangipun amung tĂȘpang kados cahyanipun lintang lan rĂȘmbulan, kapanggihe cahya murub dados satunggal, botĂȘn pisah botĂȘn kumpul, tĂȘbihipun botĂȘn mawi wangĂȘnan, cĂȘlak botĂȘn panggihan, kula botĂȘn kuwawi cĂȘlak, punapa malih paduka, KangjĂȘng Nabi Musa toh botĂȘn kuwawi mandĂȘng dhatĂȘng Gusti Allah, mila Allah botĂȘn katingal, namung Dzatipun ingkang nglimputi sadaya wujud, paduka wiji rohani, sanes bangsanipun malaekat, manusa raganipun asal saking nutfah, sowan Hyang Latawalhujwa, manawi panggenanipun sampun sĂȘpuh, nyuwun ingkang enggal, dados botĂȘn wongsal-wangsul, ingkang dipunwastani pĂȘjah gĂȘsang, ingkang gĂȘsang napasipun taksih lumampah, tĂȘgĂȘsipun urip, ingkang tĂȘtĂȘp langgĂȘng, botĂȘn ewah botĂȘn gingsir, ingkang pĂȘjah namung raganipun, botĂȘn ngraosakĂȘn kanikmatan, pramila tumrap tiyang agami Buddha, manawi raganipun sampun sĂȘpuh, suksmanipun mĂȘdal nyuwun gantos ingkang sae, nglangkungi ingkang sampun sĂȘpuh, nutfah sampun ngantos ebah saking jagadipun, jagadipun manusa punika langgĂȘng, botĂȘn ewah gingsir, ingkang ewah punika makaming raos, raga wadhag ingkang asal roh idlafi. Prabu Brawijaya botĂȘn anem botĂȘn sĂȘpuh, nanging langgĂȘng manggen wontĂȘn satĂȘngahipun jagadipun, lumampah botĂȘn ebah saking panggenanipun, wontĂȘn salĂȘbĂȘting guwa sir cipta kang ĂȘning. GawanĂȘn gĂȘgawanmu, ngGĂȘgawa nĂȘdha raga. Tulis ical, etangan gunggunge: kumpul, plĂȘsatipun wĂȘtaha. Ningali jantung kĂȘtĂȘg kiwa: surut marga sire cipta, jujugipun ingkang cĂȘtha cĂȘthik cĂȘthak. Punika pungkasanipun kawruh, kawruhipun tiyang Buddha. LĂȘbĂȘtipun roh saking cĂȘthak marginipun, kendĂȘl malih wontĂȘn cĂȘthik, mĂȘdal wontĂȘn kalamwadi, kentir sagara rahmat lajĂȘng lumĂȘbĂȘt ing guwa indra-kilaning estri, tibaning nikmat ing dhasaring bumi rahmat, wontĂȘn ing ngriku ki budi jasa kadhaton baitu’llah ingkang mulya, dadosipun saking sabda kun, dados wontĂȘn tĂȘngahing jagad swarganing tiyang sĂȘpuh estri, mila jalma keblatipun wontĂȘn tĂȘngahing jagad, jagading tiyang punika guwa sir cipta namanipun, dipunbĂȘkta dhatĂȘng pundi- pundi botĂȘn ewah, umuripun sampun dipunpasthekakĂȘn, botĂȘn sagĂȘd ewah gingsir, sampun dipunsĂȘrat wontĂȘn lokhil-makful, bĂȘgja cilakanipun gumantung wontĂȘn ing budi nalar lan kawruhipun, ingkang ical utawi kirang ikhtiaripun inggih badhe ical utawi kirang bĂȘgjanipun. Wiwitanipun keblat sakawan, inggih punika wetan kilen kidul ler : tĂȘgĂȘsipun wetan : wiwitan manusa maujud; tĂȘgĂȘsipun kulon : bapa kĂȘlonan; tĂȘgĂȘsipun kidul : estri didudul wĂȘtĂȘnge ing tĂȘngah; tĂȘgĂȘsipun lor : laire jabang bayi, tanggal sapisan kapurnaman, sĂȘnteg sapisan tĂȘnunan sampun nigasi. TĂȘgĂȘsipun pur: jumbuh, na; ana wujud, ma; madhĂȘp dhatĂȘng wujud; jumbuh punika tĂȘgĂȘsipun pĂȘpak, sarwa wontĂȘn, mĂȘngku alam sahir kabir, tanggalipun manusa, lairipun saking tiyang sĂȘpuhipun estri, sarĂȘng tanggalipun kaliyan sadherekipun kakang mbarĂȘp adhi ragil, kakang mbarĂȘp punika kawah, adhi punika ari-ari, sadherek ingkang sarĂȘng tanggal gaibipun, rumĂȘksa gĂȘsangipun elingipun panjanmaning surya, lĂȘnggah rupa cahya, kontĂȘning eling sadayanipun, siyang dalu sampun sumĂȘlang dhatĂȘng sadaya rĂȘrupen, ingkang engĂȘt sadayanipun, surup lan tanggalipun sampun samar : kala rumiyin, sapunika lan benjing, punika kawruhipun tiyang Jawi ingkang agami Buddha. Raga punika dipunibaratakĂȘn baita, dene suksmanipun inggih punika tiyang ingkang wontĂȘn ing baita wau, ingkang nĂȘdahakĂȘn pandomipun, manawi baitanipun lumampah mangka salah pandomipun, tamtu manggih cilaka, baita pĂȘcah, tiyangipun rĂȘbah. Pramila kĂȘdah ingkang mapan, mumpung baitanipun taksih lumampah, manawi botĂȘn mapan gĂȘsangipun, pĂȘjah malih sagĂȘda mapan, nĂȘtĂȘpi kamanusanipun, manawi baitanipun bibrah, inggih pisah kaliyan tiyangipun; tĂȘgĂȘsipun suksma ugi pisah kaliyan budi, punika namanipun sahadat, pisahipun kawula kaliyan Gusti, sah tĂȘgĂȘsipun pisah, dat punika Dzating Gusti, manawi sampun pisah raga suksma, budinipun lajĂȘng santun baitu’llah, napas tali, muji dhatĂȘng Gusti, manawi pisaha raga suksma lan budi, mrĂȘtitis ingkang botĂȘn-botĂȘn, yen tunggal, kabĂȘsaran, tanggalipun botĂȘn surup salaminipun, punika kĂȘdah ingkang waspada, ngengĂȘtana dhatĂȘng asaling kawula, kawula ugi wajib utawi wĂȘnang matur dhatĂȘng Gusti, nyuwun baitu’llah ingkang enggal, ngungkulana ingkang lami. Raganing manusa punika namanipun baitu’llah, inggih prau gaweyaning Allah, dadosipun saking sabda kun, manawi baitanipun tiyang Jawi sagĂȘd mapan santun baitu’llah malih ingkang sae, baitanipun tiyang Islam gĂȘsangipun kantun pangrasa, praunipun sampun rĂȘmuk, manawi suksma punika pĂȘjah ing ‘alam dunya suwung, botĂȘn wontĂȘn tiyang, manawi tiyang punika tĂȘrus gĂȘsang, ing dunya kĂȘbak manusa, lampahipun saking ĂȘnem urut sĂȘpuh, ngantos roh lapisan, sanadyan suksmanipun tiyang, nanging manawi tekadipun nasar, pĂȘjahipun manjalma dados kuwuk, sanadyan suksmanipun kewan, nanging sagĂȘd manjalma dados tiyang (kajĂȘngipun, adiling Kawasa tiyang punika pinasthi ngundhuh wohing panggawene piyambak-piyambak). Nalika panjĂȘnĂȘnganipun Bathara Wisnu jumĂȘnĂȘng Nata wontĂȘn ing MĂȘndhang Kasapta, sato wana tuwin lĂȘlĂȘmbut dipuncipta dados manusa, dados wadya-balanipun Sang Nata. Nalika eyang paduka Prabu Palasara iyasa kadhaton wontĂȘn ing Gajahoya, sato wana tuwin lĂȘlĂȘmbut inggih dipuncipta dados tiyang, pramila gandanipun tiyang satunggal-satunggalipun beda-beda, gandanipun kadosdene nalika taksih dados sato kewan. SĂȘrat tapak Hyang, ingkang dipunwastani Sastrajendrayuningrat, dados saking sabda kun, ingkang dipunwastani jithok tĂȘgĂȘsipun namung puji thok. Dewa ingkang damĂȘl cahya murub nyrambahi badan, tĂȘgĂȘsipun incĂȘngĂȘn aneng cĂȘngĂȘlmu. Jiling punika puji eling marang Gusti. Punuk tĂȘgĂȘsipun panakna. Timbangan tĂȘgĂȘsipun salang. Pundhak punika panduk, urip wontĂȘn ing ‘alam dunya pados kawruh kaliyan woh kuldi, manawi angsal woh kuldi kathah, untungipun sugih daging, yen angsal woh kawruh kathah, kenging kangge sangu gĂȘsang, gĂȘsang langgĂȘng ingkang botĂȘn sagĂȘd pĂȘjah. TĂȘpak tĂȘgĂȘsipun tĂȘpa-tapanira. Walikat: walikane gĂȘsang. Ula-ula: ulatana, lalarĂȘn gĂȘgĂȘrmu sing nggligir. Sungsum tĂȘgĂȘsipun sungsungĂȘn. Lambung: waktu Dewa nyambung umur, alamipun jalma sambungan, lali eling urip mati. LĂȘmpeng kiwa tĂȘngĂȘn tĂȘgĂȘsipun tekadmu sing lĂȘmpĂȘng lair batin, purwa bĂȘnĂȘr lawan luput, bĂȘcik lawan ala. Mata tĂȘgĂȘsipun tingalana batin siji, sing bĂȘnĂȘr keblatira, keblat lor bĂȘnĂȘr siji. TĂȘngĂȘn tĂȘgĂȘsipun tĂȘngĂȘnĂȘn ingkang tĂȘrang, wontĂȘn ing dunya amung sadarmi ngangge raga, botĂȘn damĂȘl botĂȘn tumbas. Kiwa tĂȘgĂȘsipun: raga iki isi hawa kĂȘkajĂȘngan, botĂȘn wĂȘnang ngĂȘkahi pĂȘjah. MakatĂȘn punika ungĂȘling sĂȘrat. Manawi paduka maibĂȘn, sintĂȘn ingkang damĂȘl raga? SintĂȘn ingkang paring nama? inggih namung Latawalhujwa, manawi paduka maibĂȘn, paduka tĂȘtĂȘp kapir, kapiran seda paduka, botĂȘn pitados dhatĂȘng sĂȘratipun Gusti, sarta murtat dhatĂȘng lĂȘluhur Jawi sadaya, nempel tosan, kajĂȘng sela, dados dhĂȘmit tĂȘngga siti, manawi paduka botĂȘn sagĂȘd maos sastra ingkang wontĂȘn ing badanipun manusa, saseda paduka manjalma dhatĂȘng kuwuk, dene manawi sagĂȘd sagĂȘd maos sastra ingkang wontĂȘn ing raga wau, saking tiyang inggih dados tiyang, kasĂȘbut ing sĂȘrat Anbiya, KanjĂȘng Nabi Musa kala rumiyin tiyang ingkang pĂȘjah wontĂȘn ing kubur, lajĂȘng tangi malih, gĂȘsangipun gantos roh lapis enggal, gantos makam enggal. Manawi paduka ngrasuk agami Islam, tiyang Jawi tamtu lajĂȘng Islam sadaya. Manawi kula, wadhag alus-kula sampun kula-cakup lan kula-carub, sampun jumbuh dados satunggal, inggih nglĂȘbĂȘt inggih jawi, dados kantun sasĂȘdya-kula kemawon, ngadam utawi wujud sagĂȘd sami sanalika, manawi kula kĂȘpengin badhe wujud, inggih punika wujud-kula, sĂȘdya ngadam, inggih sagĂȘd ical sami sanalika, yen sĂȘdya maujud sagĂȘd katingal sanalika. Raga-kawula punika sipating Dewa, badan-kawula sakojur gadhah nama piyambak-piyambak. Cobi paduka-dumuk: pundi wujudipun Sabdapalon, sampun kalingan pajar, saking pajaripun ngantos sampun botĂȘn katingal wujudipun Sabdapalon, kantun asma nglimputi badan, botĂȘn ĂȘnem botĂȘn sĂȘpuh, botĂȘn pĂȘjah botĂȘn gĂȘsang, gĂȘsangipun nglimputi salĂȘbĂȘting pĂȘjahipun, dene pĂȘjahipun nglimputi salĂȘbĂȘting gĂȘsangipun, langgĂȘng salaminipun”. Sang Prabu ndangu: “Ana ing ngĂȘndi Pangeran Kang Sajati?” Sabdapalon matur: “BotĂȘn tĂȘbih botĂȘn cĂȘlak, paduka wayangipun wujud sipating suksma, dipunanggĂȘp sarira tunggal, budi hawa badan, tiga-tiga punika tumindakipun; botĂȘn pisah, nanging inggih botĂȘn kumpul. Paduka punika sampun Ratu linuhung tamtu botĂȘn badhe kĂȘkilapan dhatĂȘng atur-kula punika”. Sang Prabu ngandika maneh: “Apa kowe ora manut agama?” Sabdapalon ature sĂȘndhu: “Manut agami lami, dhatĂȘng agami enggal botĂȘn manut! Kenging punapa paduka gantos agami tĂȘka botĂȘn nantun kula, paduka punapa kĂȘkilapan dhatĂȘng nama kula Sabdapalon? Sabda tĂȘgĂȘsipun pamuwus, Palon: pikukuh kandhang. Naya tĂȘgĂȘsipun ulat, Genggong: langgĂȘng botĂȘn ewah. Dados wicantĂȘn-kula punika, kenging kangge pikĂȘkah ulat pasĂȘmoning tanah Jawi, langgĂȘng salaminipun.” Sang Prabu ngandika: “Kapriye iki, aku wis kĂȘbacut mlĂȘbu agama Islam, wis disĂȘkseni Sahid, aku ora kĂȘna bali agama Buddha maneh, aku wirang yen digĂȘguyu bumi langit.” Sabdapalon matur maneh: “Inggih sampun, lakar paduka-lampahi piyambak, kula botĂȘn tumut-tumut.” Sunan Kalijaga banjur matur marang Sang Prabu, kang surasane ora prĂȘlu manggalih kang akeh-akeh, amarga agama Islam iku mulya bangĂȘt, sarta matur yen arĂȘp nyipta banyu kang ana ing beji, prĂȘlu kanggo tandha yĂȘkti, kapriye mungguh ing gandane. Yen banyu dicipta bisa ngganda wangi, iku tandha yen Sang Prabu wis mantĂȘp marang agama Rasul, nanging yen gandane ora wangi, iku anandhakake: yen Sang Prabu isih panggalih Buddha. Sunan Kalijaga banjur nyipta, padha sanalika banyu sĂȘndhang banjur dadi wangi gandane, ing kono Sunan kalijaga matur marang Sang Prabu, kaya kang wis kathandha, yen Sang Prabu nyata wis mantĂȘp marang agama Rasul, amarga banyu sĂȘndhang gandane wangi. (11) Ature Sabdapalon marang Sang Prabu: Punika kasĂȘkten punapa? kasĂȘktening uyuh kula wingi sontĂȘn, dipunpamerakĂȘn dhatĂȘng kula. Manawi kula timbangana nama kapilare, mĂȘngsah uyuh-kula piyambak, ingkang kula rĂȘbat punika? Paduka sampun kĂȘlajĂȘng kĂȘlorob, karsa dados jawan, irib-iriban, rĂȘmĂȘn manut nunut-nunut, tanpa guna kula ĂȘmong, kula wirang dhatĂȘng bumi langit, wirang momong tiyang cabluk, kula badhe pados momongan ingkang mripat satunggal, botĂȘn rĂȘmĂȘn momong paduka. Manawi kula sumĂȘdya ngĂȘdalakĂȘn kaprawiran, toya kula-ĂȘntut sĂȘpisan kemawon, sampun dados wangi. Manawi paduka botĂȘn pitados, kang kasĂȘbut ing pikĂȘkah Jawi, nama Manik Maya, punika kula, ingkang jasa kawah wedang sanginggiling rĂȘdi rĂȘdi Mahmeru punika sadaya kula, adi Guru namung ngideni kemawon, ing wĂȘkdal samantĂȘn tanah Jawi sitinipun gonjang-ganjing, saking agĂȘnging latu ingkang wontĂȘn ing ngandhap siti, rĂȘdi-rĂȘdi sami kula ĂȘntuti, pucakipun lajĂȘng anjĂȘmblong, latunipun kathah ingkang mĂȘdal, mila tanah Jawi lajĂȘng botĂȘn goyang, mila rĂȘdi-rĂȘdi ingkang inggil pucakipun, sami mĂȘdal latunipun sarta lajĂȘng wontĂȘn kawahipun, isi wedang lan toya tawa, punika inggih kula ingkang damĂȘl, sadaya wau atas karsanipun Latawalhujwa, ingkang damĂȘl bumi lan langit. Punapa cacadipun agami Buddha, tiyang sagĂȘd matur piyambak dhatĂȘng Ingkang Maha Kuwasa. Paduka yĂȘktos, manawi sampun santun agami Islam, nilar agami Buddha, turun paduka tamtu apĂȘs, Jawi kantun jawan, Jawinipun ical, rĂȘmĂȘn nunut bangsa sanes. Benjing tamtu dipunprentah dening tiyang Jawi ingkang mangrĂȘti. Cobi paduka-yĂȘktosi, benjing: sasi murub botĂȘn tanggal, wiji bungkĂȘr botĂȘn thukul, dipuntampik dening Dewa, tinanĂȘma thukul mriyi, namung kangge tĂȘdha pĂȘksi, mriyi punika pantun kados kĂȘtos, amargi paduka ingkang lĂȘpat, rĂȘmĂȘn nĂȘmbah sela. Paduka-yĂȘktosi, benjing tanah Jawa ewah hawanipun, wĂȘwah bĂȘnter awis jawah, suda asilipun siti, kathah tiyang rĂȘmĂȘn dora, kĂȘndĂȘl tindak nistha tuwin rĂȘmĂȘn supata, jawah salah masa, damĂȘl bingungipun kanca tani. Wiwit dintĂȘn punika jawahipun sampun suda, amargi kukuminipun manusa anggenipun sami gantos agami. Benjing yen sampun mrĂȘtobat, sami engĂȘt dhatĂȘng agami Buddha malih, lan sami purun nĂȘdha woh kawruh, Dewa lajĂȘng paring pangapura, sagĂȘd wangsul kados jaman Buddha jawahipun”. Sang Prabu mirĂȘng ature Sabdapalon, ing batos rumaos kaduwung bangĂȘt dene ngrasuk agama Islam, nilar agama Buddha. Nganti suwe ora ngandika, wasana banjur ngandika, amratelakake yen ĂȘnggone mlĂȘbĂȘt agama Islam iku, amarga kĂȘpencut ature putri CĂȘmpa, kang ngaturake yen wong agama Islam iku, jarene besuk yen mati, antuk swarga kang ngungkuli swargane wong kapir. Sabdapalon matur, angaturake lĂȘpiyan, yen wiwit jaman kuna mula, yen wong lanang manut wong wadon, mĂȘsthi nĂȘmu sangsara, amarga wong wadon iku utamane kanggo wadhah, ora wĂȘnang miwiti karĂȘp, Sabdapalon akeh-akeh ĂȘnggone nutuh marang Sang Prabu. Sang Prabu ngandika: “Kok-tutuha iya tanpa gawe, amarga barang wis kĂȘbacut, saiki mung kowe kang tak-tari, kapriye kang dadi kĂȘkĂȘncĂȘnganing tekadmu? Yen aku mono ĂȘnggonku mlĂȘbu agama Islam, wis disĂȘkseni dening si Sahid, wis ora bisa bali mĂȘnyang Buddha mĂȘneh”. Sabdapalon matur yen arĂȘp misah, barĂȘng didangu lungane mĂȘnyang ngĂȘndi, ature ora lunga, nanging ora manggon ing kono, mung nĂȘtĂȘpi jĂȘnĂȘnge SĂȘmar, nglimputi salire wujud, anglela kalingan padhang. Sang Prabu diaturi ngyĂȘktosi, ing besuk yen ana wong Jawa ajĂȘnĂȘng tuwa, agĂȘgaman kawruh, iya iku sing diĂȘmong Sabdapalon, wong jawan arĂȘp diwulang wĂȘruha marang bĂȘnĂȘr luput. Sang Prabu karsane arĂȘp ngrangkul Sabdapalon lan Nayagenggong, nanging wong loro mau banjur musna. Sang Prabu ngungun sarta nĂȘnggak waspa, wusana banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Ing besuk nagara Blambangan salina jĂȘnĂȘng nagara Banyuwangi, dadiya tĂȘngĂȘr Sabdapalon ĂȘnggone bali marang tanah Jawa anggawa momongane. Dene samĂȘngko Sabdapalon isih nglimput aneng tanah sabrang”. Sunan Kalijaga banjur didhawuhi nĂȘngĂȘri banyu sĂȘndhang, yen gandane mari wangi, besuk wong Jawa padha ninggal agama Islam ganti agama Kawruh. Sunan Kalijaga banjur jasa bumbung loro kang siji diiseni banyu tawa, sijine diiseni banyu sĂȘndhang. Banyu sĂȘndhang mau kanggo tandha, yen gandane mari wangi, wong tanah Jawa padha salin agama kawruh. Bumbung sawise diiseni banyu, banjur disumpĂȘli godhong pandan-sili, sabanjure digawa sakabate loro. Sang Prabu Brawijaya banjur tindak didherekake Sunan Kalijaga lan sakabate loro, tindake kawĂȘngen ana ing dalan, nyare ana ing SumbĂȘrwaru, esuke bumbunge dibukak, banyune diambu isih wangi, nuli mbanjurake tindake, wayah surup srĂȘngenge, wis tĂȘkan ing Panarukan. Sang Prabu nyare ana ing kono, ing wayah esuk, banyu ing bumbu diganda isih wangi, Sang Prabu mbanjurake tindake. BarĂȘng wis wayah surup srĂȘngenge, tĂȘkan ing BĂȘsuki, Sang Prabu uga nyare ana ing kono, esuke banyu ing bumbung diganda mundhak wangine, Sang Prabu banjur nĂȘrusake tindake nganti wayah surup srĂȘngenge, tĂȘkan ing Prabalingga, ana ing kono uga nyare sawĂȘngi, esuke banyune ditiliki, banyune tawa isih enak, nanging munthuk, unthuke gandane arum, nanging mung kari sathithik, amarga kĂȘrĂȘp diunjuk ana ing dalan, dene banyune sĂȘndhang barĂȘng ditiliki gandane dadi bangĂȘr, tumuli dibuwang. Sang Prabu banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Prabalingga ing besuk jĂȘnĂȘnge loro, Prabalingga karo BangĂȘrwarih 12 ing kene besuk dadi panggonan kanggo pakumpulane wong-wong kang padha ngudi kawruh kapintĂȘran lan kabatinan, Prabalingga tĂȘgĂȘse prabawane wong Jawa kalingan prabawane tangga”. Sang Prabu mbanjurake tindake, ing pitung dinane, wis tĂȘkan ing Ampelgadhing. Nyai AgĂȘng Ampelgadhing tumuli mĂȘthukake banjur ngabĂȘkti marang Sang Prabu karo muwun, sarta akeh-akeh sĂȘsambate. Sang Prabu banjur ngandika: “Wis aja nangis ĂȘngger, mupusa yen kabeh mau wis dadi karsane Kang Maha Kuwasa, kudu mangkene. Aku lan kowe mung sadarma nglakoni, kabeh lĂȘlakon wis ditulis aneng lokhilmakful. BĂȘgja cilaka ora kĂȘna disinggahi, nanging wajibe wong urip kudu kĂȘpengin mĂȘnyang ilmu”. Nyai AgĂȘng Ampel banjur matur marang Sang Prabu, ngaturake patrape ingkang wayah Prabu Jimbun, kaya kang wis kasĂȘbut ing ngarĂȘp. Sang Prabu banjur dhawuh nimbali Prabu Jimbun. Nyai Ampel nuli utusan mĂȘnyang DĂȘmak nggawa layang, satĂȘkane ing DĂȘmak, layang wis katur marang Sang Prabu Jimbun, ora antara suwe Prabu Jimbun budhal sowan mĂȘnyang Ampel. Kacarita putra Nata ing Majapahit, kang aran Raden Bondhankajawan ing Tarub, mirĂȘng pawarta yen nagara Majapahit dibĂȘdhah Adipati DĂȘmak, malah Sang Prabu lolos saka jroning pura, ora karuhan mĂȘnyang ngĂȘndi tindake, rumasa ora kapenak panggalihe, banjur tindak marang Majapahit, tindake Raden Bondhankajawan namur kula, nungsung warta ing ngĂȘndi dununge ingkang rama, satĂȘkane Surabaya, mirĂȘng warta yen ingkang rama Sang Prabu tĂȘdhak ing Ampel, nanging banjur gĂȘrah, Raden Bondhankajawan nuli sowan ngabĂȘkti. Sang Prabu ndangu: “Sing ngabĂȘkti iki sapa?” Raden Bondhankajawan matur yen panjĂȘnĂȘngane kang ngabĂȘkti. Sang Prabu banjur ngrangkul ingkang putra, gĂȘrahe Sang Prabu sangsaya mbatĂȘk, ngrumaosi yen wis arĂȘp kondur marang jaman kalanggĂȘngan, pangandikane marang Sunan Kalijaga mangkene: Sahid, nyĂȘdhaka mrene, aku wis arĂȘp mulih marang jaman kalanggĂȘngan, kowe gaweya layang mĂȘnyang PĂȘngging lan Pranaraga, mĂȘngko tak-wenehane tandha asta, wis padha narima rusake MajalĂȘngka, aja padha ngrĂȘbut kapraboningsun, kabeh mau wis karsane Kang Maha Suci, aja padha pĂȘrang, mundhak gawe rudahing jagad, balik padha ngemana rusaking wadya-bala, sebaa marang DĂȘmak, sapungkurku sing padha rukun, sapa sing miwiti ala, tak-suwun marang Kang maha Kuwasa, yudane apĂȘsa.” Sunan Kalijaga banjur nyĂȘrat, sawise rampung banjur ditapak-astani dening sang Prabu, sabanjure diparingake marang PĂȘngging lan Pranaraga. Sang Prabu banjur ngandika: “Sahid, sapungkurku kowe sing bisa momong marang anak putuku, aku titip bocah iki, saturun-turune ĂȘmongĂȘn, manawa ana bĂȘgjane, besuk bocah iki kang bisa nurunake lajĂȘre tanah Jawa, lan maneh wĂȘkasku marang kowe, yen aku wis kondur marang jaman kalanggĂȘngan, sarekna ing Majapahit sa-lor-wetane sagaran, dene pasareyaningsun bakal sun-paringi jĂȘnĂȘng Sastrawulan, lan suwurna kang sumare ana ing kono yayi Raja Putri CĂȘmpa, lan maneh wĂȘlingku, besuk anak-putuku aja nganti entuk liya bangsa, aja gawe senapati pĂȘrang wong kang seje bangsa.” Sunan Kalijaga sawise dipangandikani banjur matur: “Punapa Sang Prabu botĂȘn paring idi dhatĂȘng ingkang putra Prabu Jimbun jumĂȘnĂȘngipun Nata wontĂȘn ing tanah Jawi?” Sang Prabu ngandika: “Sun-paringi idi, nanging mung mandhĂȘg tĂȘlung turunan.” Sunan kalijaga nyuwun sumurup mungguh tĂȘgĂȘse araning bakal pasareyane Sang Prabu. Sang Prabu ngandika: “Sastra tĂȘgĂȘse tulis, Wulan tĂȘgĂȘse damaring jagad, tulise kuburku mung kaya gĂȘbyaring wulan, yen isih ana gĂȘbyaring wulan, ing tĂȘmbe buri, wong Jawa padha wĂȘruh yen sedaku wis ngrasuk agama Islam, mula tak-suwurake Putri CĂȘmpa, amarga aku wis diwadonake si Patah, sarta wis ora dianggĂȘp priya, nganti kaya mangkene siya-siyane marang aku, mulane ĂȘnggonku mangĂȘni madĂȘge Ratu mung tĂȘlung turunan, amarga si Patah iku wiji tĂȘlu, Jawa, Cina lan raksasa, mula kolu marang bapa sarta rusuh tindake, mula wĂȘkasku, anak-putuku aja entuk seje bangsa, amarga sajroning sihsinihan di seje bangsa mau nganggo ngobahake agamane, bisaa ngapĂȘsake urip, mula aku paring piwĂȘling aja gawe senapati pĂȘrang wong kang seje jinis, mundhak ngenthengake Gustine, ing sajroning mangun yuda, banjur mangro tingal, wis Sahid, kabeh pitungkasku, tulisĂȘn.” Sang Prabu sawise paring pangandika mangkono, astane banjur sidhakĂȘp, tĂȘrus seda, layone banjur disarekake ana ing astana Sastrawulan ing Majapahit, katĂȘlah nganti saprene kocape kang sumare ana ing kono iku Sang Putri CĂȘmpa, dene mungguh satĂȘmĂȘne Putri CĂȘmpa iku sedane ana ing Tuban, dununing pasareyan ana ing Karang Kumuning. BarĂȘng wis tĂȘlung dina saka sedane Sang Prabu Brawijaya, kacarita Sultan Bintara lagi rawuh ing Ampelgadhing sarta kapanggih Nyai AgĂȘng.